Krisis Bayi dan Feminisme, Apa Hubungannya ?

Krisis Bayi dan Feminisme, Apa Hubungannya ?

Oleh : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Selama bertahun-tahun negara seperti Finlandia, Korea Selatan, dan Iran bereksperimen untuk meyakinkan perempuan agar punya lebih banyak anak. Kebanyakan melibatkan uang tunai. Namun negara-negara tersebut mendapati bahwa cara seperti ini kurang berhasil. Dunia ini menghadapi krisis bayi. Dalam sepekan terakhir, dua kejadian memperlihatkan bahwa beberapa negara besar benar-benar khawatir angka kelahiran di negara mereka tidak cukup banyak. Pada Rabu (15/01), Presiden Vladimir Putin mengumumkan rangkaian rencana guna meyakinkan para perempuan Rusia untuk mengandung dan melahirkan anak. Putin mengatakan seorang perempuan akan mendapat 466.000 rubel (Rp103 juta) untuk melahirkan satu anak dan Rp 34 juta untuk anak kedua.

Di hari yang sama, pemerintah China merilis data statistik yang menyebut jumlah kelahiran anak pada 2019 adalah yang terendah dalam 60 tahun terakhir. Negara-negara ini khawatir karena rakyat mereka semakin tua, sedangkan anak yang lahir semakin sedikit. Mereka risau karena jumlah orang yang bekerja di masa depan tidak cukup banyak untuk bisa mendanai anggaran yang menopang kaum pensiunan (bbcindonesia, 21/01/2020).

Korea Selatan memiliki masalah serius tentang kelahiran anak. Tahun lalu, angka kelahiran di negara itu anjlok ke titik terendah. Berdasarkan data statistik, ‘perempuan pada umumnya’ punya kurang dari satu anak — persisnya 0,89 anak. Populasi Korsel telah menurun sejak 1970-an. Dan selama 10 tahun lebih, Korsel mengerahkan berbagai upaya untuk menangani masalah ini. Uang yang digelontorkan sebagai insentif kepada para orang tua pun mencapai lebih dari US$70 miliar (Rp954,8 triliun). Akan tetapi, seberapapun banyaknya pemerintah mengucurkan uang, tindakan itu tampaknya tidak pernah cukup mempengaruhi keputusan rakyatnya untuk punya anak.

Feminisme : Racun Peradaban Dunia

Lima puluh tahun yang lalu, feminis Amerika, Betty Friedan, yang dianggap sebagai pendiri feminisme modern, mengklaim dalam bukunya yang terkenal, “The Feminine Mystique”, bahwa jika ibu rumah tangga Amerika memulai karier seumur hidup, mereka akan lebih bahagia dan lebih sehat, memiliki pernikahan yang lebih baik, dan anak-anak mereka akan sukses. Bukan peran keibuan, melainkan pekerjaan yang dapat menawarkan kepada perempuan pemenuhan diri, nilai dan kesuksesan sejati dalam kehidupan.

Setelah rentang waktu berjalan, prediksi ini ternyata menyimpang dari kebenaran. Konsep feminisme, khususnya kesetaraan gender yang berusaha menyetarakan hak, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, telah berfungsi sebagai satu kekuatan yang paling merusak pada pernikahan, peran keibuan dan unit keluarga.

Penyebaran secara menyesatkan terkait dengan seruan akan hak-hak politik, ekonomi, pendidikan, dan peradilan perempuan di negara-negara dimana hak-hak ini dirampas secara dzalim dari kaum perempuannya. Akibatnya, mereka yang menentang redefinisi peran gender dalam keluarga ini ditampilkan sebagai orang-orang yang terbelakang, ketinggalan zaman, serta mendukung ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan.

Kesetaraan gender dan istilah manis seperti pemberdayaan perempuan’,hak-hak perempuan’, dan `keadilan gender’ untuk memikat perempuan dan masyarakat umum agar mendukung seruan mereka. Kini tipuan ini terbukti, eksperimen berbahaya dalam rekayasa sosial ini mengakibatkan berbagai konsekuensi yang berbahaya dan kesengsaraan yang tak terungkapkan bagi perempuan, anak-anak mereka, dan struktur keluarga umumnya, serta masyarakat secara keseluruhan.

Filosofi feminisme yang rusak mendorong perempuan untuk secara egois mendefinisikan hak dan kewajiban mereka sesuai keinginan yang individualistik, bukan berdasar apa yang terbaik bagi perempuan, laki-laki, anak-anak dan masyarakat. Hal ini justru menimbulkan kebingungan dan perselisihan dalam pernikahan dan tanggung jawab pernikahan. Hak anak-anak terbaikan, peran keibuan direndahkan sehingga perempuan tak berdaya memenuhi peran vital mereka sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.

Pada saat bersamaan kondisi ini mengikis tanggung jawab laki-laki atas keluarga mereka, dan membebani kaum perempuan dengan tugas laki-laki dalam kehidupan keluarga termasuk menjadi tulang punggung keluarga yang memberikan tekanan yang begitu berat pada perempuan. Pada titik ini, semua hal terkait janji manis Betty Friedan dan banyak feminis lainnya menjadi omong kosong.

Bagaimana Feminisme Menurunkan Angka Kelahiran

Penurunan angka kelahiran dimulai di Eropa lebih dari 40 tahun lalu dan dengan cepat menyebar ke negara maju seiring dengan kenyataan bahwa perempuan kian mendapati nilai-nilai lebih dalam pendidikan dan karier ketimbang membangun keluarga besar. Ketika perempuan berpendidikan dan memasuki dunia kerja, memiliki anak kurang mendapat prioritas. Dan semakin sulit secara logistik.

Ada begitu banyak alasan untuk tidak punya anak. Kapitalisme menyebabkan harga rumah terus meroket, biaya sekolah swasta meningkat, dan masalah lingkungan seperti polusi debu halus menjadi masalah besar. “Kami punya keyakinan kuat soal ‘mitos naluri ibu’ di masyarakat Korea. Saya tidak akan bisa memenuhi ekspektasi itu.” Baginya, insentif uang tunai dari pemerintah Korsel tidak menjadi pemikat dalam membuat keputusan.

Wanita Korea Selatan tidak hanya memilih untuk memiliki anak lebih sedikit – beberapa memilih untuk tidak memiliki hubungan romantis sama sekali. Semakin banyak yang memilih untuk tidak menikah sama sekali, memutuskan untuk tidak menghiraukan lembaga perkawinan. Bahkan memutuskan memiliki hubungan kasual saja – yang mendukung seseorang untuk memiliki kehidupan dan karier yang mandiri dalam lingkungan masyarakat yang dianggap masih seksi, meskipun ekonominya telah mengalami kemajuan. Pergeseran ini merupakan bagian dari fenomena sosial yang meningkat di Korea Selatan yang kemudian memunculkan ‘Generasi Sampo`. Kata ‘sampo’ berarti melepaskan tiga hal: hubungan, perkawinan dan anak-anak. Ini mungkin masalah yang sangat spesifik, namun pola yang sama terjadi di Jepang. China kini mengikuti jejak kedua negara itu.

Feminisme Adalah Konsep Cacat dan Irasional

Feminisme di bawah sistem sekulerisme Barat membuat laki-laki dan struktur keluarga tradisional menjadi sasaran kemarahan dan kebencian karena memandang laki-laki dengan penuh curiga yaitu sebagai musuh mereka yang akan mengambil hak-hak mereka. Banyak perempuan melihat status istri dan ibu sebagai peran kelas dua, lebih rendah daripada mengejar karier dan pekerjaan. Sayangnya cara berpikir ini juga telah menginfeksi para muslimah, menyebabkan mereka menunda bahkan menghindari pernikahan sekaligus peran keibuan.

Zaman telah berputar, dan ide-ide yang dipasarkan Barat, dengan izin Allah telah tersingkap. Tiba saatnya bagi para muslimah untuk memerangi segala kekufuran dengan berbagai derivat perwujudannya. Tiba waktunya bagi kita, para muslimah mengambil peran strategis ini, yaitu menjadi benteng yang kokoh yang menghalangi terlaksananya segala konspirasi Barat dengan menolak pemahaman-pemahaman yang mereka tanamkan.

Sungguh Islam adalah agama yang haq. Kitalah yang akan menyeru kepada seluruh penduduk bumi bahwa “kami tidak akan tertipu lagi dengan tipu daya dan kedustaan kalian, kami telah memutuskan dengan yakin bahwa Islam yang akan menyelamatkan dan memimpin manusia seluruhnya”.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *