Masyumi Reborn dan Dagangan Politik ala Kapitalisme Demokrasi

Masyumi Reborn dan Dagangan Politik ala Kapitalisme Demokrasi

Akankah cita-cita untuk menjadikan ajaran dan hukum Islam sebagai dasar negara yang sebelumnya diperjuangkan Masyumi dan kandas di Konstituante bisa diwujudkan kembali jika yang haq (fikrah Islam) dicampur dengan yang batil (thariqah demokrasi)?


Oleh: Ns. Sarah Ainun, M.Si

POJOKOPINI.COM — Jika kita mengkaji Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi Muhammad Saw), tidak hanya menceritakan bagaimana kehidupan pribadi beliau dan perjalanan spiritual Nabi Saw menerima wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umatnya serta amalan-amalan sunah yang beliau kerjakan. Namun juga yang saat ini coba dikaburkan bahkan dihilangkan karena dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman untuk ditiru penerapanya adalah sejarah bagaimana thariqah (metode) perjalanan politik Nabi Saw membangun sebuah negara Islam dalam mengemban dakwah menyebarkan Islam ke seluruh dunia dan menerapkan semua wahyu yang diturunkan (syariah) Allah SWT secara sempurna di bawah institusi politik yang berideologikan Islam.

Dalam Penjelasan Kitab Daulah Islam karangan Abu Fuad menggambarkan bagaimana perjalan politik dakwah Nabi Saw dan para sahabat yang penuh dengan perlawanan keras dan brutal dari bangsa Quraisy. Sampai pada titik tekanan fisik tidak mampu mempengaruhi dan menghentikan dakwah Nabi Saw dan para sahabat, bahkan Islam semakin menyebar luas di Makkah. Maka, tokoh-tokoh Quraisy bersepakat menggunakan cara bujuk rayu (tawaran) dengan mengirim seorang utusan kepada Nabi Saw yang bernama Utbah. Utbah pun berkata kepada Nabi Saw

Kemenakanku, apabila dengan yang engkau bawa ini engkau menginginkan harta, maka kami akan mengumpulkan seluruh harta kami agar engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Apabila engkau menginginkan kehormatan, maka kami mengangkatmu sebagai pemimpin dan kami tidak akan memutuskan perkara tanpamu. Apabila engkau menginginkan kekuasaan, maka engkau kami angkat sebagai raja. Dan apabila yang datang kepadamu sebangsa jin yang tidak mampu engkau usir, maka kita carikan tabib untukmu dan mengeluarkan harta kami hingga engkau sembuh darinya, karena boleh jadi jin mengalahkan orang yang dimasukinya hingga ia sembuh darinya.”

Berbagai upaya bujuk rayu pun terus digencarkan oleh orang-orang Quraisy. Namun Nabi Saw menolaknya karena Allah SWT memperingatkan beliau yang dijelaskan dalam Qur’an surat al-Qalam ayat 8-9 dan al-Isra ayat 73-75. Agar beliau tidak jatuh ke dalam jebakan setan yang dipasang oleh tokoh-tokoh Quraisy karena sifat mudahanah (mencari muka/bermanis muka), musyawarah (mengikuti kehendak musuh) bersepakat dengan hukum-hukum dan syariat Allah SWT dan tamalluq (menjilat).

Jika perjuangan Nabi Muhammad Saw dengan para sahabat tujuannya untuk menyebarkan agama Islam di Makkah dan luar Makkah yang pada masa itu agama yang dianut oleh kaum Quraisy adalah agama nenek moyang mereka dengan menyembah banyak berhala dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi negara. Namun setelah runtuhnya daulah Islam 1924 yang dimotori oleh Barat melalui agennya Mustafa Kemal Atartuk yang mengganti ideologi Islam dengan ideologi sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan sebagai dasar negara. Maka, perjuangan pengemban dakwah setelahnya dan sampai akhir jaman adalah mengembalikan kehidupan Islam ke tengah-tengah umat.

Catatan sejarah politik Islam Indonesia yang dipersiapkan sebelum kemerdekaan Indonesia 1945 adalah dibentuknya Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebuah partai politik Islam pada tahun 1943 yang tujuanya ingin mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah umat hal ini tercermin dalam Anggaran Dasarnya, disebutkan bahwa Masyumi memiliki tujuan: terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang-seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridaan Ilahi. Namun, partai politik Islam ini berakhir (resmi dibubarkan) pada 17 Agustus 1960 oleh presiden Soekarno.

Saat ini sejumlah petinggi Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mendeklarasikan kembali berdirinya Partai Masyumi bertepatan dengan ulang tahun Masyumi yang ke 75 pada 07 November 2020 dengan hashtag Masyumi Raborn“. Manuver politik KAMI pun tidak tanggung-tanggung Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII) A. Cholil Ridwan mengajak bapak reformasi Amien Rais dan Ustaz Abdul Somad (UAS) untuk ikut menjadi anggota Majelis Syuro Partai Masyumi bahkan ia mengatakan setuju seumpama UAS mau menjadi ketua umum partai Masyumi dan Cholil juga mengaku bakal mengajak Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab, serta ormas-ormas Islam lainnya untuk ikut bergabung ke dalam partai Masyumi.

Kemudian PA 212 bergabung dengan Masyumi, Habib Rizieq mendukung Partai Masyumi ini, insyaallah tidak akan ada satu kekuatan partai politik yang bisa mengalahkan Partai Masyumi di masa yang akan datang,” tuturnya. Ia pun menambahkan “Partai komunis gaya baru akan pingsan kalau mendengar Partai Masyumi bergabung dengan Partai Umat, didukung PA 212, FPI” (CNN Nasional, 07/11/2020).

Masih dikutip dari CNN Indonesia (07/11/2020), menanggapi ajakan KAMI, Amien menyebut untuk sementara ini dia masih akan fokus membangun Partai Umat. “Kalau saya, misalnya Masyumi lebih besar, Partai Umat saya bubarkan untuk Masyumi. Tapi, kalau Partai Umat lebih besar, please join us,” ujar Amien.

Agaknya KAMI melihat peluang besar di tengah-tengah kondisi politik demokrasi Indonesia saat ini yang mengalami krisis ketidakpercayaan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam terhadap rezim dan partai-partai politik yang ada. Dengan mengajak tokoh-tokoh politik dan Islam serta ormas-ormas Islam bergabung dalam partai Masyumi, tentu saja diharapkan akan mendapatkan dukungan seluruh rakyat Indonesia yang kesadaran politiknya mulai terbangun, yang menginginkan kebangkitan serta persatuan umat untuk membangun negeri ini.

Namun entah disadari atau tidak, ini tak ubahnya gaya politik dagang kapitalisme demokrasi dalam memperoleh kekuasaan. Bagaimanapun, Islam merupakan magnet yang saat ini begitu kuat daya tariknya di Indonesia, dengan menjual label Islam namun menggunakan thariqah (metode) yang batil dengan praktik tawar-menawar jabatan dan kedudukan kepada tokoh-tokoh yang memiliki popularitas di tengah-tengah umat untuk meraup dukungan suara sebanyak-banyaknya dalam pentas perebutan kursi kekuasaan. Lantas bisakah kita melihat bedanya dengan partai-partai lain yang sama-sama tenggelam dalam lumpur kapitalisme demokrasi?

Seperti dikutip dari Kompas.com (23/02/2018). Agaknya tidak berlebihan bila CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menilai isu populisme agama kerap digunakan untuk memenangkan hati masyarakat. Tujuannya tentu saja untuk meraup suara sebanyak-banyaknya pada saat Pemilu.

Akankah cita-cita untuk menjadikan ajaran dan hukum Islam sebagai dasar negara yang sebelumnya diperjuangkan Masyumi dan kandas di Konstituante bisa diwujudkan kembali jika yang haq (fikrah Islam) dicampur dengan yang batil (thariqah demokrasi)?

Bagaimana mungkin umat Islam berjuang dengan gigihnya menolak ideologi komunis karena bertentangan dengan ajaran Islam menolak adanya Sang pencipta. Namun, di sisi lain menerima demokrasi yang berideologikan kapitalisme sekuler yang pernah dipraktikkan oleh kafir Quraisy warisan jahiliyyah dan jelas-jelas ditolak oleh Nabi yang mendapatkan peringatkan tegas dari Allah SWT untuk tidak berada dalam parlemen orang-orang Quraisy tersebut karena mengingkari keberadaan Allah SWT sebagai satu-satunya al-Khalik dan al-Hakim dan Muhammad Saw sebagai Rasul-Nya. Parlemen yang terdiri dari perwakilan tokoh-tokoh terkemuka Bani (suku-suku) Quraisy di Makkah untuk tujuan bersepakat dalam hukum-hukum yang memecahkan masalah dan mengatur kehidupan mereka dengan jalan bermusyawarah mengambil suara terbanyak.

Keberadaan partai politik Islam memang dibutuhkan di tengah-tengah umat untuk persatuan dan kebangkitan umat yang saat ini terpecah belah dan kondisi sosial, budaya, ekonomi, hukum yang mengatur segala aspek kehidupan semakin hari semakin menuju kepada peradaban jaman jahiliyah. Sudah selayaknya ketika umat ingin menjadi khairu ummah, umatnya Nabi Muhammad Saw di atas muka bumi ini. Maka sudah seharusnya mengikuti Nabi Saw dalam membentuk partai politik yang berideologikan Islam yaitu dengan fikrah (pemikiran) Islam dan thariqah (metode) yang dicontohkan Nabi Saw.

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Al-Jatsiyah : 18).[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *