Melatih Taat adalah Bukti Cinta

Melatih Taat adalah Bukti Cinta

Hancur sudah kehidupan manusia. Tercabik fitrahnya hingga bahkan mereka lebih hina daripada binatang. Itu semua bermula, ketika manusia tak lagi melihat agama dalam kehidupannya. Kebebasan menjadi asas setiap perbuatan mereka.


Oleh: Susi Ummu Zhafira (Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Cinta itu butuh bukti bukan cuma sekadar kata tanpa arti. Begitu pun rasa cinta seorang ibu kepada buah hatinya. Tak sekadar terungkap dalam setiap ucap tapi terbukti dari bagaimana ia ungkapkan lewat perbuatan. Menjaga dalam kandungan, melahirkan dengan kepayahan, menyusui hingga waktu yang ditentukan, merawat dengan penuh kasih sayang, bahkan rela jiwa dan raga letih demi melihat buah hatinya bahagia.

Jika untuk kebahagiaan dunia saja ia siap berkorban, tentu ibu yang beriman tak akan pernah rida melihat anaknya tersentuh api neraka barang sehelai rambut pun. Maka wajar jika ia akan melakukan berbagai upaya agar anaknya bisa selamat dunia akhirat. Salah satunya dengan mendidik mereka agar taat kepada Rabb-Nya, membiasakan anak perempuannya menutup aurat sedini mungkin.

Beberapa waktu lalu video reportase pendek DW Indonesia yang berjudul “Anak-anak, Dunianya, dan Hijab” viral. Video tersebut menanyakan apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ia kenakan? Di dalamnya, Rahajeng Ika, seorang psikolog mengkhawatirkan kondisi anak yang akan mengalami kebingungan di kemudian hari. Hal ini disebabkan sejak awal dia belum paham alasan kenapa dia harus berjilbab.

Senada dengannya, Nong Darol Mahmada, seorang feminis Muslim mengatakan bahwa pemakaian jilbab sejak kecil akan berdampak kurang baik pada kehidupan sosial si anak. Mereka akan cenderung memiliki sikap mengekslusifkan diri dari lingkungan karena merasa berbeda. Nong Darol berpendapat bahwa semestinya anak-anak diberikan kebebasan. Di usia anak-anak itu mestinya mereka dibiarkan memilih menjadi seperti apa saja tanpa dipaksakan untuk menggunakan jilbab sebagai identitasnya.

Kehidupan akhir zaman memang serba menyesatkan. Kalau ada anak non muslim lalu dia dipaksakan menutup aurat sejak dini, tentu ini merupakan sebuah kejanggalan yang tidak seharusnya dilakukan.

Tapi anehnya, yang dikritik dalam video tersebut adalah anak-anak Muslim. Seolah apa yang dilakukan orang tua muslim itu salah. Memaksakan kehendak tanpa memberikan anak-anak pilihan adalah sebuah kesalahan yang berdampak buruk bagi kehidupan anak di kemudian hari.

Kehidupan sekularisme benar-benar telah mengakar pada masyarakat modern hari ini. Menganggap bahwa semua harus dibebaskan. Hidup itu harus suka-suka yang menjalaninya. Tak perlu terikat dengan aturan. Kalau pun ada aturan, semuanya juga harus manusia yang tentukan.

Inilah awal mula petaka itu dimulai. Manusia tak lagi peduli dengan aturan Sang Ilahi. Agama tercerai dari kehidupan manusia. Boleh beragama, asal hanya sebatas urusan peribadahan saja. Bagaimana cara menyembah Tuhanmu, silakan pakai bagaimana agamamu mengatur. Tapi untuk urusan kehidupan, berpolitik, bersosialisasi, berekonomi, semuanya gunakan aturan main bersama.

Sekularisme berpandangan bahwa agama tak perlu ikut campur dalam kehidupan manusia. Agama hanyalah mengurus urusan akhirat, tak ada aturan kehidupan yang mengikat. Maka wajar jika penganutnya bergaya hidup hedonis, penyembah kebebasan. Lakukan sesukamu, apa saja yang menjadi keinginanmu dan itu bagian dari kreativitas.

Justru pandangan inilah yang menghancurkan umat manusia hari ini. Kebebasan itu kemudian membuat mereka menjadi manusia yang melampaui batas, penyembah hawa nafsu. Tak perlu menutup aurat, jika kamu tak merasa nyaman. Silakan berpacaran, jika dengannya justru kamu bisa saling memberi dukungan. Tak masalah menyukai sesama jenis, asal tak ada paksaan. Boleh saja berzina daripada berpoligami tapi tak mampu berlaku adil, dan sebagainya.

Hancur sudah kehidupan manusia. Tercabik fitrahnya hingga bahkan mereka lebih hina daripada binatang. Itu semua bermula, ketika manusia tak lagi melihat agama dalam kehidupannya. Kebebasan menjadi asas setiap perbuatan mereka. Nauzubillah.

Islam agama sempurna. Dia mengatur tak hanya urusan bagaimana menyembah Allah sebagai sesembahan, tapi juga mengatur seluruh kehidupan mereka sebagai bagian dari penyembahan sempurna kepada Sang Pemilik kehidupan. Beribadah ada aturannya, berpakaian, bersosialisasi, berekonomi bahkan berpolitik pun ada aturannya.

Sebagai umat muslim, terikat dengan hukum-hukumnya adalah kewajiban. Ketika ditaati berpahala, ditinggalkan berbuah dosa dan akan diberikan siksa kelak di hari akhir. Hal ini adalah konsekuensi keimanan.

Jadi sebuah kewajaran bahkan memang seharusnya orang tua Muslim menginginkan anaknya untuk taat kepada Rabbnya. Ketaatan ini perlu dilatih sejak kecil. Begitu juga ketaatan pada perintah menutup aurat, mengenakan jilbab dan kerudung sedini mungkin. Sebab semua berawal dari kebiasaan.

Apalagi kehidupan hari ini tak ramah untuk anak-anak Muslim. Memberikan ruang yang amat sempit bagi mereka untuk tumbuh menjadi generasi taat.

Satu-satunya tempat yang masih bisa merawat fitrah keimanan mereka adalah keluarga. Maka sebagai ayah dan ibu yang mencintai anak-anak, kita harus buktikan cinta ini dengan terus berbenah diri. Membekali diri dengan ilmu, mendidik mereka dengan agama, melatih mereka untuk senantiasa taat pada Rabbnya.

Sehingga kelak akan ada masa di mana kehidupan manusia kembali kepada puncak kegemilangan. Islam memancarkan kebaikannya karena diterapkan di setiap sendi kehidupan. Manusia mulia, bukan karena banyaknya harta. Tapi karena kehidupan mereka diliputi keridaan dari Sang Maha Mencipta.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *