Memanasnya Iran-Amerika, Main Mata Lagikah ?

Memanasnya Iran-Amerika, Main Mata Lagikah ?

Oleh : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Memanasnya hubungan Amerika dengan Iran menjadi sorotan publik dunia. Terlebih setelah isu perang dunia ketiga akan pecah. Awalnya isu ini berhembus karena semakin memburuknya hubungan Amerika dengan Iran. Diawali oleh tindakan Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dengan berbagai negara, termasuk dengan Iran setelah menjadi presiden. Dirinya juga kembali menerapkan sanksi kepada Iran yaitu melarang produksi nuklir. Kedua negara ini terus berkonflik dan kematian jenderal top Iran menjadi puncaknya.

Donald Trump merencanakan penyerangan rahasia pada tanggal 3 Januari 2020 tanpa sepengetahuan Kongres. Penyerangan terjadi di Bandara Internasional Baghdad, Irak dan menewaskan setidaknya 8 orang. Salah satu yang meninggal adalah orang nomor dua Iran, Qassem Soleimani, arsitek kebijakan Iran di Timur Tengah yang setia kepada Amerika.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei bersumpah dihadapan rakyatnya untuk melakukan balas dendam. Iran menuntaskan dendamnya dengan menyerang dua pangkalan militer Amerika di Irak dengan lebih dari selusin rudal balistik.

Kekhawatiran terjadi perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran sedikit mereda setelah Presiden Donald Trump menyatakan mundur dari konflik (cnnindonesia 14/012020). Amerika tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk membalas serangan rudal dan roket Iran ke basis pasukan mereka di Irak. Sejumlah pihak menganggap sikap Trump itu di luar prediksi, karena tidak sedikit yang mengira Amerika akan merespons lewat serangan lebih dahsyat meski tidak satupun tentara mereka yang tewas akibat rudal Iran.

Sebagian pakar berspekulasi bahwa perubahan sikap Trump karena tidak memperoleh restu dari Kongres. Tanpa persetujuan Kongres AS, anggaran perang tidak akan pernah turun sehingga Trump tidak punya sumber dana untuk berperang lebih jauh dengan Iran. Rakyat Amerika sendiri tidak menyambut genderang perang itu, bahkan mengecamnya dengan melakukan protes. Dewan Perwakilan AS mesti menggelar jajak pendapat demi mencegah Trump berperang dengan Iran.

Anehnya pada saat bersamaan, Iran juga menunjukkan sinyal untuk menurunkan tensi. Presiden Iran Hassan Rouhani sepakat bahwa satu-satunya solusi untuk mengakhiri krisis dengan Amerika adalah dengan penurunan eskalasi.
Terlebih, kenyataan pahit bahwa militer Iran tak sengaja menembak jatuh pesawat komersial Ukraina hingga menewaskan seluruh penumpang dan awak. Insiden yang menimpa pesawat Ukraine International Airlines itu membuat pemerintahan Hassan Rouhani menghadapi rasa malu dan protes dari publik sendiri.

Untuk kesekian kali dua negara ini membuat kegaduhan yang memaksa dunia mengarahkan pandangannya kearah eskalasi hubungan mereka. Jika diperhatikan dengan seksama, akan didapati pola yang tidak pernah berubah. Ribut-ribut tak menentu lalu kembali ke status quo, di mana kedua negara akan terus berselisih kemudian saling melontarkan ancaman.

Iran bukanlah negara besar, namun Trump melalui berbagai manuver politiknya telah memblow up keberadaan Iran. Hal yang sama saat ini juga sering dilakukan oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. Sejak awal Iran adalah boneka terselubung Amerika dan sekutu Israel dibalik layar. Hubungan kedua negara ini berjalan mesra meski mengalami pasang surut tergantung kepada siapa agen yang duduk memegang tampuk kekuasaan di Iran, apakah ia mau tunduk pada kepentingan Amerika atau tidak. Jika ia tunduk, maka semua akan berjalan baik hingga ia tak dibutuhkan lagi, maka ia dicampakkan.

Amerika dan Israel telah lama memainkan negara ini demi memuluskan kepentingannya di dunia Arab. Inilah permainan diplomatik level dewa ala Trump. Iran seolah tampil sebagai negara Islam yang tidak dapat dikontrol oleh Amerika. Kita tidak boleh terkecoh, Trump sedang mengalihkan arah pandang umat dan masyarakat dunia dari berbagai krisis dunia yang dibidaninya. Para Pakar mensinyalir bahwa pembunuhan Soleimani hanya upaya Trump untuk mengalihkan isu pemakzulan yang tengah diproses di Senat.

Lalu bagaimana dengan Iran ? sesungguhnya siapapun yang mengikuti dan mengamati watak hubungan Barat secara umum dan Amerika secara khusus dengan Iran sadar bahwa hubungan mereka tidak pernah terputus sepanjang sejarah. Iran adalah negeri yang berafiliasi dengan Yahudi, sebagaimana akar aqidahnya yaitu Syiah.

Iran bukan sekali ini ditampilkan bak pahlawan kesiangan, hubungan mesranya yang rahasia maupun terang-terangan sejatinya telah terbongkar lama. Misal ketika kasus Iran-Contra atau Iran Jet. Penguasa Iran lebih dekat dengan Yahudi dibanding Sunni. Namun mengapa Amerika tak pernah garang pada Iran ? Ya pada akhirnya kisruh dan kegemparan yang diblow up hanya menjadi sebatas perang opini, kemudian hilang. Iran syiah telah lama mendamba Yahudi. Hubungan antara kaum Syi’ah dan Barat belum terputus sejak AS belum lahir dan sebelum beralihnya negeri Persia menjadi Syi’ah yang disusul dengan penggantian nama negara menjadi Iran.

Hubungan tersebut terus berkembang, bermula dengan koalisi Syi’ah dengan pasukan Salib, menyusul koalisi dinasti Shafawi dengan negara-negara Eropa melawan Khilafah Utsmaniah, seperti Hungaria, Austria, Prancis dan Inggris. Pada masa pemerintahan Dinasti Pahlevi pada awal abad ke-XX, hubungan Iran dengan Inggris yang merupakan negara super power waktu itu semakin kuat. Inggris berperan sangat penting dalam menjatuhkan Khilafah Utsmaniah. Shah Muhammad Reza Pahlevi yang pernah mengenyam pendidikan di Swiss memiliki hubungan yang sangat kuat dengan intelijen Inggris lewat sosok Monsieur Brown.

Setelah Amerika menerima bendera hubungan tersebut dari Inggris, AS juga melanjutkan hubungan tersebut. Di mana AS berhasil membantu Shah Muhammad Reza Pahlevi untuk kembali berkuasa lagi setelah revolusi Mossadegh tahun1963. Selanjutnya Shah Reza aktif menjadi anggota di American Club of Employment. Kemudian, AS menjadikan Iran sebagai drama untuk mencapai kepentingan mereka di kawasan Arab secara keseluruhan. Sejak itu pula hubungan kedua negara tersebut terus berjalan dan tidak putus hingga sekarang.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *