Membangun Ketahanan Keluarga di Tengah Wabah

Membangun Ketahanan Keluarga di Tengah Wabah

Oleh: Ummu Faizah (Ibu Rumah Tangga, Pedakwah dan Pemerhati Keluarga dan Generasi)

POJOKOPINI.COM — Isak tangis pun pecah mengiringi jasad JL (33) yang ditemukan tergantung tak bernyawa di sebuah kebun kosong. JL diduga bunuh diri karena depresi tak sanggup bayar cicilan kendaraan dan menganggur selama 2 bulan karena wabah Covid-19 (CNNIndonesia.com,7/4/2020).

Wajah-wajah muram pun menghiasi para supir ojek online. Sejak diberlakukannya social distancing dan physical distancing, beberapa perusahaan memberlakukan kebijakan Work From Home. Pun sekolah dan kampus. Kementrian Pendidikan pun mengeluarkan kebijakan Study From Home atau Home Learning. Wajarlah jika supir Ojol merasa gelisah, karena mayoritas pelanggan mereka adalah karyawan, Mahasiswa dan pelajar. Alhasil, pendapatan mereka pun terhempas.

Sebulan sudah wabah Covid-19 melanda negeri. Hingga hari Selasa, 7 April 2020, jumlah korbam positif Covid menjadi 2738 orang dan meningga sebanyak 221 jiwa (CNBCIndonesia.com). Kapan wabah ini akan berakhir? Wallahua’lam. Namun anjuran untuk tetap di rumah dan menggunakan masker selalu didengungkan pemerintah sebagai langkah memperlambat laju penularannya.

Mewaspadai Badai Krisis Menghantam Keluarga

Pandemi Covid 19 belum usai, namun ancaman krisis ekonomi mulai membayangi. Beberapa perusahaan terpaksa merumahkan bahkan mem PHK karyawannya karena lambatnya roda ekonomi sebagai dampak pandemi. Di Jawa Barat, sebanyak 40.433 orang dirumahkan dan 3.030 orang di PHK. Kepala Disnakertrans Jawa Barat, Ade Apriandi menyatakan perusahaan terdampak pandemi Covid 19 mengalami penurunan produktivitas karena kesulitan bahan baku, penurunan dan pembatalan order, kesulitan pendistribusian produk, sparepart mesin produksi dan penurunan omzet (CNNIndonesia.com).

Selain ekonomi, krisis psiskis pun siap menghantam keluarga. Rasa depresi karena bosan diam di rumah, rindu bertemu kerabat hingga tak mampu memenuhi kebutuhan hidup mulai menjangkiti keluarga. Terutama bagi keluarga yang berpenghasilan harian. Keluar rumah khawatir ancaman Covid, tak keluar maka kelaparan melanda. Bak memakan buah simalakama.

Sikap Keluarga Muslim dalam Menghadapi Wabah

Tak ada yang mengetahui kapan pandemi ini berakhir. Namun sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa kondisi saat ini adalah Qadha-Nya. Kesulitan finansial yang dialami keluarga adalah ujian dari-Nya.

Kondisi ini harus diterima oleh seluruh anggota keluarga dengan sabar, ikhlas dan penuh tawakal. Ayah sebagai kepala keluarga harus mampu memberikan pemahaman dan memotivasi kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak berkeluh kesah apalagi mengutuk keadaan. Peran ibu pun tak kalah penting. Kondisi rumah harus selalu dijaga dengan kondisi iman.

Kondisi ini pun bisa dijadikan sebagai penguat keimanan dan kedekatan kita kepada Sang Khalik. Rasulullah saw bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR: Muslim)

Kondisi wabah ini pun menjadi momen bagi terjalinnya ukhuwah di antara sesama Muslim. Hendaklah yang memiliki rezeki berlebih, berbagi dengan saudaranya yang kekurangan. Tidaklah patut ia memenuhi rumahnya dengan stok makanan sementara tetangganya kelaparan. Rasulullah saw bersabda: “Tidak beriman kepadaku siapa saja yang tidur (sambil perutnya kenyang) di malam hari sedangkan tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya” (HR. Al Bazzar melalui jalur dari Anas).

Kondisi ini mungkin tidak bisa ideal. Berapa banyak masyarakat yang bisa membantu, sementara yang harus dibantu sangat banyak. Dibutuhkan pula peran negara untuk mewujudkan ketahanan keluarga baik dari sisi ekonomi maupun psikis. Pemimpin negara memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan individu-individu rakyatnya, hingga semua keluarga terselamatkan. Tak ada lagi keluarga yang kelaparan atau depresi karena tidak dapat mencari nafkah.

Pemimpin negara juga harus menjaga ketahanan psikis masyarakatnya agar tidak ada yang mengeluh atau depresi menghadapi wabah. Mengajak masyarakat untuk bertafakur, memohon ampunan kepada Sang Penggenggam Kehidupan atas kemaksiatan dan kelalaian yang pernah diperbuat.

Semoga Allah SWT menyegerakan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat. Aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *