Ketika Tayangan Kaya Edukasi tak Diapresiasi

Tayangan yang bernuansa Islami seperti ini tak selalu bernasib baik di negeri ini. Tatanan kehidupan yang saat ini jauh dari pengaturan Islam tak mampu tumbuhsuburkan animasi yang mencerdaskan dengan Islam.


Oleh: Jumratul Sakdiah, S.Pd

POJOKOPINI.COM — Saat ini, di era krisis tayangan yang mengedukasi. Muncul kekhawatiran keluarga Muslim bagi pendidikan yang berkualitas bagi anak-anaknya. Kehadiran salah satu film kartun yang bernuansa Islami yang bernilai tinggi seakan menjawab segala persoalan ini. Sebut saja kartun anak-anak, Nussa dan Rara. Miniatur anak saleh yang mengajarkan keseharian Muslim yang diajarkan dalam Islam. Menampilkan keindahan Islam yang mengatur sedemikian rupa kehidupan manusia sampai pada hal kecil sekalipun. Bahkan dari film ini tersirat makna bahwa Islam dengan aturannya yang sangat sempurna untuk hal yang kerdil saja diatur apalagi hal yang besar termasuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Siapa yang menyangka, animasi ini mulai berhenti penayangannya disebabkan karena terdampak pandemi virus Corona dan beberapa anggapan miring berupa difitnah radikal dan intoleran. Akibat Pandemi, Nussa Official telah banyak memberhentikan karyawan dan sempat pindah kantor. Tapi pada akhirnya, animasi Nussa sudah berhenti tayang ditandai dengan penayangan terakhir pada Jumat, 1 Januari 2021. Walau sudah beberapa kali jatuh dan bangun lagi, namun mungkin ini jalan yang terbaik. Hal ini diungkapkan Ustadz Felix Siauw dalam tulisan di jejaring sosial miliknya (suara.com, 04/01/2021).

Tayangan yang bernuansa Islami seperti ini tak selalu bernasib baik di negeri ini. Tatanan kehidupan yang saat ini jauh dari pengaturan Islam tak mampu tumbuhsuburkan animasi yang mencerdaskan dengan Islam. Ditambah dengan narasi radikalisme yang selalu diidentikkan dengan Islam seolah jadi musuh negara ini. Sehingga berulang kali upaya deradikslisasi terus digencarkan.

Dilansir dari merdeka.com tertanggal 6 Januari 2021, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan akan bahaya penyebaran paham radikalisme konten propaganda. “Mulai dari hulu hingga hilir, peningkatan kewaspadaan ini terus dilakukan karena hingga kini masih meningkat narasi kebencian dengan konten propaganda yang tersebar di media sosial maupun kegiatan offline yang dinilai dapat memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Boy Rafli dalam keterangannya, Selasa (5/1).

Amat disayangkan, era teknologi saat ini, harusnya negara memanfaatkan kemudahannya untuk memfasilitasi generasi negeri dengan konten yang mendidik bukan yang merusak. Negara berikan jaminan bagi tersedianya film yang mengedukasi dan mencerdaskan anak negeri. Tapi yang terjadi saat ini, sistem sekuler seolah mengebiri syariah Islam dan membiarkan konten tak mendidik berseliweran di media sosial dan bebas dikonsumsi oleh semua kalangan.

Padahal pengajaran Islam kaffah telah terbukti hasilkan generasi yang berkualitas, cerdas dan berkarakter Islami. Jauh dari penyimpangan dan perilaku buruk yang berdampak kepada kerusakan moral dan akal sehat manusia.

Islam kaffah adalah solusi bagi keluarga dan negara. Di mana dalam Islam, negara berperan penting menciptakan suasana iman melalui media dan pendidikan yang bermutu tinggi. Bahkan negara akan memfasilitasi tayangan yang mendidik serta menghapus konten yang tak layak dipertontonkan, sehingga dengan ini, negara akan melahirkan secara masal generasi penerus yang mampu membangun peradaban gemilang nan bersahaja.

Maka, di tengah hiruk pikuk deradikslisasi, keluarga muslim semestinya tak membiarkan Islam ditinggalkan namun harus menjadi jembatan bagi pengenalan terhadap Islam kaffah dan implementasi syariah dalam lingkup keluarga, masyarakat hingga bangsa. Serta menegaskan di tengah problematika yang menimpa bangsa ini harusnya menjadikan Islam kaffah sebagai solusi bukan ditinggalkan apalagi ditakuti.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *