Liberalisme Pergaulan Marak, Aborsi tak Tertolak

Peradaban baik atau buruk berada di tangan generasi mudanya (remaja). Hal ini merupakan prinsip Islam yang harus ditegakkan agar terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.


Oleh: Anita Ummu Zahra (Guru SDIT Mutiara Bekasi)

POJOKOPINI.COM — Anak adalah titipan dari Sang Maha Pencipta Allah SWT kepada setiap manusia. Anak adalah aset berharga yang menjadi harapan kedua orang tuanya yang wajib dijaga dengan segala kemampuan yang ada, dengan sepenuh jiwa dan raga. Seorang anak dapat menjadi jalan bagi kedua orang tuanya menuju Surga jika dididik dengan Aqidah Islam yang menghujam kuat dalam dirinya. Namun sebaliknya, akan menjadi penyebab kedua orang tuanya menuju neraka.

Setiap orang tua pastilah memiliki rasa sayang terhadap buah hatinya. Bahkan seorang ibu akan senantiasa berkata pada anaknya: ”Ibu tidak bisa berjanji untuk menjadi sosok yang selalu sempurna untukmu, tetapi ibu akan berusaha menjadi sosok yang baik, meski harus mengorbankan banyak hal. Namun, pernyataan diatas sangat bertentangan dengan fakta yang ada.

Seorang petani menemukan jenazah bayi perempuan terbungkus plastik putih di pinggir jalan raya Samarang-Kamojang, tepatnya di Kampung Randu Kurung, Desa Sukakarya, Garut, Jawa Barat, pada Selasa 16 Februari 2021 (Kompas.com, 17/2/2021). Berita itu membuat geger masyarakat kita yang beberapa hari sebelumnya mendapati hal serupa. Yaitu penemuan mayat bayi pada Jumat 5 Februari 2021 di Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari (Kompas.com, 5/2/2021)

Sekularisme Produksi Pergaulan Bebas

Miris. Perilaku-perilaku seperti ini dengan mudah kita temukan di setiap sudut negeri. Perilakunya dinikmati, hasilnya dibuang. Anak tak berdosa menjadi sasaran dari perilaku bejat mereka. Anak sebelum lahir diaborsi, jika sudah lahir di buang atau bahkan dibunuh dengan aneka dalih, mulai dari karena malu, belum siap punya anak, masih muda dan banyak lagi alasan lainnya.

Berdalih dengan kebebasan berperilaku adalah alasan paling banyak digunakan, terlebih diperkuat dengan ide HAM (Hak Asasi Manusia). Jika perbuatan keji ini dilakukan suka sama suka, maka bukanlah masalah hal itu untuk dilakukan, sebab itu termasuk hak asasi yang dilindungi.

Saat ini landasan berperilaku didasarkan pada akal manusia dengan menentukan kebijakan dan aturan untuk diterapkan dalam kehidupan manusia. Maka wajar jika dibenak masyarakat berpikir “kebebasan merupakan sebuah landasan untuk melakukan perbuatan semaunya.”

Paham kebebasan ini tentunya lahir dari paham sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan, menggerogoti pemikiran masyarakat dengan paham ini. Penguasa memfasilitasi perilaku yang mengarah pada pergaulan bebas sebab terpapar media yang menyajikan konten pornografi-pornoaksi .

Bukti kegagalan penerapan sistem sekuler dapat disaksikan dari menjamurnya pergaulan bebas di kalangan masyarakat, terkhusus remaja. Banyak yang beranggapan bahwa free sex mencerminkan seseorang itu modern.

Kasus pembuangan bayi di atas merupakan buah dari kebebasan yang diagung-agungkan dalam sistem sekuler, pergaulan yang tidak terkontrol, tidak ada aturan yang memberi efek jera. Masyarakat lebih semangat melakukan perbuatan-perbuatan keji nan haram itu atas dasar kebebasan berekspresi.

Dari pergaulan bebas bisa berpotensi hilangnya fitrah manusia. Hal ini bisa kita lihat di zaman sekarang bahwa bebasnya pergaulan antara pria dan wanita, tingginya kaum LGBT dan homoseksual serta lainnya, muncul akibat salah dalam pergaulan dan salah mengenal fitrah manusia.

Kondisi ini diperparah dengan kondisi sosial kultural yang juga rusak, didominasi oleh warna liberalisme. Bebas bersikap, bertingkah laku, berpendapat dan sebagainya. Anak bebas membantah orangtuanya. Anak bebas berkeyakinan sekalipun berbeda dengan orang tua. Istri bebas bekerja, berhias dan pergi ke manapun ia suka dengan alasan kepentingan kerja. Suami bebas bergaul dan bepergian dengan teman wanitanya, dan seterusnya. Konflik bermunculan di tengah keluarga. Pergaulan bebas, perselingkuhan, dan kadang berujung dengan perceraian.

Di sisi lain, nilai-nilai agama semakin menjauh dari keluarga terkikis oleh paham sekuler. Agama hanya dihayati sebatas ritual belaka dan kehilangan ruhnya sebagai pedoman dan peraturan hidup. Dari rahim sekularisme ini, lahirlah paham-paham rusak dan merusak lainnya, termasuk paham kebebasan berperilaku dan berkeyakinan yang melahirkan krisis moral dan krisis identitas.

Ide kebebasan inilah yang lantas dijadikan senjata bagi remaja bertindak bebas bahkan kebablasan. Tak hanya di dunia nyata tapi juga merambah ke dunia maya. Bahkan pergaulan bebas tidak hanya dengan lawan jenis saja namun juga dengan sesama jenis.

Dari sisi penerapan hukum di Indonesia. Hukum pidana bagi pelaku semacam ini merujuk pada teori absolut dalam Pasal 341 dan 342 KUHP. Pasal 341 berbunyi; “Seorang ibu dengan sengaja membunuh bayinya pada saat atau setelah dilahirkan dihukum dengan hukuman tujuh tahun penjara”, dan Pasal 342 berbunyi: “Seorang ibu dengan sengaja membunuh bayinya pada saat atau setelah dilahirkan dengan rencana dihukum sembilan tahun penjara.”

Hukum pidana Indonesia dalam hal di atas sudah paling lama sembilan tahun penjara. Tentu dengan hukuman seperti ini, tidak akan membuat jera para pelaku, yang ada akan muncul pelaku-pelaku baru. Hukum yang tepat sasaran di negeri ini hanyalah mimpi kosong.

Pergaulan dalam Islam

Jika sekuler menjanjikan kebebasan, maka Islam menjanjikan solusi. Pergaulan dalam Islam tentunya ditetapkan atas pengaturan melalui hukum Allah SWT. Islam menekankan pentingnya ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar bagi semua orang. Islam mendatangkan solusi agar tidak terjerumus dalam perilaku dosa itu.

Pergaulan bebas lebih menjangkit pada remaja, maka Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga aurat, menjaga pandangan, melakukan pengaturan pergaulan antara mahram dan non mahram serta senantiasa menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam pergaulan.

Negara Islam dengan segala aturannya yang mulia, memberlakukan hukum secara adil dan tegas bagi mereka yang melakukan pelanggaran hukum pergaulan antara pria dan wanita. Cambuk 100 kali bagi mereka yang belum menikah dan hukum rajam bagi mereka yang sudah menikah. Disitulah letak kemuliaan Islam, penerapan hukum Syara’ yang berkaitan dengan menghukum para pelanggarnya mengandung unsur pengampunan dari Allah SWT dan unsur pengendalian terhadap suatu pelanggaran hukum Syara’.

Begitupun dari sisi penanaman nilai Islam terhadap remaja, harus menjadi prioritas, sebab merekalah aset utama yang mengubah peradaban. Peradaban baik atau buruk berada di tangan generasi mudanya (remaja). Hal ini merupakan prinsip Islam yang harus ditegakkan agar terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

Islam mempunyai sistem sendiri yang mampu mendatangkan kesejahteraan, keteraturan kehidupan manusia, kebahagiaan dan ketenangan bagi umatnya, yaitu sistem Khilafah. Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia yang di dalamnya berhukum atas hukum Allah SWT, Hukum Islam. Dalam Islam, manusia dimuliakan, dilindungi dan diperhatikan.

Sudah saatnya umat Islam kembali kepada tuntunan dan aturan yang berasal dari Allah SWT yang Maha Bijaksana. Hal itu, tidak lain dengan jalan menerapkan syariah Islam dalam bingkai “Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah,” yaitu kekuasaan yang menolong. Aturan Allah SWT sebaik-baik aturan untuk umatnya. Wallahu a’lam bi shawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *