Korean Wave Inspirasi Positif?

Korean Wave Inspirasi Positif?

Bukankah berbahaya jika generasi negeri ini terinspirasi untuk melakukan perbuatan tersebut? Apalagi Korea Selatan juga merupakan negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Jadi sangat aneh jika ada yang menjadikan korean wave sebagai panutan atau sumber inspirasi.


Oleh: Amaliyah Krizna Waty (Penulis Buku Antologi Risalah Hijrah Cinta, Aktivis Intelektual Muslimah Aceh)

POJOKOPINI.COM — Pernyataan kontroversial tak pernah usai datang dari penguasa. Akhir-akhir ini mereka mulai ‘menyentuh’ kalangan Millenials. Jika sebelumnya Kemenag turut ‘meramaikan’ tren good looking dengan narasinya. Kini wapres mendukung para Millenials menjadi k-popers. Menurutnya dengan menggandrungi korean waves, anak muda negeri akan mendapat inspirasi.

Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri,” ungkapnya dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia (tirto.id, 20/9/2020).

Semua budaya Korea yang terkenal seperti musik, drama, serial TV, dll biasa disebut dengan Korean wave/hallyu. Korean wave memang tengah menjerat generasi muda di berbagai belahan dunia, mulai dari negara hollywood Amerika Serikat, diikuti oleh Filipina, Brazil, Malaysia, Jepang, Meksiko, Argentina, termasuk Indonesia. Pemuda negeri ini turut aktif dalam mengikuti semua hal yang diluncurkan oleh industri hiburan Korea Selatan. Apakah itu drama, musik, dance, bahkan makanan, pakaian dan kosmetik. Mereka begitu terbius dengan apapun yang muncul dari negeri gingseng tersebut.

Tak tanggung-tanggung, pada Januari 2020 Indonesia berada pada posisi ketiga yang paling banyak tweet tentang kpop (kompas.com, 14/01/2020). Satu bulan kemudian Indonesia naik ‘peringkat’ ke posisi kedua negara terbanyak yang memutar lagu kpop (hot.detik.com, 25/02/2020).

Hype-nya Korea Selatan dalam industri hiburan bukanlah sesuatu yang kebetulan. Akan tetapi itu sudah menjadi program pemerintahan Korea sejak 1990. Sejak saat itu Presiden Korea menjadikan industri budaya menjadi industri yang sangat diprioritaskan dengan mengucurkan dana fantastis. Setelah program itu diluncurkan beberapa tahun kemudian hingga saat ini hiburan yang mereka produksi benar-benar menjadi pusat perhatian.

Lalu setelah generasi muda negeri ini tenggelam dalam korean wave, apa yang mereka dapatkan? Atau apa saja yang mereka lakukan? Para pecinta k-pop (k-popers) yang begitu fanatik rela mengeluarkan uang jor-joran demi idolanya. Mereka membeli merchandise grup para idol seperti lightstick, album, miniatur boneka anggota grup, dll. Mereka juga tak merasa rugi jika harus mengeluarkan kocek fantantis untuk membeli tiket konser oppa. Hal ini terbukti dengan mulai menjamurnya jasa titip untuk pembelian merchandise tersebut juga jasa travel yang menyediakan paket-paket perjalanan untuk menyaksikan konser musik k-pop (tirto.id, 10/01/2020).

Korean Tourism Organization (KTO) pada tahun 2016 menempatkan Indonesia di urutan ke-9 negara penyumbang turis terbanyak. Kunjungan warga Indonesia ke Korea tahun 2016 meningkat 53,2 persen dari 198 ribu wisatawan di 2015 menjadi 300 ribu wisatawan di 2016 (www. jawapos.com, 02/02/2017). Dalam 10 tahun kedepan (2026) Pemerintah Korea Selatan memprediksi Indonesia masuk pasar besar pariwisata mereka (tirto.id, 10/01/2020).

Korean wave menghasilkan devisa yang cukup besar bagi negara Korea. Seperti data sebelumnya, Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesarnya. Karenanya Indonesia menjadi ‘ladang’ yang patut diperhitungkan oleh negara tersebut bahkan menjadi salah satu negara yang ditargetkan. Jadi blunder sekali, jika kegandrungan terhadap k-pop diharapkan menjadi peluang untuk menggaet wisatawan korea ke Indonesia. Karena yang terjadi justru sebaliknya.

Disisi lain sebagaimana fans pada umumnya, ia akan menjadikan sang idola sebagai role model. Begitu juga para fans k-pop mereka turut mengikuti lifestyle oppa dan eonni. Mulai dari pakaian, tingkah laku, gimmick, termasuk makanan dan minuman mereka. Hal ini wajar saja, karena musik dan drama yang diproduksi negara oppa memang bukan hiburan semata melainkan ekspansi budaya. Walhasil aktivitas zina, pacaran, meminum alkohol/minuman keras yang disaksikan melalui drama sudah dianggap biasa oleh generasi muda bumi pertiwi. Begitu juga dengan perilaku ‘mesra’ sesama lelaki yang dijuluki bromance sudah nyaman dipandangan dan benak para fans.

Meski dengan anggapan “cuma drama” atau “cuma show di panggung”, namun tetap saja apa yang didengar dan dilihat/ditonton akan menjadi informasi yang tersimpan rapi dalam benak generasi muda negeri ini. Apalagi jika disaksikan secara berkelanjutan/terus-menerus, akan membentuk pola pikir yang pada akhirnya membentuk pola sikap/perilaku.

Padahal perbuatan tersebut jelas merupakan perbuatan rusak dan merusak. Perbuatan yang juga haram dan dilarang dalam Islam. Bukankah berbahaya jika generasi negeri ini terinspirasi untuk melakukan perbuatan tersebut? Apalagi Korea Selatan juga merupakan negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Jadi sangat aneh jika ada yang menjadikan korean wave sebagai panutan atau sumber inspirasi. Karena dampaknya bukanlah membentuk generasi yang bertakwa kepada Allah, generasi yang berupaya menebar manfaat dan menjadi sebaik-baik umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, namun sebaliknya. Menjadi generasi hedon yang mencari kenikmatan dan kesenangan semata.

Korean wave telah nyata mengekspor budaya rusak yang bertentangan dengan Islam. Sebab didalam Islam generasi dibentuk untuk memiliki tsaqofah Islam. Sehingga ia mampu menjalani kehidupannya dengan benar, yakni sesuai dengan aturan Dzat yang menciptakannya yakni Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎. Memiliki visi hidup yang jelas, menghindari segala bentuk perbuatan yang sia-sia, memakan makanan halal dan sehat (thayyib) bukan hanya karena trend, memakai pakaian yang menutup aurat, dan bergaul dengan baik sesuai batasan syara’. Sehingga terbentuk life style yang ideal dan berkualitas. Bisa dipastikan generasi yang paham tsaqafah Islam terhindar dari pergaulan bebas/seks bebas, narkoba, LGBT, dan berbagai kemaksiatan lainnya sebab sedari awal Islam sudah mengharamkannya. Negara yang menerapkan Islam juga, yakni Khilafah turut berupaya untuk menjamin hal tersebut, dengan berbagai tindakan preventif seperti membatasi masuknya segala bentuk kebudayaan ataupun tsaqafah asing yang bertentangan dengan Islam baik secara langsung maupun dari media.

Setelah menguasai tsaqafah Islam, generasi juga dibentuk untuk memiliki skill/keterampilan yang mumpuni dalam bidang-bidang yang ia kuasai baik dalam bidang sains maupun teknologi. Seperti yang telah tertoreh dalam sejarah kegemilangan Islam. Ada Ibnu Sina dan al Zahrawi sang ahli kedokteran, Ibnu al Haytsam penemu lensa kamera, al Walid sang arsitek, dll. Karena itu seharusnya generasi Muslim didorong untuk menguasai dan mempromosikan ajaran Islam, juga mengampanyekannya menjadi sumber life style global. Karena terbukti membentuk generasi unggul yang faqih fiddin dan memiliki kreativitas juga keahlian dalam sains maupun teknologi. Inilah the true life style yang memberi inspirasi positif. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *