Lara Sistemik Ular

Lara Sistemik Ular

Tak bisa kita lepaskan, fenomena “teror” ular memang merupakan dampak sistemik. Pada akhirnya sistem kapitalisme sekuler tak hanya mengancam peradaban manusia, bahkan hewan dan lingkungan. Hari ini kita hampir-hampir tak bisa menjawab, kita diteror ular, atau kita meneror ular melalui penerapan sistem kapitalisme sekuler yang membabathabis habitatnya?

Oleh: Nusaibah Ummu Imarah

WWW.POJOKOPINI.COM — Ular ditemukan pada pemukiman manusia yang tersebar di berbagai wilayah, begitu banyak warga yang was-was akan ancaman mematikan tersengat bisa ular. “Awal musim penghujan adalah waktu menetasnya telur ular. Fenomena ini wajar, dan merupakan siklus alami,” kata peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy kepada Republika (17/12/2019).

Dalam buku petunjuk penanganan gigitan ular yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) insiden gigitan ular di Asia Tenggara musiman, tertinggi terjadi selama masa peningkatan aktivitas pertanian dan musim hujan. Sebagian besar gigitan ular dialami petani yang bekerja bertelanjang kaki, sehingga bagian kaki dan pergelangan kaki yang banyak terkena.

Epidemi gigitan ular dijelaskan mengikuti siklus banjir, badai dan invasi habitat ular untuk pembangunan jalan, irigasi dan penebangan hutan. Aktivitas-aktivitas menyebabkan perubahan jangka panjang pada iklim dan ekologi dan mendorong mereka masuk pemukim manusia. Hal ini menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap ekosistem ular yang tak bisa dengan mudah dikatakan sebagai ekses dari bencana alam, atau perilaku alam.

Jelas pembangunan kompleks elit perumahan merupakan satu faktor yang mengambil wilayah serapan air, kemudian hal ini justru menjadi catatan suram sebab tak tertolaknya banjir. Pun pemukiman-pemukiman baru itu “merampas” tempat tinggal ular.

Tak hanya itu, agaknya pun kita baru menyadari bahwa ternyata terdapat kaitan erat antara “teror” ular dengan penebangan hutan. Fakta ini juga menyakitkan bagi ular, mereka seolah terusir di banyak tempat. Hal ini secara alami akan membuat binatang berbisa itu menggeliat ke berbagai tempat untuk menemukan makanan dan tempat berdiam.

Kita melihat pembangunan yang diwujudkan dengan terang tak memperhatikan aspek pengurusan terhadap binatang dan lingkungan. Hal itu terasa jauh sekali karena paradigma kapitalistik yang menjadi dasar dari pembuangan itu, sehingga keuntungan semu dianggap sebagai tujuan akhir tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang muncul dari keputusan kapitalistik tersebut.

Tak bisa kita lepaskan, fenomena “teror” ular memang merupakan dampak sistemik. Pada akhirnya sistem kapitalisme sekuler tak hanya mengancam peradaban manusia, bahkan hewan dan lingkungan. Hari ini kita hampir-hampir tak bisa menjawab, kita diteror ular, atau kita meneror ular melalui penerapan sistem kapitalisme sekuler yang membabathabis habitatnya?

Pembangunan yang tak menghiraukan lingkungan tentu memberi pengaruh besar dalam perubahan ekosistem hewan dan tumbuhan, bahkan untuk alam. Maraknya ular yang masuk ke rumah-rumah warga, bahkan banjir yang musiman penampakan rusaknya lingkungan. Menjadi pertanyaan dalam benak, haruskah pembangunan mengabaikan lingkungan? Bisakah kita berada dalam kondisi tetap membangun namun tak merusak lingkungan?

Menjamurnya perumahan yang menggusur wilayah serapan air berpengaruh besar menciptakan banjir yang rutin dan awet, hal ini pun menjadi satu sebab lain keluarnya ular-ular setelah penyebab hancurnya habitat hewan itu. Fenomena itu terjadi bukan tanpa sebab, pembangunan dengan paradigma kapitalistik memang meniscayakan kerakusan yang tak memerdulikan ancaman terhadap peradaban manusia dan lingkungan. Sistem kapitalisme sekuler memberi izin atas nama keuntungan dan manfaat, hal inilah kenapa sistem ini sangat bertentangan dengan Islam.

Pun muncul tanda tanya besar dalam benak, fenomena mengamuknya ular-ular ini kemudian diikuti dengan pengadaan besar-besaran Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang diratifikasi oleh puskesmas-puskesmas. Wacana program yang dikabarkan berbayar ini tersebab ketersediaan serum yang ada tak mampu mengatasi bisa King Cobra, hanya mampu mengatasi bisa dari ular jenis-jenis tertentu. Kebijakan ini justru terasa aneh dan terkesan terburu-buru, penguasa agaknya begitu sigap untuk “berbisnis” dengan rakyat, mengkapitalisasi ketakutan.

Selain itu, solusi yang diwacanakan juga tak menyentuh akar persoalan yaitu kerusakan sistemik yang menjadi penyebab besar rusaknya alam dan hancurnya habitat ular. Jangan minta rakyat untuk bersahabat dengan ular, karena pernyataan itu sangat tak rasional dan tak seharusnya keluar dari lisan pengamat ataupun penguasa. Jika lara ular tersebab sistem, kemudian berimbas pada mengancam peradaban manusia, maka sudah sepatutnya kita melirik sistem alternatif yang memutus lara, menyelamatkan peradaban manusia dan lingkungan. Dan satu-satunya sistem komprehensif yang mampu menyapu sampah-sampah kerusakan yang disebabkan sistem kapitalisme sekuler hanyalah sistem Islam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *