Maraknya Perceraian di Tengah Pandemi, Apa Sebab?

Maraknya Perceraian di Tengah Pandemi, Apa Sebab?

Penerapan syariat Islam akan membentuk satu jaringan pengaman yang menjadi benteng kokoh untuk menjaga manusia termasuk keutuhan keluarga Muslim. Islam dengan seperangkat aturannya sangat siap untuk menjamin kesejahteraan manusia, terlebih dalam masa pandemi.


Oleh: Ummu Dafina (Ibu Penggerak Opini Islam)

POJOKOPINI.COM — Selama 6 bulan pandemi virus Corona di Indonesia sejak Maret 2020, sedikitnya 3 ribu lebih warga Kota Bekasi bercerai. Kenaikkannya sangat drastis. Pengadilan Agama wilayah setempat telah mencatat kasus gugatan perceraian sebanyak 3,111 kasus.

Pihak Pengadilan Agama Bekasi, Ummi Azma mengemukakan bahwa angka itu terbilang tinggi. Bahkan, sudah 50 persen lebih dari angka kasus perceraian di Kota Bekasi tahun 2019 yang mencapai 4.343. Terpuruknya ekonomi selama pandemi terjadi tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi melonjaknya kasus perceraian di Bekasi (jabar.suara.com).

Rapuhnya landasan rumah tangga yang berasaskan kapitalisme dan keringnya nilai spiritual penyebab utama terjadinya perceraian. Dijadikannya materi sebagai sumber kebahagiaan membuat salah satu pasangan mengajukan gugatan.

Takut miskin dan tidak makan serta mahalnya biaya hidup membuat suami/ istri tidak percaya dapat menghadapi ujian bersama. Jika saja pasangan ini mau melihat sekitar, bahwasanya kesulitan hidup hampir merata di seluruh lapisan masyarakat, seharusnya mereka bisa sabar, tawakal dan senantiasa Ridha terhadap takdir Allah. Allah tidak akan mungkin memberikan manusia di luar batas kemampuannya.

Banyak sekali orang yang tadinya berpenghasilan tinggi rela jualan es, jual nasi uduk, cemilan, dll, di pinggir jalan demi menyambung hidup. Mereka rela mengenyampingkan gengsi. Kuat tekad dan pantang menyerah.

Rezeki setiap manusia sudah Allah tentukan. Allah tidak akan mencabut nyawa manusia selama rezekinya masih ada, tinggal kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita disisi Allah. Bukankah Allah SWT berfirman dalam QS; At-Thalaq yang artinya: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan berikan jalan keluar baginya dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Selama takwa ada, maka rezeki tak disangka arahnya pasti berdatangan. Hanya saja, iklim takwa ini yang tak lazim dalam sistem kapitalisme sekuler. Yang ada justru iklim maksiat dan memandang hidup sekadar nilai materi. Ini aspek politis yang sangat bergantung pada bagaimana tata kelola manusia oleh negara.

Satu hal yang harus dipahami juga adalah ketik Allah memberikan ujian, pasti Allah juga memberikan jalan keluar. Pun ketika Allah menguji kita dengan pandemi ini, sesungguhnya sudah ada panduannya melalui uswah Rasulullah Saw. Dimana dalam menyikapi wabah ini Rasulullah Saw melakukan isolasi total di wilayah yang terkena wabah, dengan menjamin seluruh kebutuhan dasar masyarakatnya, sampai wabah reda. Hal ini terus dilakukan oleh para Khalifah setelah beliau wafat.

Ketiadaan khilafah saat ini menjadi akar permasalahan dari berbagai masalah di dunia ini, termasuk perceraian. Kapitalisme sekuler dan sosialis komunis terbukti gagal menjawab problematika hidup. Justru menambah pelik problematika kehidupan.

Penerapan syariat Islam akan membentuk satu jaringan pengaman yang menjadi benteng kokoh untuk menjaga manusia termasuk keutuhan keluarga Muslim. Islam dengan seperangkat aturannya sangat siap untuk menjamin kesejahteraan manusi, terlebih dalam masa pandemi.

Saatnya membuang sistem buatan manusia yang rusak dan cacat dengan beralih pada sistem Islam. Sistem terbaik yang berasal dari Allah juga diridhai-Nya. Apakah hukum jahiliyyah yang kalian kehendaki, Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang yang yakin?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *