Kita Dipecah-belah Jejak Penjajah

Kita Dipecah-belah Jejak Penjajah

Sekularisme telah memporakporandakan dunia dalam kepentingannya. Nafsu menjajah, mengeksploitasi dunia demi nafsu syahwatnya. Semua akan tetap dalam genggaman penjajah, kala kaum muslimin mengikuti sekat-sekat yang dibuatnya.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — 17 Agustus kemarin kita memperingati 75 tahun kemerdekaan. Berarti sudah 75 tahun tak ada lagi moncong senjata tentara penjajah di negeri kita. Begitulah penampakan yang kita lihat secara kasat mata. Pertanyaannya, benarkah kita sudah merdeka?

Upacara bendera dan berbagai perayaan kegembiraan digelar dalam pekik merdeka. Walau tak semeriah biasanya karena sedang dilanda Covid-19. Nah, di antara pekik merdeka itu penting untuk kita renungkan. Benarkah kita sudah merdeka? Merdeka dari apa?

Merdeka artinya adalah bebas menentukan sikap dan nasib sendiri. Bebas menentukan pilihan. Benarkah kita bebas bersikap? Bebas menentukan pilihan?

Sebagai sebuah negara realitasnya kita tak sedang dalam keadaan memiliki kebebasan itu. Kebebasan untuk menghamba hanya kepada al Khaliq saja. Bukan menghamba pada manusia. Kebijakan kita seringkali tersandera kepentingan negara lain (baca penjajah). Aturan yang dibuat lebih menguntungkan korporasi, asong, aseng dan asing (penjajah).

Memang setelah khilafah diruntuhkan oleh Mustafa Kemal at-Taturk, seorang Yahudi maka negeri-negeri Muslim terpecah belah menjadi banyak negara. Kekuasaan daulah Islam yang semula memang sudah kurus akibat banyak yang melepaskan diri kian tercerai berai bagai anak ayam kehilangan induknya.

Dengan diruntuhkannya daulah Islam, 3 Maret 1924 oleh Mustofa Kemal at-Taturk maka Inggris dan Perancis leluasa membelah dan membagi negeri-negeri Muslim. Mereka berupaya menjaga agar negeri-negera Muslim tetap terpecah belah secara permanen. Para penjajah menanamkan dan menumbuhkan pemikiran nasionalisme. Nasionalisme menjadi ruh yang mereka tiupkan dalam ‘nation state‘ ciptaanya.

Negara-negara kecil ciptaan penjajah ini sangat lemah dan tercerai berai tak memiliki kekuatan. Sehingga memudahkan mereka mencaplok satu demi satu. Ibarat makan kue, mudah dimasukkan mulut jika telah dipotong-potong kecil. Inilah strategi jitu negara penjajah setelah ratusan tahun bahkan sejak ‘junnah‘ itu ada. Mereka berusaha melemahkan daulah Islam. Upaya gigih kafir penjajah menceraiberaikan kesatuan umat Islam yang semula mereka anggap ilusi ternyata berhasil mereka raih. Kuncinya adalah mereka sabar dan konsisten menggempur kesatuan umat.

Walaupun awalnya mereka merasa sulit dan mustahil dilakukan, karena pilar daulah Islam sangat kokoh mustahil dilemahkan. Namun ternyata upaya gigih yang mereka lakukan ratusan tahun turun temurun dari generasi ke generasi, menuai hasil. Begitulah kebatilan yang tersusun rapi dapat mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir dengan kuat. Seiring melemahnya pemikiran kaum muslimin akibat racun pemikiran yang disusupkan penjajah.

Bahkan yang terjadi tak sekadar melamahkan tetapi mereka berhasil membunuh ibu kandung kaum muslimin. Dan dengan pedang yang masih berlumuran darah ibu kandung kaum muslimin mereka berkata dengan pongah. “Ibu kandungmu tak becus mengurusmu! Sekarang kalian ada dalam asuhanku“. Begitulah sejak saat itu ideologi Islam dibuang dan diganti ideologi sekularisme atas kaum kaum muslimin. Jadilah kegelapan meliputi bumi karena dipimpin dan diterapkan qiyadah fikriyah ( kepemimpinan berpikir) sekularisme yang rusak dan merusak. Karena ideologi hasil pemikiran manusia ini batil dan melahirkan peraturan hidup yang batil.

Sejak saat itu kaum muslimin tercerai berai, terpisah dari saudaranya. Bagai anak ayam kehilangan induknya. Tak tahu harus bagaimana. Uluran tangan pembunuh khilafah yang masih berlumuran darahpun disambutnya. Dan itu adalah realitas kita. Umatan wahidah, umat yang memiliki predikat khairu ummah (umat terbaik) sebagaimana QS Al Imran : 110. Kini terpecah belah oleh penjajah. Uluran tangan penjajah diikuti karena tak lagi punya ‘junnah‘ ( perisai), khilafah.

Begitulah sekat-sekat nasionalisme menggeser ikatan kokoh akidah Islam. Ikatan yang selama ini menyatukan. Perasaan, pemikiran, aturan dan naungan yang satu.

Dalam nation state, kaum muslimin tak dapat lagi saling membantu. Pembantaian sadis di Rohingya, Uighur, India, genosida Muslim di Palestina dan masih banyak lainnya. Kita tak dapat berbuat apa-apa. Para penguasa boneka diam membisu seribu bahasa. Hanya sayup-sayup terdengar kala ada kepentingan buka suara.

Demikianlah, ideologi sekularisme telah memporakporandakan dunia dalam kepentingannya. Nafsu menjajah, mengeksploitasi dunia demi nafsu syahwatnya. Semua akan tetap dalam genggaman penjajah, kala kaum muslimin mengikuti sekat-sekat yang dibuatnya. Sekat-sekat nasionalisme yang dibuatnya sebagai penjaga. Yang lahir dari ideologinya. Muslim akan kembali bersatu hanya dan hanya jika meninggalkan semua sekat-sekat ini. Semoga dakwah menyeru pada Islam kaffah kian menyatukan umat, dalam naungan khilafah. Aamiin.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *