Ketika Khilafah Dipertanyakan

Ketika Khilafah Dipertanyakan

Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan menyampaikan rasa ingin tahunya tentang Khilafah itu saat sambutan acara Internalisasi dan Pembumian Pancasila, di Istana Negara hari Selasa 3 Desember lalu (msn.com, 03/12/2019).

Oleh : Raihanatur Radhwa (Ibu Rumah Tangga)

WWW.POJOKOPINI.COM — “Bagi mereka yang sangat berkeinginan untuk mendirikan yang namanya Khilafah, boleh ke DPR. Kami akan dengarkan itu. Opo toh karepe?”
“Kalau saya baca-baca soal Khilafah itu adalah sebuah, seperti nation tanpa border. Lalu bagaimana ya memilih khalifahnya? Khalifahnya lalu dari mana?”

Kalimat-kalimat di atas adalah rentetan pertanyaan yang diujar oleh Presiden RI kelima, Megawati Soekarnoputri. Siapa yang tak kenal nama ini di Republik Indonesia. Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan menyampaikan rasa ingin tahunya tentang Khilafah itu saat sambutan acara Internalisasi dan Pembumian Pancasila, di Istana Negara hari Selasa 3 Desember lalu (msn.com, 03/12/2019).

Kita jadi mlongo. Dengan banyaknya gembar-gembor peyorasi Khilafah ternyata tokoh bangsa pentolan partai nomor satu di Indonesia ini belum ngeh dengan Khilafah. Anehnya, kader-kadernya dengan jumawa telah merendahkan ajaran Islam ini. Mereka yang punya kekuasaan bahkan mengeluarkan perpu ormas yang memukul pengusung Khilafah. Ide Khilafah ini dianggap membahayakan dan bertentangan dengan Pancasila.

Aneh lagi. Perpu itu telah disetujui DPR yang notabene juga mayoritas berasal dari partai Mega. Hizbut Tahrir Indonesia sebagai kelompok yang dituding merusak negara juga telah memberi aspirasi tentang Khilafah di hadapan anggota DPR. Videonya pun beredar di jagat sosmed. Ada apa sebenarnya? Apakah kader-kader partai banteng tak ada koordinasi dengan Mega sebagai Ketua Umum PDIP? Apakah mereka bergerak seruduk ajaran Islam karena lepas tali kekangnya dari Mega? Lalu beresonansi dengan pegiat sekulerisme karena kesamaan frekuansi ide liberalnya.

Ataukah ada udang di balik rempeyek? Ada maksud tersembunyi mengambil hati. Karena melihat kekuatan aktivis Khilafah harus diperhitungkan. Opini dan argumentasi kelompok berasas tuntunan ilahi tak mudah dipatahkan. Apalagi oleh pemikiran-pemikiran yang lahir dari manusia biasa sekalipun filosof yang dirujuk oleh seluruh dunia. Landasan berpikir pengusung Khilafah logis, masuk akal, berpihak pada rakyat, dan yang utama menyentuh tataran ruhiyah.

Tapi bila mengambil hati untuk menabung peluang kekuasaan praktis periode mendatang, dipastikan akan gigit jari. Partai pengusung khilafah akan meniti jalan sebagaimana Rasul meraih kekuasaan. Saat Rasulullah thalabun nushroh (mencari pertolongan) untuk menegakkan negara yang menerapkan tuntunan wahyu ke 40 bani yang ada di sekitar Mekkah, Bani Amr bin Sha’sha’ah adalah salah satunya. Yang mereka katakan kepada Rasul adalah “Bagaimana pandanganmu jika kami membai’atmu atas urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang menyelisihimu, apakah kekuasaan sesudahmu menjadi milik kami?” Rasulullah Muhammad dengan gamblang berkata “Kekuasaan ada pada Allah. Dia akan menyerahkan kepada siapa yang dikehendakinya.” Begitulah Rasulullah menolak semua kepentingan yang membonceng dalam perjuangan menegakkan negara Islam.

Ataukah Mega telah mengalami titik balik transendental dalam hidupnya. Titik yang menghadirkan suasana akhirat di hadapan matanya. Hingga ia merasa perlu tahu tentang khilafah sebagai ajaran Tuhannya. Siapa tahu.

Semua tanya dalam benak akan terjawab saat Mega bertatap muka dengan aktivis Khilafah. Mereka yang ikhlas pasti dengan senang hati mengenalkan Khilafah pada Mega sebagaimana Mushab mengenalkan Islam pada Saadz bin Muadz dan Usaid bin Hudair, tokoh ternama kabilah-kabilah di Yatsrib. Aktivis Khilafah akan mengenalkan bentuk negara yang berdaulat, akuntabel, dan transparan ini. Mereka akan menjelaskan fungsi Khilafah untuk menerapkan Islam di dalam negeri dan mendakwahkan Islam ke luar negeri. Bagaimana sistem yang dibangun Khilafah untuk menyejahterakan, mencerdaskan, dan memuliakan anak negeri seperti cita-cita Pancasila yang digaungkan selama ini.

Setelah itu terjadi, pilihan ada di tangan Mega. Memilih menjadi sosok Ummu Athiyah atau Hindun masa kini. Ummu Athiyah yang dengan terbuka menerima Islam dan turut membaiat Nabi. Menyambut dengan tangan terbuka pada kemerdekaan hakiki. Mengganti pengabdian pada kelompok, organisasi, maupun kebangsaan pada penghambaan hanya di hadapan ilahi. Bersedia berkorban melindungi Nabi sang kepala negara melebihi anak sendiri.

Pilihan kedua mengikuti jejak Hindun. Penjagal Hamzah musuh Nabi di perang Badar. Menutup mata karena dendam dan benci. Tapi Hindun takluk raga dan hatinya saat Fathul Makkah. Melihat keagungan Islam yang datang bak cahaya. Tak harap Mega lebih buruk dari Hindun. Meski agak terlambat, kebenaran Islam yang sesuai fitrah direngkuhnya juga. Semoga.[]

_________________________________________Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *