Khilafah Menumbuhkan Passion Kreativitas

Hak paten sebuah karya dalam kapitalisme justru menjebak pembuat dan penikmat karya dalam arus materialistik, bukan tujuan menebar kebaikan. Tersebarnya kebaikan ilmu dan ide kreatif berbanding lurus dengan uang dan uang dari izin dan royalti.


Oleh: Rengganis Santika A, STP

POJOKOPINI.COM — Dunia mengakui kecemerlangan Peradaban Islam, para sejarawan dunia sebut saja Will Durant dalam buku masterpiece-nya “The story of civilization” mengakui bahwa eksistensi negara khilafah mencapai kegemilangan yang melampaui Eropa. Demikian pula Philip K Hitty. Kekuatan pemikiran kaum muslimin, daya kreatif yang luar biasa dan didukung lingkungan kondusif dari institusi kuat khilafah sehingga mampu menempatkan khilafah menjadi negara terdepan di dunia dalam cipta karya yang bermanfaat bagi peradaban umat manusia.

Tak ada peradaban Islam tanpa khilafah.Salah satu kunci kecemerlangan peradaban Islam adalah tingginya kekayaan intelektual dan daya kreatifitas kaum muslimin saat itu. Semua ini karena the power of “why” kaum muslimin yang kuat, passion spiritual yang berlandaskan aqidah Islam dan syariat yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an dan sunnah.

Penghargaan Islam yang tinggi bagi ilmu, para ahli ilmu, dan pembelajar direalisasikan dengan dukungan penuh institusi negara adidaya khilafah, sehingga menciptakan ekosistem intelektual dan daya kreatifitas yang tinggi. Landasan keimanan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat hukum-hukum Islam, memantik energi menciptakan ide kreatif penemuan. Seperti di bidang astronomi, kedokteran, optik, fisika, kimia, geografi, matematika, seni arsitektur, dll. Bahkan Al khawarizmi menemukan prinsip Aljabar guna menyempurnakan perhitungan waris agar akurat.

Semangat kreatifitas ini tidak didorong passion materi atau uang tapi karena spirit memberi manfaat keumatan, sesuai sabda nabi, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang memberi manfaat bagi manusia”. Demikian pula hadist tentang menuntut ilmu sampai ke negri China, yang menunjukkan dorongan Islam dalam melakukan riset teknologi dan seni. Kaum muslimin menyerap ilmu pembuatan kertas dari China.

Terbukti Islam di masa Khalifah Utsman bin Affan mengembangkan industri kertas, bahkan dimasa itulah ide qur’an pertama kali dicetak dan diperbanyak. Kemudian banyak ide kreatif kaum muslim hasil dari mempelajari ilmu dari banyak sumber yang tidak dibatasi apakah dari muslim atau non muslim, sebab ilmu pengetahuan dalam pandangan islam bersifat universal. Hal Ini menegaskan keluasan dan keluwesan membangun ide kreatif dalam Islam, selama masih ada dalam track koridor aqidah dan syariah Islam.

Lihat saja “abadi” nya sisa peradaban islam beratus tahun yang lalu. Sampai saat ini Mahakarya tersebut tetap memberi manfaat bagi manusia. Seperti bangunan, bendungan, dan tulisan-tulisan yang merupakan kekayaan pemikiran, intelektual masih tetap dipakai. Bahkan menurut Syekh Taqiyyudin An Nabhani bahwa kekayaan sebuah bangsa yang paling berharga adalah pemikiran bukan sumber daya alam.

Austin Kleon yang menulis “keep going” mengatakan bahwa ketika passion kreativitas sudah berubah orientasi menjadi keuntungan atau profit yaitu menjadi mata pencaharian bahkan profesi, maka saat itulah kreativitas berada dalam teritori berbahaya, sebab dapat menciptakan standar karya yang berbeda. Bahkan tak ada ruang untuk passion diri sendiri.

Hak paten sebuah karya dalam kapitalisme justru menjebak pembuat dan penikmat karya dalam arus materialistik, bukan tujuan menebar kebaikan. Tersebarnya kebaikan ilmu dan ide kreatif berbanding lurus dengan uang dan uang dari izin dan royalti.

Realitas sebuah karya atau ide kreatif dalam Kapitalisme telah memenjarakan semangat berkarya dalam belenggu materi. Kehebatan karya dinilai dengan angka dan nominal uang. Standar nilai kreativitas lagi-lagi diukur dari materi dan kepuasan syahwat. Jangan heran banyak karya iptek, seni, ekonomi kreatif dalam paradigma sekuler yang menabrak rambu syariat dan hanya sekadar untuk kepuasan nafsu syahwat, tanpa manfaat yang berarti. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *