Komunisme Ancaman, tapi Kapitalisme Bahaya yang Nyata

Komunisme Ancaman, tapi Kapitalisme Bahaya yang Nyata

Momentum bersatunya umat Islam menolak ideologi komunisme harus segaris dengan ghirah-nya dalam menyadari bahaya sistem kapitalisme. Umat ini harus menyadari bahwa tak ada kebangkitan dari jalan selain yang dicontohkan Nabiyullah Muhammad Saw, mustahil umat Islam sejahtera dan terjaga dari segala yang membahayakannya jika umat ini masih menggantung harap pada sistem selain Islam.


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM — Kisruh penolakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) meluas ke berbagai wilayah di Indonesia. Berbagai kalangan tokoh maupun ormas Islam bersuara di media kompak memprotes  RUU yang disinyalir memicu degradasi pancasila dan diduga disusupi paham komunisme karena tak mencantumkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Larangan Ajaran Komunisme atau Marxisme-Leninisme (CNN Indonesia, 16/6/2020).

Penolakan semakin menguat saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan maklumat pada 12 Juni 2020. Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi menegaskan, bila maklumat ini diabaikan oleh pemerintah maka Pimpinan MUI Pusat dan segenap Pimpinan MUI Provinsi se-Indonesia mengimbau umat Islam Indonesia agar bangkit bersatu dengan segenap upaya konstitusional untuk menjadi garda terdepan dalam menolak paham komunisme dan berbagai upaya licik yang dilakukannya (Vivanews.com, 13/6/2020).

Meski dunia termasuk Indonesia masih babak belur dihantam pandemi Covid-19, agaknya tak menyurutkan keinginan untuk membahas perkara-perkara yang tak berkorelasi langsung dengan hal mendesak itu. Kita semua tentu bertanya-tanya, ada apa di balik RUU ini? Kenapa seolah pandemi yang menyapu negeri ini tak membuat kita semua berpikir untuk fokus menyelamatkan anak bangsa dari bahaya yang nampak, malah para wakil rakyat justru membahas hal-hal yang tak berkaitan langsung dengan penyelamatan masyarakat dari ancaman kesehatan dan ekonomi yang hari ini menimpanya.

Terlepas dari perdebatan RUU HIP, kita menyaksikan kalangan umat Islam di Indonesia sudah satu suara untuk menolak paham komunisme. Hal ini bukan tanpa sebab, kaum komunis radikal di masa lalu pernah membuat trauma mendalam yang tak pernah dalam benak para ulama dan umat Islam. Kita menyaksikan seluruh elemen umat kompak menyingkirkan perbedaan demi tujuan menjegal bahaya bangkitnya komunisme di negeri ini.

Namun agaknya kita hari ini luput dengan bahaya laten ideologi penjajah lainnya yang hari ini mencengkeram leher kita. Ideologi ini menjadikan riba mewabah, liberalisme di berbagai sektor seperti ekonomi, pergaulan generasi dan berkehidupan merasuk seperti setan yang siap merekonstruksi identitas Islam dari benak umat Islam. Kita pun juga harus pahami bahwa bayang-bayang bahaya komunisme dipersilakan terus menghantui melalui penerapan sekularisme yang menjadi landasan (qaidah fikriyyah) dari ideologi berbahaya ini. Ideologi kapitalisme namanya.

Sistem kapitalisme yang hari ini berkuasa melegitimasi syahwat sebagai pengatur urusan manusia, menggeser posisi Asy-Syari’ sebagai satu-satunya yang berhak membuat hukum. Kapitalisme juga yang menjadikan hari ini umat Islam tak percaya diri untuk berdiri memandang ke depan dengan bisyarah janji kemenangan Islam. Umat Islam dijauhkan dari karakter berpikir dan bersikap secemerlang Islam membentuknya.

Terlihat gamblang kemerosotan di berbagai lini kehidupan. Umat Islam tertinggal di belakang, terjajah di berbagai wilayah, terusir dan terlunta-lunta mencari suaka di belahan bumi yang hari ini dikuasai sistem kapitalisme. Tak ada ruang. Kita menyaksikan bagaimana penjajahan dilanggengkan dalam sistem jahat ini. Penjarahan sumber daya alam di berbagai tanah kaum Muslimin, segaris dengan penistaan terhadap Islam yang berulang tak terbendung.

Momentum bersatunya umat Islam menolak ideologi komunisme harus segaris dengan ghirah-nya dalam menyadari bahaya sistem kapitalisme. Umat ini harus menyadari bahwa tak ada kebangkitan dari jalan selain yang dicontohkan Nabiyullah Muhammad Saw, mustahil umat Islam sejahtera dan terjaga dari segala yang membahayakannya jika umat ini masih menggantung harap pada sistem selain Islam.

Jalan kebangkitan umat hanya satu, dan yang selain dari jalan yang khas itu takkan membawanya kepada tujuan akhir kesejahteraan dan kejayaan naungan Islam. Selama para tokoh umat Islam masih terlena dalam tipuan demi tipuan yang ditawarkan oleh sistem kapitalisme sekuler, selama itu pula umat ini akan semakin jauh dari kebangkitan hakikinya. Itulah kenapa seluruh elemen umat harus satu suara menolak ideologi batil, di waktu yang sama menjelaskan kepada umat bahaya dari ideologi kapitalisme dan komunisme itu. Mengarahkan umat kepada jalan kebangkitan yang benar, hidup dalam naungan sistem Islam, Khilafah.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *