Kuldesak Corona

Kuldesak Corona

Seakan mimpi buruk, wabah corona membuka tabiat asli penguasa. Membuka topeng-topeng yang dipakai saat mengumbar janji manis populis kampanye.


Oleh: Ana Frasi

POJOKOPINI.COM — Apakah artinya para penghuni istana di negeri ini sudah sedemikian buntu dan bingung. Angkat bendera putih dan menyerah. Alih-alih mengakui kelemahan, bukannya melakukan evaluasi, memperbaiki. Dagelan baru lagi, dipertontonkan. Begitu telanjang.

Apa akal sehat sudah mati, dibenamkan dimana ia, publik seakan habis kata, tak ada yang tertinggal dari sebuah negeri “bukan lautan hanya kolam susu” setiap detiknya hanya gema tawa bercampur getir pantul memantul di setiap dinding rumah rakyatnya. Panggung parodi yang tiada habisnya.

Seakan mimpi buruk, wabah corona membuka tabiat asli penguasa. Membuka topeng-topeng yang dipakai saat mengumbar janji manis populis kampanye. “Pilihlah aku, nanti akan kuberikan apapun yang kalian mau, percayalah aku” Kalimat-kalimat sakti sambil dibarengi recehan dalam segunung amplop yang dihamburkan.

Wajah-wajah penghuni istana, tampak jelas kini. Perpaduan kebodohan, kedunguan, kosongnya isi kepala, putusnya urat malu dan uang-uang haram yang berseliweran mungkin?. Atau jangan-jangan wajah itupun masih palsu, ada topeng lain, berlapis. Siapa yang tahu, bahwa ternyata, aslinya mereka adalah boneka.

Karena manusia waras semestinya takkan bisa melampaui kedunguan seperti. Mungkin di dunianya, Corona sedang tertawa terbahak, atau bahkan berpesta pora, merayakan kemenangan atas perang mereka dengan akal sehat manusia.

Jasad-jasad tanpa nyawa itu bukanlah bangkai ikan yang masih bisa kita makan. Ia nyawa manusia yang bernama. Emas segunungpun tak bisa ditukar dengan nyawa. Bagaimana bisa sebuah kalung macam azimat menjadi jaminan Corona akan lari tunggang langgang.

Wajah culas demokrasi. Berjanji untuk diingkari, berbuat tanpa rasa tanggung jawab. Atas nama suara rakyat, penindasan bersiklus lima tahun sekali. Tanpa ampun tanpa belas kasihan. Uang dan kuasa adalah Tuhan bagi Sang Tiran.

Hey, Kamu tak tahu kah? Di uji laboratorium canggih kami, Virus disimpan di tabung. Kemudian ditetesi ekstrak Eucalyptus. Virus mati sebanyak 42%. Maka ekstrak ini kami simpan di kapsul dengan teknologi nano. Dan bingo! Kalung antivirus siap melindungi hidupmu.”

Mataku makin buram membaca rentetan kalimat-kalimat absurd itu. Berita daring di layar ponselku. Pikiranku oleng, siapa yang gila bathinku. Diam-diam hati bertanya aku hidup dijaman apa, atau di negeri purba yang mana? Aku sedang tersesat, di belantara jaman, saat Islam ajaran yang Haq, tergerus oleh kepongahan manusia –manusia sombong penguasa zalim nan tiran.

Aku tahu kebangkitan itu akan datang, bisyarah Rasulullah mustahil salah. Cahaya Ilahiyah akan kembali menyinari bumi. Semoga aku, kalian, kita semua termasuk golongan manusia yang ikut berperan. Atas kehadiran kembali tegaknya sebuah peradaban cemerlang. Daulah Islam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *