Maulid Nabi: Momentum Kembali kepada Islam Kaffah

Maulid Nabi: Momentum Kembali kepada Islam Kaffah

Tidak diterapkan syariat Islam menjadi penyebab utama seluruh persoalan kehidupan baik yang bersifat individu, keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia khususnya yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin. Jadi jangan harap seluruh permasalahan akan tuntas selama kaum muslimin masih enggan menerapkan Islam kaffah.


Oleh: Feryal Ummu Dafina

POJOKOPINI.COM — Dua belas Rabiul Awal Rasulullah Saw lahir, membuat bahagia semesta alam. Kezaliman dan kebatilan akan sirna. Hal ini salah satunya ditandai dengan padamnya api biara Majusi, yang selama ribuan tahun tidak pernah mati. Mereka sangat menyadari jika hal itu terjadi maka akan lahir Nabi dan Rasul terakhir. Hanya saja mereka tidak mengetahui siapa dan di mana bayi tersebut lahir.

Lahirnya Rasulullah Saw artinya lahir umat dan negara Islam. Pribadi Rasulullah Saw yang agung dan mulia diakui masyarakat Arab saat itu, jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Siapapun akan takjub dan kagum akan keluhuran akhlak beliau. Namun keluhuran akhlak ternyata tidak cukup untuk menyakinkan bangsa Arab untuk langsung memeluk Islam.

Awalnya dakwah Nabi Muhammad Saw dianggap biasa dan bukan ancaman ketika masih berisi masalah tauhid dan ibadah. Karena secara keyakinan bangsa Arab mengakui bahwasanya Allah lah Rabb dan pencipta alam semesta. Hanya saja dalam pelaksanaan tata cara ibadah dan pola hidup mereka hanya menerka dan sesuai keinginan hawa nafsu.

Islam dianggap ancaman ketika mereka mengetahui bahwasanya Islam bukan hanya sekadar agama yang mengatur masalah aqidah saja. Melainkan juga mengatur seluruh aspek kehidupan yang akan mengancam eksistensi mereka, para pembesar Quraisy.

Kondisi bangsa Quraisy yang saat itu carut-marut, di mana hukum rimba yang berlaku, yang kuat menindas yang lemah, hukum suka-suka yang berkuasa, istri dijadikan waris, anak perempuan dianggap aib, akad jual-beli yang batil, mengurangi timbangan, dll.

Dengan hadirnya Islam dan keteguhan dakwah semua kondisi buruk ini berubah 180 derajat. Bangsa Arab yang awalnya tidak diperhitungkan keberadaannya menjadi mercusuar peradaban tertinggi dunia, bahkan mampu bertahan hingga 13 abad.

Prestasi gemilang ini tidak terlepas dari tangan dingin Rasulullah Saw dalam membina para sahabat sehingga mampu mengatur visi dan misi perjuangan. Beliau bukan hanya seorang Nabi dan Rasul, tetapi juga sebagai pemimpin pemerintahan, negarawan ulung, pemimpin perang, seorang suami, ayah, kakek, tetangga yang baik, pengusaha yang sukses dll, yang tidak akan habis tangan ini mencatatnya.

Alangkah beruntungnya kita, sebagai umatnya. Memiliki contoh sempurna dalam kehidupan. Bagaimana dan seperti apapun kondisi kita saat ini, Rasulullah Saw lah satu-satunya yang layak kita teladani. Selain karena tuntutan iman, juga karena tuntutan kebutuhan hidup dalam menyikapi berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini.

Sejak kaum muslimin tidak memiliki junnah dan khilafah dihapus oleh Mustafa Kamal pada tahun 1924, tragedi demi tragedi, kehinaan demi kehinaan menimpa umat ini. Kegemilangan peradaban selama 13 abad seolah lenyap tidak berbekas. Kaum muslimin seperti anak ayam kehilangan induknya. Mereka malu dengan ajaran agamanya, termakan oleh propaganda barat yang menggambarkan Islam sebagai agama yang buruk, kumuh, terbelakang, teroris, radikal dll. Kaum muslimin dibuat silau dengan peradaban barat yang secara fisik maju tetapi bobrok.

Tidak diterapkan syariat Islam menjadi penyebab utama seluruh persoalan kehidupan baik yang bersifat individu, keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia khususnya yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin. Jadi jangan harap seluruh permasalahan akan tuntas selama kaum muslimin masih enggan menerapkan Islam kaffah.

Islam dan kekuasaan menjadi kekuatan besar yang pernah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat. Selama kaum muslimin tetap berpegang teguh pada keduanya. Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, pendidikan, kedokteran, astronomi, pertanian, pusat peradaban, dll.

Agar bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw saat ini, tidak hanya seremonial belaka, hendaknya menjadi momentum umat Rasulullah Saw untuk kembali kepada Islam kaffah. Mencintai dan mencontoh Rasulullah Saw secara utuh dalam seluruh aspek kehidupan, menjadi Ummatan Waahidah, Daulatan Waahidah, Raayatan Waahidah, dalam naungan Khilafah Rasyidah yang tidak lama lagi akan tiba. Insya Allah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *