Larang Pendukung Palestina Protes, Prancis Ungkap Wajah Aslinya

Melihat realitas ini, apakah kita masih menggadang harapan pada lembaga-lembaga hak asasi manusia untuk menyelesaikan krisis kaum Muslim? Atau krisis Palestina khususnya? Tentu saja tidak, lupakan semua basa-basi itu.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Ribuan demonstran turun kembali turun ke jalan-jalan pada Sabtu 15/5/2021 di Prancis untuk menyampaikan dukungan mereka kepada Palestina. Mengutip dari voaindonesia.com pada 16/5/2021 bahwa di Paris, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan unjuk rasa pro-Palestina.

Kementerian dalam negeri mengatakan terdapat antara 2.500 dan 3.500 orang berkumpul di pemukiman Barbers, wilayah yang dipenuhi pendatang di sebelah utara ibu kota. Penyelenggara unjuk rasa mengklaim sebanyak 5.000 orang berdemonstrasi di tengah pengamanan yang ketat dengan melibatkan sekitar 4.200 petugas.

Namun Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prancis, Gerald Darmanin, memberikan larangan protes kepada warga yang pro dengan Palestina di negara penggagas prinsip liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan dan persaudaraan). Mengutip dari pikiran-rakyat.com pada 14/5/2021 dari Aljazeera, Darmanin meminta pihak kepolisian untuk memberikan larangan protes kepada warga yang pro Palestina di Paris.

Gerald Darmanin beralasan mengingat gangguan serius terhadap ketertiban umum yang pernah tercatat pada 2014. Maka intruksi ini diberikan kepada prefek agar waspada dan tegas. Ironisnya, setelah mengambil langkah demikian, Darmanin justru mendesak kepada polisi setempat untuk memberikan perlindungan tempat ibadah, sekolah, pusat budaya, dan bisnis komunitas Yahudi.

Inilah sikap dari negara yang telah mengajarkan dunia tentang hak asasi manusia. Deklarasi hak asasi manusia dan warga negara (La Declaration des droits de i`Homme ed du citoyen) adalah salah satu dokumen fundamental dari Revolusi Prancis. Dokumen ini menetapkan sekumpulan hak-hak individu dan hak-hak kolektif manusia. Dokumen ini diadopsi pada 26 Agustus 1789 oleh Majelis Konstituen Nasional sebagai langkah awal untuk penulisan sebuah konstitusi.

Konstitusi ini digadang menetapkan hak-hak fundamental tidak hanya bagi warga negara Prancis tetapi memperuntukkan hak-hak ini untuk seluruh manusia tanpa kecuali. Isi konstitusi omong kosong itu diantaranya, “Manusia dilahirkan bebas dan tetap setara di dalam hak. Perbedaan sosial dapat ditemukan hanya pada keperluan umum”.

Penulis sangat tertarik menguliti kemunafikan klausula-klausula yang tercantum dalam deklarasi Prancis yang hipokrit itu. Beberapa diantara deklarasi Prancis yaitu; Manusia dilahirkan merdeka dan tetap merdeka, manusia mempunyai hak yang sama, manusia merdeka berbuat sesuatu tanpa merugikan pihak lain, warga negara mempunyai hak yang sama dan mempunyai kedudukan serta pekerjaan umum, manusia tidak boleh dituduh dan ditangkap selain menurut undang-undang, manusia mempunyai kemerdekaan agama dan kepercayaan, manusia merdeka mengeluarkan pikiran, adanya kemerdekaan surat kabar, adanya kemerdekaan bersatu dan berapat, adanya kemerdekaan berserikat dan berkumpul, adanya kemerdekaan bekerja,berdagang, dan melaksanakan kerajinan, adanya kemerdekaan rumah tangga, adanya kemerdekaan hak milik dan adanya hak hidup dan mencari nafkah.

Namun sebagaimana yang kita saksikan bahwa semua klausula hak asasi manusia yang telah disebarkan ke seluruh dunia, bukan hanya melalui diplomasi dan aktivitas politik bahkan menggunakan sarana militer dan perang, ternyata menjadi cek kosong di negara kelahirannya sendiri. Tidak perlu menunggu meletusnya krisis di Palestina yang penuh berkah untuk mengidentifikasi kegagalan aplikasi hak asasi manusia di jantung sekulerisme itu.

Tentu belum lepas dari ingatan kita tentang betapa rasis dan radikal-nya pemimpin Prancis Emmanuel Macron ketika menyebut Islam sebagai agama krisis. Macron kemudian mengajukan RUU yang berisi pembatasan pendidikan bagi anak-anak Muslim, mereka dilarang menghadiri sekolah berasrama yang menawarkan pendidikan Islam. RUU ini juga melarang sekolah-sekolah negeri menerima atau mempertahankan siswi yang bersikeras untuk berhijab. Selain itu, RUU itu juga akan menindak masjid, yang memiliki imam di luar Prancis, ataupun mereka yang sempat tinggal atau belajar di negara-negara Muslim seperti Aljazair, Maroko dan Turki sebelum pindah ke Prancis.

Hak asasi manusia yang agungkan dan disucikan Barat terbukti hanyalah pepesan kosong tanpa makna apalagi realisasi kecuali sebagai topeng kemanusiaan untuk menutupi penjajahan mereka atas bangsa lain terutama kaum Muslim.

Prancis sendiri memiliki undang-undang diskriminatif yang menargetkan Muslim. Pada 2010, pemerintah melarang wanita Muslim mengenakan jilbab di sekolah-sekolah pemerintah dan ruang publik, dan pada 2015 baju renang Muslimah (burkini) dilarang di pantai umum dan di kolam renang umum. Wanita Muslim justru diperintahkan oleh hukum untuk memperlihatkan tubuh mereka di depan umum, bertentangan dengan ajaran agama mereka. Macron mengklaim bahwa RUU sangat diperlukan. terlebih setelah serangan yang dilakukan oleh umat Islam, termasuk serangan terhadap Majalah Charlie Hebdo yang menerbitkan kartun satir Nabi Muhammad SAW (republika.co.id 6/10/2020).

Melihat realitas ini, apakah kita masih menggadang harapan pada lembaga-lembaga hak asasi manusia untuk menyelesaikan krisis kaum Muslim? Atau krisis Palestina khususnya? Tentu saja tidak, lupakan semua basa-basi itu.

Israel dan Prancis memiliki hubungan yang erat dan mesra. Prancis memiliki kedutaan luhur di Tel Aviv dan Kunsulat Jenderal di Yerussale. Sebagaimana Israel memiliki kedutaan di Paris dan Konsulat Jenderal di Marseille. Kedua negara ini merupakan anggota penuh di World Trade Organization (WTO). Disisi lain kerjasama teknologi dan sektor ekonomi mereka bertambah intens dalam dekade terakhir.

Singkatnya upaya Prancis memblokade aspirasi rakyatnya untuk menunjukkan pembelaannya terhadap Palestina, dan mendukung Yahudi teroris Israel adalah bentuk perlindungan teroris kepada teroris lainnya. Israel tidak akan dapat bertahan di tengah-tengah komunitas Muslim kecuali karena disokong oleh negara-negara Barat, baik Prancis maupun Amerika dan negara-negara lainnya.

Meski secara kasat mata mereka menunjukkan kepedulian pada Palestina, namun mereka masih memiliki konvensi lainnya di bawah meja. Mereka mengecam genosida dan dehumanisasi di Palestina sambil saling mengedipkan mata antara satu dengan lainnya.

Hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 118-119;

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu sebagai teman kepercayaan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya. Inilah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka): ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allâh mengetahui segala isi hati.

Maka jangan berharap kepada resolusi-resolusi bathil, hak asasi manusia dan lainnya, berharaplah pada solusi Islam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *