“Make Up Movement” Klaim Keberhasilan Atasi Pandemi, Perlukah?

“Make Up Movement” Klaim Keberhasilan Atasi Pandemi, Perlukah?

Perlunya memolitisasi dalam setiap melakukan sebuah ikatan ataupun komunikasi kepada masyarakat seakan menjadi benchmark (tolak ukur). Akibatnya berkuranglah kepercayaan publik.


Oleh: Desi Wulan Sari (Pengamat Publik dan Pegiat Literasi Revowriter)

POJOKOPINI.COM — Masalah pandemi terus bergulir. Seluruh negara di dunia kesehatan masih terus bekerja untuk menemukan anti virus Covid-19 yang tepat. Banyaknya korban yang berjatuhan di setiap negara mengindikasikan bahwa wabah ini masih ada, dan terus berkembang hingga ditemukannya solusi tepat dalam menangani wabah mematikan ini.

Dampak pandemi Covid-19 telah menghantam semua sisi kehidupan manusia. Baik ekonomi, kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, ketahanan keluarga, semua menjadi satu problematika menonjol yang muncul di setiap negara. Bahkan banyak yang mengakibatkan resesi ekonomi di negara yang begitu hebat terkena dampak pandemi ini.

Bahkan para pengamat politik dan negara melihat sikap para politikus dan penguasa negeri merasa banyak yang berada di ujung tanduk. Demi mempertahankan kursi kepemimpinan dan menjaga kelangsungan aset yang dimiliki, maka berbagai kebijakan mulai dikeluarkan baik itu yang memiliki efek pro dan kontra di masyarakat.

Begitupun dunia kesehatan, lembaga yang paling sibuk saat ini telah berupaya penuh delam menangani pandemi dunia. Biaya yang tidak sedikit digelontorkan oleh lembaga kesehatan seperti WHO (World Health Organization) untuk menangani pandemi dengan berbagai cara, seperti pengembangan penemuan antivirus, peredaman penularan yang cepat, dan penekanan angka kematian akibat Covid-19.

Setiap negara di seluruh dunia diawasi oleh meereka, perkembangan setiap negara berbeda satu sama lain hasilnya, karena berbeda pula kebijakan dan penanganan wabah ini di setiap negara. Hingga baru-baru ini WHO memanggil pejabat kesehatan Indonesia untuk datang menemui mereka dengan tujuan membahas hal terkait pandemi..

Akhirnya muncullah pernyataan media yang memberikan berbagai prediksi dipanggilnya kementrian kesehatan Indonesia oleh WHO adalah sebuah prestasi besar dalam penanganan Covid-19 telah berhasil diraih. Benarkah demikian?

Seorang Epidemiolog dari Griffith University di Australia Dicky Budiman mengemukakan pendapatnya, bahwa ia tak yakin undangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) kepada Menkes Terawan Agus Putranto terkait keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia. Menurutnya dari isi surat undangan yang didapatnya, tidak ada pernyataan keberhasilan Indonesia dalam pengendalian pandemi. Undangan tersebut hanya mengakui keberhasilan indonesia dalam menerapkan kegiatan intra-aksi (intra action review/IAR) Covid-19. Tujuan IAR ini juga tidak semata untuk mendapat pengalaman keberhasilan, tetapi pengalaman tantangan atau hambatan atau kegagalan dalam menangani Covid-19 (Kompas, 6/11/2020).

Agenda pemanggilan dari WHO menjadi satu kesempatan emas bagi pihak rezim dengan cara kapitalisnya membuat satu leading opinion kepada khalayak umum, bahwa inilah klaim keberhasilan dari rezim atas penanganan pandemi di negeri tercinta. Ketika pihak penguasa sibuk mengolah kata, data dan informasi demi membentuk klaim “image” prestasi penting di mata masyarakat, atas keberhasilan penanganan pandemi yang diraihnya.

Inilah yang dilakukan para pengusung aistem kapitalis dalam membuat “catatan” kesuksesan. Dengan menggunakan “make up movement” overklaim atas keberhasilan yang nyatanya belum diraih. Keberhasilan yang memang diklaim, dibuat, diciptakan demi satu keuntungan situasi dan kondisi. Entah keuntungan apa yang dipikirkan, tetapi kenyataanya masyarakat mulai menilai dan mencari tahu informasi sebenarnya dan mempertanyakan keakuratan informasi yang di sebarkan kepada publik.

Akibatnya penilaian publik terhadap lembaga dan rezim dianggap kurang bijaksana dalam memberikan informasi yang jujur dan apa adanya. Perlunya memolitisasi dalam setiap melakukan sebuah ikatan ataupun komunikasi kepada masyarakat seakan menjadi benchmark (tolak ukur). Akibatnya berkuranglah kepercayaan publik. Padahal amanah penuh telah diberikan kepada para penguasa dan pejabat negeri, dalam mengurus negara dan rakyatnya dan menjalankan fungsinya dengan baik, jujur dan amanah kepada rakyat.

Inilah watak Sistem kapitalis sesungguhnya dalam menjalankan perannya. Menjalankan kepemimpinan dengan membangun kejujuran, yang semestinya ditegakkan demi kemaslahatan rakyat, bukan menjadi fokus tujuan dari sistem ini.

Tetapi sangat berbeda dengan apa dijalankan dari sebuah kepemimpinan yang amanah dan mengangkat kejujuran demi kemaslahatan sebuah negara dan rakyatnya. Bahkan memberikan informasi kepada publik harus berdasarkan kejujuran, keterbukaan, serta solusi jika memang dibutuhkan dilakulan oleh negara. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak perlu memanipulasi demi membangun sebuah citra politik diri seorang pemimpin di mata rakyat. Dan cara kepemimpinan seperti itu, ditunjukkan oleh sebuah sistem negara yang dinamkan sistem negara Islam.

Karena sebuah kepemimpinan dalam Islam memiliki pandangan yang tidak lepas dari pedoman utama yaitu Alquran dan Hadist.
Dimana kepemimpinan yang dijalankan olehnya dalam mengurus negara, menjadikan kedudukan seorang pemimpin dalam Islam sangatlah penting, karena fungsinya, amanahnya serta kejujurannya digunakan untuk menjalankan aturan Allah SWT di muka bumi.

Umat membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengayomi rakyatnya ke jalan yang benar sesuai dengan tuntutan syariat. Itulan jalan kemaslahatan, kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh umat. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *