Malapetaka Kapitalisme Mandul atasi Pandemi

Malapetaka Kapitalisme Mandul atasi Pandemi

Sistem kapitalisme adalah sistem yang rusak lagi kejam. Sistem yang menciptakan manusia-manusia tamak dan rakus. Manusia-manusia yang hilang empati di hatinya, yang tertawa ketika saudaranya menangis, yang kenyang ketika saudaranya lapar. Malapetaka kapitalisme kini semakin nyata dihadapan mata. Dia siap memangsa seluruh rakyat jelata. Maka masihkah rakyat mencintainya?



Oleh : Widya Soviana, ST., M. Si

POJOKOPINI.COM — Kapitalisme adalah cara pandang manusia yang cenderung kepada materi, yakni adanya keuntungan dan menolak kerugian. Dalam bahasa Arab, Kapitalisme disebut sebagai ra’sumalliyun yang berarti kepala harta. Secara tersirat makna kepala harta adalah kepala yang senantiasa dipenuhi dengan pemikiran uang, uang dan uang. Sebagaimana kata-kata mutiara dalam sistem Kapitalisme adalah “time is money“.

Bagi sebuah negara yang mengadopsi ideologi Kapitalisme, maka setiap permasalahan akan senantiasa diselesaikan dengan solusi perhitungan materi. Sekiranya tidak merugikan, maka akan diambil sebagai solusi namun sebaliknya jika merugikan maka rakyat harus sedia menanggung derita.

Dalam kasus Covid-19, semua menyadari bahwa “lockdown” adalah solusi satu-satunya untuk memutus rantai penyebaran wabah virus Corona. Tanpa boleh berlepas diri terhadap masyarakat yang ekonominya rendah, yang hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan harian. Sebab negara memiliki kewajiban dalam memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakatnya, terutama di masa darurat.

Sebagaimana amanah Undang-Undang Dasar 45 dalam pasal 34 ayat 1 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Jika negara telah terbiasa dengan memenuhi tanggung jawabnya, tentu tidaklah sulit dalam masa kedaruratan seperti saat-saat ini.

Bila hal ini dianggap sulit, dipastikan negara selama ini benar-benar abai dan tidak menjalankan amanah UUD yang telah dirumuskan sebagai pedoman bernegara. Selanjutnya, pertanyaan besar muncul di masyarakat, apa pedoman yang dijalankan penguasa dalam bernegara sebenarnya? Bila selama ini mengandalkan utang dibenarkan untuk membangun infrastruktur, maka mengapa untuk menyelamatkan nyawa masyarakatnya dalam pemberlakuan “lockdown” negara masih menolaknya. Bahkan menegaskan tidak akan melakukan lockdown (liputan6.com, 25/3/20).

Dapat disimpulkan bahwa saat ini, negara mengadopsi sistem demokrasi kapitalisme yang bersandar pada keuntungan semata. Negara sama sekali bukan sebagai perisai rakyatnya. Negara juga berlepas tangan terhadap nasib yang akan menimpa rakyatnya. Negara yang menganut sistem kapitalisme hanya berperan sebagai regulator saja, yang bahkan kebijakan yang diambilnya cenderung tidak berpihak kepada rakyat kecil tetapi lebih utama kepada para pemilik modal yang besar.

Beginilah sistem Kapitalisme mewujudkan dirinya dalam bernegara. Semakin jelas terlihat dan dirasakan, ketika rakyat sangat mengharapkan peran negara didalamnya. Rakyat dipaksa menjadi perisai bagi diri mereka masing-masing. Dengan isu “herd immunity“, yang digaungkan oleh rezim yang jahil. Bahwa Corona dapat disembuhkan, meski nyawa mungkin harus banyak yang hilang.

Sesungguhnya, kapitalisme hanyalah kesenangan bagi para pemilik modal saja. Mereka bukanlah orang yang rentan sebagaimana rakyat biasa. Dengan Kapitalisme mereka dapat terus mencengkram rakyat biasa. Menguasai ekonomi pasar dan menghimpit kehidupan rakyat kecil. Di saat-saat seperti ini, rakyat disajikan dengan harga sembako dan obat-obatan yang melangit. Ini menunjukkan bahwa rakyat kecil menjadi sasaran tereliminasi dari sistem yang rusak ini.

Sistem kapitalisme adalah sistem yang rusak lagi kejam. Sistem yang menciptakan manusia-manusia tamak dan rakus. Manusia-manusia yang hilang empati di hatinya, yang tertawa ketika saudaranya menangis, yang kenyang ketika saudaranya lapar. Malapetaka kapitalisme kini semakin nyata dihadapan mata. Dia siap memangsa seluruh rakyat jelata. Maka masihkah rakyat mencintainya?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *