Krisis Ekonomi Tinggi, Sistem Ekonomi Islam Solusi

Krisis Ekonomi Tinggi, Sistem Ekonomi Islam Solusi

Karenanya para ahli mendorong masyarakat mengantisipasi dengan gaya hidup hemat dan menyiapkan alternatif pekerjaan. Sementara sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat tidaklah hanya mengantisipasi, tapi perlu solusi tuntas atas ekonomi yang mengancam.


Oleh: Ayu Unzia Anggraini (Perekam Medis, Pegiat Dakwah)

POJOKOPINI.COM — Dampak pandemi Covid-19, sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bandung mengalami kerugian yang cukup besar. Akibatnya, beberapa pelaku UMKM mengalami gulung tikar dan pertumbuhan ekonomi menjadi menurun.

Ketua Forum Komunikasi Wirausaha Muda Bandung (FKWM) Kabupaten Bandung Dani Hamdani mengatakan dampak Covid-19, sangat dirasakan sekali khususnya oleh para pelaku UMKM. “Kondisi seperti ini, merupakan krisis ekonomi yang sangat sulit dan dirasakan oleh banyak golongan, khususnya para pelaku UMKM,” keluh Dani kepada wartawan di Ciparay. (Zonapriangan.com, Selasa 4 Agustus 2020 malam).

Musibah ini bisa menjadikan titik balik bahwa negara belum mampu mengatasi semua masalah sosial dan ekonomi. Populasi penduduk Indonesia yang sangat banyak didominasi kategori masyarakat yang berpenghasilan rendah, bekerja di sektor informal dan usaha mikro. Praktis penghasilan masyarakat ini merosot tajam dan menjadi permasalahan baru.

Karenanya para ahli mendorong masyarakat mengantisipasi dengan gaya hidup hemat dan menyiapkan alternatif pekerjaan. Sementara sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat tidaklah hanya mengantisipasi, tapi perlu solusi tuntas atas ekonomi yang mengancam. Sebab ancaman krisis ekonomi adalah hal yang biasa terjadi dalam sebuah siklus perekonomian yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis.

Itulah salah satu bukti kerapuhan sistem ekonomi kapitalis yang berdiri di atas sektor non riil dan sistem ribawi. Sehingga rentan terjadi krisis ekonomi. Kalaupun kesuksesan itu bisa diraih dalam sistem ini, kesuksesan itu akan bersifat sementara. Tidak lebih dari hasil tambal sulam dan penjajahan yang merupakan sifat yang melekat dari sistem kapitalis. Sehingga wajar jika sistem ekonomi ini selalu menuai masalah.

Jika merujuk sejarah peradaban Islam, pada prinsipnya sistem ekonomi Islam yang mulai diterapkan semenjak masa kerasulan Nabi Muhammad Saw dan diteruskan oleh para khalifah, telah mencatat sejarah bahwa umat Islam pernah mencapai zaman keemasan, yang tidak dapat disangkal siapapun.

Penerapan sistem ekonomi Islam akan mampu menghentikan krisis ekonomi yang sistematik serta memberikan jaminan kesejateraan bagi umat manusia, tidak hanya umat Islam tapi seluruh manusia. Salah satu prinsip ekonomi yang dilakukan dalam Islam adalah menjalankan politik ekonomi Islam yang bertujuan untuk memberikan jaminan pemenuhan pokok setiap warga negara (Muslim dan non Muslim) sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu tersebut.

Dengan demikian titik berat sasaran pemecahan permasalahan dalam ekonomi Islam terletak pada permasalahan individu manusia, bukan pada tingkat kolektif (negara dan masyarakat).

Menurut Abdurrahman al-Maliki, ada 4 perkara yang menjadi asas politik ekonomi Islam:
Pertama, setiap orang adalah idividu yang memerlukan pemenuhan kebutuhan.
Kedua, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok dilakukan secara menyeluruh.
Ketiga, mubah (boleh) hukumnya bagi individu mencari rezeki atau bekerja dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan dan meningkatkan kemakmuran hidupnya.
Keempat, nilai-nilai luhur syariah Islam harus mendomnasi (menjadi aturan yang diterapkan) seluruh interaksi yang melibatkan individu-individu dalam masyarakat.

Berdasarkan prinsip tersebut Islam akan melaksanakan dan memantau perkembangan pembangunan dan perekonomian dengan menggunakan indikator-indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat. Misalnya, menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, melarang menumpuk kekayaan. Dan dalam menjalankan ekonomi Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti kelebihan.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (QS. Al-Baqarah : 275).

Sistem ekonomi Islam berbasiskan anti riba, moneter basis emas perak dan menempatkan izin Allah sebagai basis penentu kepemilikan, serta basis dalam pengelolaan dan pengembangan harta. Sehingga, saat Allah Swt menetapkan bahwa sumber alam merupakan milik umat yang wajib dikelola oleh negara demi kemaslahatan umat, maka negara akan menghimpun seluruh potensi yang dimiliki itu demi kemaslahatan umat. Sama sekali tak akan berani menyerahkan milik umat itu kepada siapa pun, apalagi kepada asing.

Negara pun akan punya banyak modal untuk menyejahterakan rakyatnya. Hak dasar individu dan hak publik umat betul-betul ada dalam jaminan negara. Sehingga umat tak akan dibebani dengan beban hidup yang berat. Karena syariat memang telah menetapkan semuanya sebagai kewajiban seorang pemimpin dalam Islam.

Terlebih, dalam sistem baitul mal negara Islam, akan banyak sumber-sumber pemasukan negara yang halal yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat baik untuk jaminan kebutuhan dasar, kebutuhan komunal/publik, dan cadangan untuk menghadapi situasi kritis.

Dengan sistem ekonomi Islam, yang diterapkan oleh Khilafah krisis ekonomi tidak akan lagi mengancam kehidupan umat manusia, sebab aturan ini datang dari sang khalik pencipta manusia dan seluruh alam.
Wallahu a’lam bishawwab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *