Madu Halyyu Berbalut Racun Liberalisme

Madu Halyyu Berbalut Racun Liberalisme

Seharusnya menjadi tugas negara dalam menjaga akidah masyarakat agar tidak tercemar oleh pemikiran liberal. Islam mampu melakukan penjagaan lewat institusi negara dan dorongan takwa individu. Sehingga tontonan ataupun informasi yang tidak sesuai syara’ dapat terfilter secara sempurna. Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh sistem hari ini.


Oleh : Siti Aisah, S. Pd (Praktisi Pendidikan Subang dan Member AMK)

POJOKOPINI.COM — Siapa yang tidak kenal idol K-pop Blackpink, TXT, Siwon, Lee Min Hoo, Park Shin Hye dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Hampir tiap bulan K-pop tidak henti-hentinya mengeluarkan karya terbaru. Tak ayal lagi mereka pun digandrungi anak muda di Indonesia. Lewat drama Korea dan musik K-pop nya itu, Hallyu atau Korean Wave ini menjadi budaya yang mengguncang dunia. Dengan dasar inilah, KH Ma’ruf Amien pun meminta agar generasi muda Indonesia bisa meniru kreativitasnya. Harapan beliau agar budaya RI bisa ‘go international’ seperti melejitnya budaya Korea saat ini.

Saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-Pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri,” ucap mantan Ketua MUI (detiknews.com, 02/10/2020).

Dilansir oleh laman kabarlumajang.pikiranrakyat.com (01/10/2020) perkiraan biaya per posting bersponsor untuk Lisa (Member Blackpink) sekitar $ 200.000 atau setara dengan Rp 2.986.510.000. Jumlah postingan di akun instagramnya sekitar 595 feed dengan jumlah pengikut sebanyak 39,8 Juta ini menjadi magnet dan daya tarik finansial. Walhasil banyak diantara kaum muda yang berambisi dan bercita-cita menjadi bintang idol k-pop. Hal ini karena menjadi bintang Korea tidak harus orang asli Korea. Lisa Blackpink yang berdarah Thailand dan member girl group Secret Number, Dita Karang yang berdarah Jogja-Bali asli Indonesia pun mampu menjadi sorotan banyak pihak.

Hallyu atau Korean Wave (baca : “Gelombang Korea”) ini adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia sejak tahun 1990-an. Pada umumnya, Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea. Gelombang Korea ini setidaknya meliputi kesadaran global akan berbagai aspek kebudayaan Korea Selatan termasuk film dan televisi (khususnya “K-drama”), K-pop, manhwa, Bahasa Korea, dan masakan Korea.

Kekaguman akan hal ini mendorong tokoh bangsa agar anak negeri mencontoh public figure Korea dalam berkreativitas. Akan tetapi, apakah madu K-Pop yang manis ini tidakkah tercampur racun liberalisme? Serta layakkah Korean Wave ini menjadi budaya panutan?

Budaya-budaya ini mulai memengaruhi atau menyaingi budaya lokal dan bahkan mulai menggeser budaya asli yang ada di Indonesia. Salah satu budaya asing yang saat ini terkenal dan masuk ke Indonesia yaitu kebudayaan dari Korea Selatan atau yang biasa disebut dengan Hallyu atau gelombang Korea.

Perlu disadari, dengan semakin banyak peminat drakor (drama Korea) di kalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim ini, rentan akan terpaparnya pemikiran liberalisme yang nyatanya adalah perusak generasi. Drakor yang ada saat ini lebih menyuguhkan perilaku ke arah seks bebas, LGBT, atheisme, dan menjadikan budaya minum soju (khamar) sebagai scene drama penghilang rasa sedih. Begitulah upaya para penganut sistem sekuler-liberal ini dapat merusak generasi muslim melalui tontonan atau informasi yang disajikan apik dengan balutan romansa semanis madu, padahal racun mematikan akidah. Mirisnya, negara seperti menutup mata yang bahkan mendorong mensukseskan tontonan perusak akhlak itu.

Lifestyle yang disuguhkan dalam drakor ini, akan menjadi perusak moral generasi bangsa. Tak ayal banyak yang terhipnotis oleh romansa drakor para pemainnya. Tidak ada rasa penyesalan yang terlintas dalam benak para pemainnya setelah melakukan kemaksiatan. Sungguh sepatutnya generasi muslim menjauhi budaya semacam itu. Pemerintah dalam hal ini seharusnya menjaga agar pemikiran liberalisme yang bebas tanpa aturan itu tidak tumbuh di benak generasi muda saat ini. Perilaku atheisme, seks bebas yang hanya berpedoman pada suka-sama suka dan budaya minum khamar ini semestinya dijauhkan atau bahkan ditiadakan.

Budaya Islam yang mengikat cinta dengan akad suci pernikahan, pembinaan iman yang memantapkan akidah, serta kewajiban dalam menutup aurat bagi muslimah. Seharusnya menjadi tugas negara dalam menjaga akidah masyarakat agar tidak tercemar oleh pemikiran liberal. Islam mampu melakukan penjagaan lewat institusi negara dan dorongan takwa individu. Sehingga tontonan ataupun informasi yang tidak sesuai syara’ dapat terfilter secara sempurna. Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh sistem hari ini. Sepatutnya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah mendorong generasi muslim untuk menguasai dan mempromosikan ajaran Islam, serta mengampanyekannya agar menjadi sumber life style global sehingga mewujudkan rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

One thought on “Madu Halyyu Berbalut Racun Liberalisme

  1. Kehidupan dalam sistem kapitalisme telah membuat sebagian kaum muslimin tidak lagi mempedulikan perilakunya itu sesuai atau tidak dengan islam…yg ada di benaknya hanyalah duit duit dan duiiit…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *