Logika Penggiring Opini Menyesatkan Marak di Era Digitalisasi

Logika Penggiring Opini Menyesatkan Marak di Era Digitalisasi


Demikian banyak konflik, jika ide atau gagasan pemikiran yang dibangun tidak disandarkan kepada rasionalitas atau akal sehat. Premis-premis yang dibangun atas ide atau gagasan pemikiran dangkal untuk melegalkan logika dan opini tertentu, yaitu tidak melibatkan pemikiran yang dalam dan cemerlang pada substansi permasalahan; tidak disandarkan kepada kenormaan (norma agama; susila; sosial) yang berkembang dan telah berakar dalam suatu masyarakat, maka opini yang dihasilkan hanya akan menimbulkan kegaduhan.

Oleh: Magnolia

POJOKOPINI.COM — Pertengahan September 2019 umat yang melek media sosial mendapat sajian video viral seseorang (memiliki cukup banyak followers) memperlihatkan kebaradaannya di kompleks masjid Al-Aqsha, kemudian mengatakan pengunjung mesjid cukup ramai untuk melaksanakan shalat Jumat dan kegiatan peribadatan berjalan tanpa kendala. Lebih lanjut ia berujar, semua wilayah di bawah kepemimpinan Mohammad Abbas berjalan baik tanpa konflik dan bahwasannya satu-satunya kekacauan (terjadi konflik) hanya di wilayah Gaza dimana Hamas berada. Oknum ini berusaha menyesatkan masyarakat Indonesia – followers-nya – berdasarkan pernyataan-pernyataannya, menggiring opini untuk menyimpulkan bahwa Palestina aman dan konflik Gaza adalah untuk memerangi Hamas, “teroris” yang bersembunyi di sana. Tentu saja penggiringan opini ini menyulut kemarahan umat Muslim khususnya.

Logika sebagai Teknik Berpikir

Berpikir adalah aktivitas akal yang membutuhkan pengindraan terhadap fakta dan didukung oleh pengetahuan serta pemahaman akan permasalahan yang timbul. Agar mendapatkan solusi dan kesimpulan yang benar, maka asas pembahasan permasalahan harus bersandar pada metode rasional. Meminjam istilah yang dipergunakan oleh Rocky Gerung, yaitu akal sehat (common sense) adalah sebuah wisdom, “self-evident truth” namun rasional.
Rocky Gerung menyatakan akal sehat bersifat apriori bukan aposteori. Akal sehat muncul dari akal pikiran yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai kebaikan Tuhan sehingga manusia bisa menjalankan misi kehidupannya. Lebih lanjut ia menyatakan, otak-otak kita harus banyak dicuci dengan argumen. Melalui argumen kontra argumen, bukan pemalsuan pikiran, yang menjadikan dialektika (koseptual dan empiris) berkembang (29/01/19 m.republika.co.id).
Logika merupakan salah satu teknik berpikir yang dipergunakan akal untuk dapat menjalankan proses berpikir. Logika adalah membangun suatu pemikiran di atas pemikiran lain, berakhir pada pengindraan untuk berjalannya proses berpikir sehingga mencapai kesimpulan tertentu berdasarkan pemikiran yang dibangun tersebut (An nabhani, 2003).

Contoh sederhana sebagai berikut: papan tulis adalah kayu. Setiap kayu dapat terbakar. Jadi, setiap papan tulis bisa terbakar.

Pembahasan logika sederhana di atas menunjukkan adanya premis-1 dan premis-2 yang dapat diindera dan dihubungkan keterkaitannya dalam aktivitas proses berpikir, kemudian ditarik kesimpulan bahwa papan tulis bisa terbakar karena terbuat dari kayu adalah benar. Kesimpulan akhir didapat bernilai benar, jika ide dasar pemikiran pada premis-premis yang dikemukakan adalah benar. Sebaliknya jika ide dasar pemikiran yang dibangun pada premis tidak bernilai benar maka kesimpulan yang didapat juga tidak benar, akan salah dan menyesatkan (An nabhani, 2003).

Memiliki dan memahami pengetahuan (dialektika) yang mumpuni sekaligus mengerti perbedaan antara fakta dan opini, maka akan memberikan pemahaman terhadap kita untuk dapat teliti terhadap kebenaran ide/asas pemikiran yang dibangun pada premis-premis yang diungkapkan oleh seseorang tersebut. Kemudian dapat memaknai nilai (benar atau tidak) yang terkandung dalam premis-premis tersebut. Guna menghindari kesimpulan yang salah, bahkan memungkinkan untuk menyanggah atau mengungkap kebohongan/kepalsuan ide/asas pemikiran yang dibangun dalam premis-premis tersebut.

Opini Bukanlan Fakta

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V), fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Sedangkan yang dimaksud dengan opini adalah pendapat; pikiran; pendirian. Mencermati definisi dari opini, dapat dipahami bahwa pendapat; pikiran; pendirian seseorang terhadap suatu masalah (keadaan/peristiwa suatu fakta) yang timbul akan berbeda-beda antara satu manusia dengan lainnya. Pendapat seseorang akan dipengaruhi oleh ideologi, sudut pandang, kedalaman pemahaman nilai/makna/kebenaran, keluasan wawasan pengetahuan dan tingkat keimanan dari tiap insan sebagai makhluk tertinggi dan Khalifah di muka bumi.

Opini dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu opini umum (publik) dan opini politik. Akhir-akhir ini baik opini umum atau opini politik dirasa begitu kental menyerang agama. Isu-isu mengenai LGBT; Free sex; Rancangan Undang-undang Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual; Intoleran; dan lain sebagainya begitu gencar diopinikan oleh sekelompok orang dan media masa. Permasalahan di atas diangkat atas premis kebebasan dan hak asasi manusia sehingga dianggap dan disimpulkan oleh sebagian orang menjadi urusan/hak pribadi. Nilai-nilai sekuler, pluralisme, liberal diangkat atas premis toleransi beragama dalam kebangsaan. Kaidah norma-norma kehidupan bangsa ini dan aqidah mayoritas rakyat negara ini tidak lagi menjadi asas yang harus diperhatikan, terbukti dengan munculnya opini daging impor yang tidak harus bersertifikat halal oleh menteri perdagangan.

Demikian banyak konflik, jika ide atau gagasan pemikiran yang dibangun tidak disandarkan kepada rasionalitas atau akal sehat. Premis-premis yang dibangun atas ide atau gagasan pemikiran dangkal untuk melegalkan logika dan opini tertentu, yaitu tidak melibatkan pemikiran yang dalam dan cemerlang pada substansi permasalahan; tidak disandarkan kepada kenormaan (norma agama; susila; sosial) yang berkembang dan telah berakar dalam suatu masyarakat, maka opini yang dihasilkan hanya akan menimbulkan kegaduhan. Wallahu alam bissawab.[]

Referensi:
Taqiyuddin an Nabhani, Hakikat Berfikir, Pustaka Thariqul Izzah, 2003
Muhammad Subarkah, Fenomena Rocky Gerung dan Apa itu Akal Sehat? m.republika.co.id, 2019 (https://republika.co.id/berita/pm1lvj385/fenomena-rocky-gerung-dan-apa-itu-akal-sehat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *