Krisis Ekonomi, antara Solusi dan Ilusi

Krisis Ekonomi, antara Solusi dan Ilusi

Sebab krisis kali ini menuntut sebuah solusi global.


Oleh: Ummu mush’ab

POJOKOPINI.COM — Ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini, dikhawatirkan akan membuat perekonomian nasional maupun internasional semakin anjlok. Bukti besarnya perhatian dunia terhadap penanggulangan wabah covid-19 ini, adalah salah satu tindakan yang dilakukan oleh ADB (Asian Developmen Bank). ADB membentuk panel penasehat untuk bantu pemulihan dampak covid-19 di Asia Tenggara (kontan.co.id, 11/06/2020).

Acara ini diikuti oleh para pejabat senior dari tiga perekonomian terbesar di Asia Tenggara, yaitu Menteri Keuangan Indonesia dan Gubernur ADB Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Filipina dan Gubernur ADB Carlos G. Dominguez, dan Gubernur Bank Sentral Thailand Veerathai Santiprabhob. Tak hanya itu, Gubernur Bank Sentral Filipina yang merangkap sebagai Gubernur Alternatif ADB, Benjamin Diokno, dan Sekretaris Perencanaan, Sosioekonomi Filipina Karl Chua juga ikut bergabung dalam acara ini.

Adapun agenda di dalam panel ini adalah, mengulas pembelajaran dan berbagai langkah cepat yang diambil oleh berbagai negara dalam mengatasi dampak kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan akibat pandemi Covid-19.
Termasuk mereka juga membahas terkait jangka menengah, hingga jangka panjang penanggulangan covid-19 ini dinegara masing-masing.

Sementara itu, seperti yang sudah kita ketahui, pada 13 April lalu ADB mengumumkan paket bantuan. Paket ini akan disalurkan ke negara-negara yang terlibat, yang digunakan untuk penanggulangan dampak covid. Baik terhadap ekonomimaupun untuk kegiatan tanggap darurat.

Indonesia sendiri, telah menerima bantuan sebesar US$ 1,5 miliar sebagai respons kontrasiklus dan hibah senilai US$ 3 juta. Sebagai dukungan tanggap darurat bagi pemerintah di sektor kesehatan. Tak hanya Indonesia.

Namun masalahnya adalah, apakah dengan adanya langkah ini, justru dapat menjadi solusi tuntas bagi Indonesia, atau negara-negara Asia tenggara tersebut lepas dari wabah ini, dan mengembalikan ekonomi yang sudah menurun?

Tentu tidak! Karena, solusi yang diambil bukanlah solusi yang bersifat paripurna, melaikan parsial semata. Kenapa tidak?. Toh buktinya dengan jumlah bantuan pinjaman itu, juga tidak menjadikan Indonesia dengan ekonominya kian membaik, apa lagi setelah diterapkannya new normal di kehidupan bermasyarakat.

Seperti yang diungkapkan oleh kepala ekonom CIMB Niaga, Andrian Panggabean, pastinya krisis yang terjadi pada tahun ini, berbeda dengan krisis yang terjadi pada tahun 1997-1998, serta berbeda pula dengan krisis yang terjadi pada tahun 2008. Sebab krisis kali ini menuntut sebuah solusi global (republika.co.id, 27/04/2020).

Maka solusinya adalah kembali kepada sistem Islam dalam naunganKhilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah. Berikut ini adalah beberapa solusi yang dapat ditawarkan oleh Islam. Dan dicontohkan langsung oleh Khalifah Umar bin Khatab pada masa kepemimpinannya sebagai Khalifah ke dua pada fase khulafur rasyidin.

Pertama, sebagai seorang pemimpin, ia harus menjadi teladan terbaik bagi rakyatnya, dalam menghadapi krisis ekonomi. Ia mengambil langkah untuk tidak bergaya hidup mewah.
Kedua, Khalifah Umar langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan.

Ketiga, musibah yang melanda, juga membuat Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan Allah SWT pemilik alam dan seisinya. Serta, beliau langsung yang memimpin taubatan nasuha. Karena bisa saja, krisis yang melanda karena dosa-dosa manusia.

Keempat, kepada rakyatnya yang datang, karena membutuhkan makanan, segera dipenuhi. Kelima, tatkala menghadapi situasi sulit, Khalifah Umar bin Khaththab meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Ini adalah bentuk kesigapan pemimpin dalam menanggulangi krisis, saat pusat tak mampu mengampu, maka, ada daerah dan wilayah dibawah naungan daulah, yang akan menopang keuangan dan pangan daerah-daerah yang mengalami krisis. Sehingga ekonomi tetap bisa stabil dan krisis akan berakhir.

Tidak seperti sekarang, dimana penguasa masih sibuk dengan kehidupan mewah, seakan tak peduli dengan derita rakyat, yang menjadi tumbal percobaan mereka dalam menyokong ekonomi, melalui kebijakan new normal dan berdamai dengan virus. Ini adalah langkah gagal yang diambil dalam menanggulangi wabah covid-19.

Seharusnya, hal ini menjadi pertimbangan matang bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. untuk kembali kepada fitrah Islam, sebab Islam kaaffah-lah sebagai solusi tuntas dan global dari permasalah ini. Sudah saatnya, dunia ini dalam naungan Khilafah.

Maka, konsep Islam adalah satu-satunya yang mampu mengatasi resesi ekonomi dengan solusi tuntas. Bukan solusi abal-abal semisal sekarang.

Maka Islam akan menjamin dengan berbagai jaminan keselamatan umat, baik dari sisi kesehatan, ekonomi maupun yang lainnya. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih permasalahan seperti kondisi saat ini. Masalah kesehatan saja masih belum selesai, begitu juga masalah pendidikan yang juga bermuara pada ekonomi.
Sesungguhnya jalan keluar terbaik adalah menyadari kebutuhan terhadap sistem Islam. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *