Kritik Dalam Islam

Kritik Dalam Islam

Buntut dari respon di media sosial yang dinilai mengandung konten negatif, tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendapat saksi hukum (dipenjara 14 hari) dan dicopot dari jabatannya. Tak hanya itu, istri mereka juga dilaporkan kepada polisi terkait konten negatif .

Oleh : Mulyaningsih, S. PT (Pemerhati Masalah Anak, Remaja dan Keluarga; Member Akademi Menulis Kreatif)

WWW.POJOKOPINI.COM — Deretan kejadian demi kejadian silih berganti mewarnai negeri ini. Mulai dari rentetan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat untuk merespon hasil legislasi wakil rakyat, bahkan dilakukan juga oleh para siswa STM. Kemudian kejadian penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) saat akan melakukan kunjungan kerja di Pandeglang Banten.

Merespon kejadian tersebut, beragam reaksi muncul ditengah masyarakat. Ada yang pro, ada yang kontra. Ada yang menyatakan keprihatinan, ada yang menyindir bahwa kejadian tersebut terlalu dibesar-besarkan. Bukan hanya masyarakat sipil, kalangan militerpun ikut memberikan beragam respon. Buntut dari respon di media sosial yang dinilai mengandung konten negatif, tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendapat saksi hukum (dipenjara 14 hari) dan dicopot dari jabatannya. Tak hanya itu, istri mereka juga dilaporkan kepada polisi terkait konten negatif tersebut. Ketiga anggota personel TNI yang mendapatkan sanksi adalah Kolonel HS yang menjabat sebagai Kodim Kendari, Sersan Dua Z, dan Peltu YNS, anggota POMAU Lanud Muljono Surabaya.Sementara ketiga istri mereka, yakni IPDL, LZ, dan FS telah dilaporkan ke polisi karena dianggap melanggar UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Kepala Subdinas Penerangan Umum TNI AU Kolonel (Sus) Muhammad Yuris dalam keterangan tertulis menjelaskan bahwa dalam urusan politik, posisi prajurit TNI AU dan keluarganya (KBT/Keluarga Besar Tentara) harus netral. Hal sama juga dijelaskan Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) XIV Hasanuddin Letnan Kolonel Maskun Nafik. Ia menjelaskan, sikap atau pernyataan seorang istri perwira atau personel TNI bisa berimplikasi menjadi gangguan atau polemik didalam kondisi sosial masyarakat. Pada akhirnya menurut Nafik, sikap keluarga personel TNI itu akan menjatuhkan kehormatan sang prajurit militer. Selama ini pimpinan TNI sudah berulang kali mengingatkan agar para prajurit, istri prajurit atau keluarga TNI tidak mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan politik, suku, agama, dan ras (kontan.co.id, 12/10/2019).

Kritik Dalam Islam

Allah Swt menciptakan manusia dengan seperangkat akal, naluri dan kebutuhan jasmani. Ditambah lagi manusia tak mampu hidup sendiri. Ia pasti membutuhkan bantuan dari yang lainnya. Saling menasehati, memberikan saran dan kritik menjadi hal yang alamiyah akan terjadi. Tentunya semua dilakukan agar perjalanan kehidupan ini sesuai pada relnya. Saling mengingatkan agar sama-sama berada dalam kebenaran.

Tak terkecuali ketika kita berbicara tentang roda pemerintahan. Kritik dan saran menjadi hal yang wajar dan akan selalu terjadi. Bahkan merupakan kebutuhan yang akan melahirkan kebijakan yang sesuai dengan harapan rakyat yang dipimpinnya. Tentu saja, masukan, kritik dan muhasabah harus tetap berada pada koridor kecintaan dan ketaatan. Memberi masukan bukan berarti kita membenci, namun sejatinya ia adalah sebuah bentuk kecintaan kepada negeri dan orang-orang yang diberikan amanah untuk mengelolanya dengan sebaik-baik pengelolaan.

Dalam Islam, kritik dan nasihat menjadi dua hal yang utama untuk seluruh manusia. Terlebih kepada para penguasa, hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kepemimpinan. Bahkan menjadi hak yang harus didapatkan pemimpin dari rakyat yang dipimpinnya. Itulah mengapa dalam Islam, kritik dan nasihat terhadap seorang pemimpin merupakan perkara terpenting dalam kepemimpinan, mutlak harus berjalan. Kedua belah pihak sama-sama membutuhkannya. Sebagaimana fakta sejarah yang dapat kita contoh pada masa kejayaan islam. Kala itu, khalifah Umar bin Khatab merasa khawatir terhadap kepemimpinannya.

Aku sedang dihinggapi ketakutan, jika sekiranya aku melakukan kemungkaran, lalu tidak ada orang yang mengingatkan dan melarangku melakukannya, karena segan dan rasa hormatnya padaku, ujar Umar pelan.

Sahabat Khudzaifah segera menjawab, Demi Allah, jika aku melihatmu keluar dari kebenaran, aku pasti akan mencegahmu. Seketika itu, wajah Umar bin Khatab langsung berubah ceria.

Sebuah kondisi yang sungguh jauh berbeda di masa sekarang. Demokrasi, yang berlandaskan kebebasan, yang salah sarunya kebebasan dalam hal menyampaikan pendapat justru kondisinya amat berkebalikan. Hal itu seolah sirna jika yang disampaikan itu adalah kritik terhadap penguasa. Padahal hal tersebut sungguh sangat berarti dalam menjalankan roda pemerintahan. Jika tidak ada yang memberikan kritik dan saran maka apakah yang kelak akan terjadi? Berbagai kebijakan yang dilepaskan kepada masyarakat tentu bisa jadi tak sesuai dengan harapan rakyat. Bahkan seringkali akan sangat berkebalikan.

Kita patut menyadari dan tak melupakan bahwa rezim manapun yang terlahir dari sistem demokrasi-sekuler tentunya akan menimbulkan reaksi represif dan antikritik. Seharusnya semua menyadari dan tidak mengganggap semua itu hanya sekedar penyimpangan dari sistem demokrasi. Artinya bahwa ada kecacatan yang bisa kita rasakan dalam sistem tersebut, bukan karena orang yang menjalankannya. Itu semua sudah kita rasakan dan lihat bersama.

Hal tersebut terjadi karena memang demokrasi dibuat oleh manusia, sehingga memungkinkan banyak sekali memunculkan kesalahan, perbedaan pendapat, kecurangan dan masih banyak yang lainnya. Represif akhirnya diambil sebagai jalan untuk memuluskan jalan pemerintahan yang sudaa disepakati bersama (para penguasa).

Sehingga sudah saatnya kita kembali pada sebuah sistem yang mampu membawa keberkahan bagi semua makhluk hidup di alam semesta ini. Tak lain itu adalah islam, dengan berpegang erat serta menjadikannya pondasi maka insyaAllah semua perjalanan hidup manusia akan terarah. Dan akan sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Rabb kita, Allah Swt. Semoga masa itu akan segera terwujud krmbali sehingga tinta emas itu bisa digoreskan kembali. Wallahu’alam bis shawab. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *