Lentera Ibu Bersinar Sepanjang Masa dalam Sistem Islam

Racun pemikiran kufur telah nyata menggerogotinya. Dan negara yang dibangun dalam bingkai demokrasi telah gagal mengayominya.


Oleh: Jumratul Sakdiah

POJOKOPINI.COM — Ini adalah momentum, di mana dunia kembali mengenang jasa ibu. Walau hakikatnya semua hari yang kita jalani saat ini tak lepas dari jasa seorang ibu. Jadi, sudah sepantasnya setiap hari, kita mengingat jasa ibu dengan tak pernah berhenti melangitkan doa dan berbakti kepadanya.

Goresan tinta pengorbanan tak pernah kering darinya. Ia bahkan rela berkorban nyawa. Bagi seorang ibu, di manapun ia. Tetaplah kebahagiaan anak tercinta adalah segalanya. Sebut saja, sejak dalam kandungan di awal kehamilan, ibu tertatih-tatih menahan letih. Kondisi tubuhnya drastis berubah. Ada ibu yang tak bisa makan, tak bisa keluar rumah bahkan ada ibu yang harus bertahan dengan tenaga dari cairan infus yang disuntikkan ke tubuhnya.

Jelas, ini semua tidaklah mudah. Memikul beban yang kian bertambah. Namun seiring jabang bayi tumbuh dan berkembang dengan sehat seolah semua rasa sakit terbayarkan. Susah tidur setiap malam mulai dia rasakan saat seorang anak ada dalam kandungannya sampai ia tumbuh besar dan mandiri. Tapi semua yang dilakukannya tak pernah menuntut pembalasan kepada anaknya. Pantas saja saat anak durhaka, azab pedih akan menimpanya. Kesusahan di dunia akan didapatkan terlebih nanti di akhirat sana.

Mungkin jika diceritakan, tulisan ini tak mampu mewakilinya. Apalagi ditambah dengan realita ibu di era kapitalistik yang mencekik dari segala arah. Sistem ekonomi kapitalisme kini telah menggeser peran ibu yang sesungguhnya. Ibu tak pernah bahagia hidup dalam naungan sistem kufur ini. Ibu dipaksa keluar rumah untuk mencari puing rupiah yang tak setimpal dengan apa yang telah dicurahkannya.

Pemberdayaan ekonomi perempuan seolah madu, tapi sebenarnya ia adalah racun yang menghancurkan benteng keluarga dan rumah tangga. Bagaimana tidak, hilangnya peran ibu sebagai ummun wa rabatul bait telah nyata merusak pondasi yang selama ini dibangun.

Bahkan, anak yang dibesarkan dengan susah payah, peluh keringat dan air mata. Tapi tak ada doa yang terucap dari bibirnya, tak ada bakti yang membuat ibunya tersenyum dan tak ada ketaatan total kepada Rabbnya. Mengapa demikian? Ibu, sebagai pendidik utama dan pertama bagi anaknya kini telah tiada. Banyak ibu yang membiarkan anaknya dididik oleh kejamnya kehidupan sekuler yang serba bebas tanpa batas hingga akhirnya banyak generasi yang bablas.

Pupus sudah harapan investasi dari anak yang telah dirawat hingga dewasa. Yang ada hanya berbalaskan penderitaan dan sengsara. Beginilah saat ibu tak ada peran dalam mencetak generasi ideal yang diinginkan. Tercipta generasi follower bukan leader, menjadi generasi korban tren bukan trend-setter.

Nelangsa ini akan terus bertambah. Keluarga yang diharapkan mampu menjadi pondasi berdirinya sebuah peradaban, kini tinggal angan. Racun pemikiran kufur telah nyata menggerogotinya. Dan negara yang dibangun dalam bingkai demokrasi telah gagal mengayominya. Negara tak berperan sebagai soko guru bagi ketahanan keluarga. Yang terjadi adalah keberadaan sistem ini semakin menumbuhsuburkan kerusakan demi kerusakan dalam segala lini kehidupan.

Sudah semestinya ibu bahagia. Lentera yang dibawanya akan terus bersinar sepanjang masa. Jasa dan pengorbanannya akan terbayarkan dengan surga. Kehidupannya akan terjamin tanpa harus menanggalkan peran ibu semestinya.

Dan ingatlah, semua ini hanya ada dalam kehidupan Islam yang dibangun oleh negara khilafah, sebuah institusi yang telah nyata terbukti dengan peradaban gemilang serta mampu membawa kejayaan bagi semesta. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *