Masuk Sekolah di Zona Hijau, Orangtua Masih Galau

Masuk Sekolah di Zona Hijau, Orangtua Masih Galau

Keraguan banyak pihak mengenai keputusan masuk sekolah dengan tatap muka ini sangat wajar. Orangtua pun tidak serta merta mengizinkan anak-anak mereka masuk sekolah sekalipun berada di zona hijau. Hal ini dikarenakan masih rentannya penularan Covid-19, apalagi memasuki new normal. 


Oleh: Irma Sari Rahayu, S.Pi

POJOKOPINI.COM — Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan tidak akan mengubah jadwal awal tahun ajaran baru tetap di bulan Juli. Keputusan ini menuai pro dan kontra, karena pandemi Covid-19 belum menunjukkan penurunan kasus. Namun, Mendikbud Nadiem Makarin menjelaskan bahwa sekolah yang boleh melakukan kegiatan belajar tatap muka adalah yang berada pada zona hijau (Republika.co.id, 16/6/20).

Dilansir dari laman yang sama, Nadiem Makarim menambahkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh sekolah di zona hijau jika akan melakukan kegiatan belajar tatap muka. Ketentuan tersebut diantaranya, pihak sekolah harus siap mengikuti protokol kesehatan, adanya persetujuan dari pemerintah daerah setempat serta izin dari orangtua siswa. Pembukaan sekolah di zona hijau inipun dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat SMP dan SMA, SD dan terakhir tingkat PAUD. Semua jenjang berjarak 2 bulan (Republika.co.id, 16/6/20).

Namun, keputusan Mendikbud tersebut dikritisi oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Hasil survei yang dilakukan FSGI menyatakan sekitar 55% satuan pendidikan belum siap untuk memenuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. FSGI menilai, banyak sekolah yang kesulitan dalam memenuhi sarana dan prasara kesehatan seperti penyediaan wastafel, sabun dan masker untuk siswa dan guru. Sekolah juga belum siap dalam mengatur pembatasan siswa, pengaturan jadwal belajar jika diterapkan aturan shift dan sebagainya (detiknews.com, 16/6/2020).

Masih Rentan Penularan

Banyak pihak yang meragukan keputusan Kemendikbud mengizinkan sekolah di zona hijau untuk beraktivitas kembali. Masalahnya, kondisi pandemi Covid-19 belum menunjukkan angka penurunan. Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dan mengambil keputusan dengan bijak dan matang. Beliau menambahkan, sekolah bisa dibuka kembali jika kondisi pandemi benar-benar sudah bisa dikendalikan secara umum (Republika.co.id, 16/6/2020).

Keraguan banyak pihak mengenai keputusan masuk sekolah dengan tatap muka ini sangat wajar. Orangtua pun tidak serta merta mengizinkan anak-anak mereka masuk sekolah sekalipun berada di zona hijau. Hal ini dikarenakan masih rentannya penularan Covid-19, apalagi memasuki new normal. 

Perlu Pertimbangan Matang dan Kesiapan Semua Pihak

Keputusan untuk membuka sekolah di zona hijau harus benar-benar matang dan bijak karena menyangkut keselamatan jiwa siswa juga guru. Kemendikbud juga harus benar-benar melihat kesiaoan sekolah dan seluruh pihak kesatuan pendidikan dalam menerapkan protokol kesehatan standar Covid-19. 

Hal-hal yang harus diperhatikan di antaranya, pertama, kesiapan sekolah dalam mempersiapkan sarana kebersihan seperti sabun, wastafel, hand sanitizer di setiap kelas. Kedua, mengatur jumlah siswa yang masuk di dalam kelas agar tercapai upaya social distancing antar siswa. Jika jumlah siswa perkelas sangat banyak, maka harus diatur teknis khusus agar siswa tetap bisa belajar dengan aman. 

Ketiga, sekolah harus memetakan tempat tinggal dan siswa dan guru. Apakah tinggal di zona hijau atau tidak. Sekolah mempersiapkan langkah strategis selanjutnya jika ternyata terdapat perbedaan zona tempat tinggal siswa dan guru. Keempat, memetakan alat transportasi yang digunakan siswa. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai penularan Covid-19 jika ternyata ada siawa yang menggunakan sarana angkot atau ojek. Tak lupa pula pengaturan para pengantar agar tidak terjadi kerumunan di satu titik dalam jumlah besar. 

Kelima, kesiapan mental orang tua, guru dan siswa dalam menerapkan protokol kesehatan penularan Covid. Siswa harus dipastikan selalu mengenakan masker, mencuci tangan, tidak bermain bersama dan tidak meminjam barang-barang pribadi temannya. 

Keenam, pemerintah daerah harus memberi jaminan bahwa daerah tempat sekolah yang akan dibuka benar-benar berada pada zona hijau. Hal ini bisa dibuktikan dengan memberikan update data valid penurunan kasus penularan Covid di daerah tersebut dan mensosialisasikan kepada masyarakat.

Mungkin terlihat sangat rumit untuk diterapkan. Namun tetaplah keselamatan siawa dan guru harus menjadi prioritas. Jika sekolah, guru dan siswa dirasa belum siap, lebih baik pembelajaran tetap dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh namun dengan metode yang tidak menyulitkan orang tua juga siswa.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *