Kritik dan Kebebasan Pendapat

Kritik dan Kebebasan Pendapat

Sejatinya kritik ibarat pedang, bisa berguna atau menjadi petaka, tergantung penyikapannya. Semudah itu saja. Orang yang berpikiran positif akan menanggapi kritik sebagai senjata yang menghunus dirinya. Kritik dipandang sebagai cermin yang memantulkan visualisasi dirinya. Sekali lagi mengkritik itu karena cinta, karena peduli bukan sebab mendengki.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)


POJOKOPINI.COM — Di tengah gelombang pandemi yang sedang menyapu negeri, penguasa mengumumkan total kasus Covid-19 per 5/4/2020 menjadi 2.273 kasus positif di 32 provinsi. Bukan hanya data ini yang membuat rakyat menjadi demikian galau, prihatin dan resah. Namun perseteruan tiga punggawa bangsalah yang membuat rakyat kian skeptis menyikapinya.

Hal ini bermula dari ketegangan antara pihak Menteri Koordinator maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan Ekonom Senior Faisal Basri dan Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu. Kisruh antara ketiganya ditenggarai karena penanganan virus Corona di Indonesia (detiknews.com 5/4/2020).

Permasalahan ini bermula dari unggahan video di akun Said Didu yang berjudul “MSD: Luhut Hanya Pikirkan Uang, Uang dan Uang”. Said menyoroti persiapan pemindahan ibu kota dan menghubungkannya dengan penanganan Covid-19. Said menilai pemerintah lebih mementingkan peninggalan monumental (legacy) berupa ibu kota baru di atas permasalahan lainnya. Jodi Mahardi selaku Jubir Kemenko Maritim dan Investasi menanggapi video tersebut dengan meminta permohonan maaf Said atau jika itu tidak dilakukan selama 2×24 jam maka pihaknya akan menempuh jalur hukum.

Memanasnya situasi ini berlanjut ketika ekonom senior, Faisal Basri juga turut ‘menyerang’ Luhut melalui akun Twitter-nya. Faisal Basri menyebut Luhut lebih berbahaya dari virus Corona. Terhadap cuitan tersebut, kembali Jodi Mahardi menyebut pihaknya akan menempuh jalur hukum. Jodi meminta para tokoh agar bisa bersikap lebih bijak, dewasa dan beretika dalam menyampaikan perbedaan pandangan.

Anggota Komisi III DPR RI, Habiburakhman menilai tindakan pelaporan terhadap pengkritik justru akan semakin menyudutkan si pelapor. Karena isunya akan bergeser menjadi pengekangan kebebasan berpendapat oleh penguasa. Menurutnya pejabat publik harus berlapang dada menerima berbagai kritikan, termasuk yang bernada kecaman. Masyarakat mengkritik karena menaruh harapan besar agar para pejabat dapat bekerja secara maksimal.

Saya pribadi sependapat dengan pandangan beliau. Bukankah tersedia hak jawab, pihak Kemenko Maritim dan Investasi dapat memilih opsi tersebut. Masyarakat toh bisa melihat sendiri, menalar siapa yang berdiri bersama rakyat dan siapa yang berdiri bersama uang. Bagaimanapun kritik adalah sebuah upaya perbaikan. Kritik diberikan karena peduli bukan karena benci.

Dalam sistem demokrasi yang diterapkan negara ini kritik justru memiliki ruang tersendiri. Demokrasi yang bersandar pada liberalisme sekuler ditopang oleh beragam pilar kebebasan, termasuk di antaranya kebebasan berpendapat dan berekspresi. Sudah menjadi sebuah tabi`ah asasi dari sistem ini untuk membuka diri dan berlapang dada terhadap kritik. Namun ternyata pernyataan ini hanya tertulis di buku saja, realitasnya kebebasan pendapat di alam demokrasi hanya isapan jempol semata. Ketika Anda bersikap kritis maka ancaman pidana menanti. Sayang sekali.

Kalau dipikir-pikir, mengapa gusar pada kritik, bukankah ini resiko menjadi pemangku jabatan publik? Jika setiap kesenangan hidup sebagai konsekuensi duduk menjabat di sebuah jabatan diperoleh dari keringat rakyat, bukankah wajar rakyat mengkritik?

Lihatlah bagaimana tokoh sekaliber manusia agung, Muhammad Saw, pemimpin Daulah Islam Madinah menyikapi kritik. Ketika itu mereka sedang berada di Badar. Rasulullah Saw memerintahkan untuk menguasai sumber air Badar sebelum dikuasai musuh. Lalu salah seorang sahabat, Khahab Ibn Mundzir ra bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah penentuan posisi ini adalah wahyu dari Allah atau hanya strategi perang?

Beliau menjawab, “Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan strategi perang”. Kemudian Khahab menjelaskan, “Wahai Rasulullah, jika demikian tempat ini tidak strategis. Lebih baik kita pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas disana dan menutupi sumur-sumur yang ada di belakangnya. Kita buat lubang-lubang dekat perkemahan dan kita isi dengan air sampai penuh, sehingga kita akan berperang dan mempunyai persediaan air yang cukup. Sedangkan musuh tidak mempunyai persediaan air minum,” kata Khahab.

Apakah Rasulullah marah? Adakah beliau tersinggung? Rasulullah malah tersenyum dan memuji pendapat Khahab. Kaum Muslimin pun kemudian memenangkan pertempuran itu dengan telak.

Sejatinya kritik ibarat pedang, bisa berguna atau menjadi petaka, tergantung penyikapannya. Semudah itu saja. Orang yang berpikiran positif akan menanggapi kritik sebagai senjata yang menghunus dirinya. Kritik dipandang sebagai cermin yang memantulkan visualisasi dirinya. Sekali lagi mengkritik itu karena cinta, karena peduli bukan sebab mendengki.

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya “Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia” menyampaikan bahwa Allah telah mewajibkan nasihat dan perintah kepada yang baik dan mencegah kemungkaran. Tidaklah mungkin menegakkan kewajiban syariat ini selagi seorang Muslim tidak bisa bebas memenuhi haknya dalam mengemukakan pendapat dan kebebasannya dalam hak tersebut. Kemerdekaan dan kebebasan berpendapat bagi seorang Muslim merupakan sarana untuk menegakkan kewajiban ini. Tidaklah amar ma`ruf nahi mungkar ditegakkan kecuali dengan kebebasan berpendapat.

Islam memberikan toleransi akan kebebasan berpendapat dan kritik dalam segala ruang lingkup perkara dunia, baik dalam urusan umum maupun kelompok. Hal itu tampak jelas terlihat dalam kisah Saad bin Muadz dan Saad bin Ubadah ketika Rasulullah Saw mengajak keduanya untuk bermusyawarah dalam perjanjian dengan Bani Ghathfan untuk memberikan upeti sepertiga hasil dari kurma Madinah hingga mereka bersedia untuk keluar dari perjanjian pada saat perang Ahzab.

Mereka menjawab,”Ya Rasulullah, jika ini wahyu dari langit maka kami tunduk kepada perintah Allah. Jika ini pendapat atau kehendak Anda, kami harus mengikut dan menurut kepada kehendak dan pendapat Anda tersebut? Namun jika Anda ingin mengetahui pendapat kami, maka demi Allah, kami melihat kita dengan mereka sama, tidaklah kami akan memberikan kurma kecuali dengan membeli atau kesepakatan (jual beli).

Rasulullah SAW bersabda, “Agama itu nasihat.” Kami bertanya, “Nasihat kepada siapa ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Nasihat kepada kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum Muslimin dan seluruh umat” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa`i dan Ahmad).

Imam Nawawi dalam syarah hadits ini mengatakan, nasihat kepada pemimpin kaum Muslimin adalah menolong mereka pada kebenaran, taat kepada mereka dalam kebenaran tersebut, memerintah mereka pada kebenaran, melarang mereka menyelisihinya, mengingatkan mereka dengan lemah lembut dan menunjukkan mereka atas apa yang mereka lalaikan, tidak menyampaikan hak-hak kaum Muslimin.

Rasulullah Saw juga bersabda, “Jangan melarang seseorang memberikan hak kepada manusia untuk mengatakan kebenaran jika dia mengetahuinya” (HR. At-Tirmidzi). Juga dalam sabda beliau, “Jihad paling mulia adalah mengemukakan kalimat yang benar (haq) di hadapan penguasa yang sewenang-wenang” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah).

Kebebasan berpendapat ini dipraktikkan oleh sejarah Islam sejak kurun waktu yang sangat panjang dan amat menakjubkan. Seorang wanita telah mengkritik Umar bin Khaththab, padahal ketika itu beliau sedang berkhutbah di masjid tentang masalah mahar. Namun Umar tidak melarangnya. Umar malah berkata, “Perempuan ini benar dan Umar yang salah”.

Jabatan publik adalah amanah yang harus ditunaikan dan dijaga sebagaimana mestinya. Ketika amanah ini diminta oleh Abu Dzar al-Ghifari dari Nabi Saw dengan tegas beginda menyatakan kepada Abu Dzar; “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, kehinaan dan penyesalan pada Hari Kiamat. Kecuali orang yang mengambilnya dengan sesungguhnya, dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dengan baik.

Agar menjadi pemimpin yang dicintai dan didoakan oleh rakyat, seorang pemimpin harus mencintai dan berpihak kepada rakyatnya, mengutamakan urusan mereka dan berada di garda terdepan membela kepentingan mereka. Inilah rekam jejak para Khalifah beserta jajarannya, pelanjut estafet kepemimpinan Rasulullah Saw dalam merajut peradaban agung Khilafah Islamiyah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *