Memilih Proses Pendidikan menuju Kesuksesan Hakiki

Memilih Proses Pendidikan menuju Kesuksesan Hakiki

Pendidikan tidak hanya penghasil gerak ekonomi layaknya sistem sekuler kapitalis, tetapi pendidikan merupakan satu kesatuan pembentuk kepribadian cemerlang bagi setiap umat sebagai pengatur dan penggerak negara dan bangsa bagi sebuah peradaban.


Oleh: Desi Wulan Sari (Member of Revowriter)

POJOKOPINI.COM — Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi setiap insan. Karena pendidikan merupakan hak dasar yang harus dipenuhi. Secara umum, Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Dalam sistem sekulris hari ini, pendidikan sudah sangat jauh dari visi kemurnian pendidikan. Baginya, proses pendidikan dikotakkan dalam beberapa tingkatan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahapan seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

Terjadinya proses kotak (pengotakan) pada sektor pendidikan hanya mempersempit ruang gerak pendidikan dalam perkembangannya, karena telah diatur secara baku pendidikan yang ditempuh oleh seseorang. Adapun tujuan pendidikan ala sekuleris adalah sebagai sarana pendukung dalam menciptakan gerak roda ekonomi. Baginya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi. Oleh karena itu kemampuan suatu negara untuk belajar dari pemimpin adalah fungsi dan efek “human capital”. Studi terbaru dari faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi agregat telah menekankan pentingnya lembaga ekonomi fundamentalis dan peran keterampilan kognitif.

Hal tersebut sesuai dengan teori-teori tujuan lembaga pendidikan yang disampaikan oleh para pemikir barat, seperti:

Horton dan Hunt, menurutnya lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) dar persiapan mencari nafkah, demi kepuasan pribadi, melestarikan kebudayaan, dan keterampilan partisipasi dalam demokrasi. Fungsi lain dari lembaga pendidikan ala sekuleris antara lain: pertama, mengurangi pengendalian orang tua dimana orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik pada sekolah.

Kedua, mempertahankan sistem kelas sosial dengan menanamkan untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya. Ketiga, Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya. Bahkan Menurut David Popenoe, melihat fungsi pendidikan sebagai peran sosial, inovasi, integrasi dan mengajarkan corak kepribadian saja.

Itulah gambaran besar arah pendidikan versi sistem sekuler yang selalu mengedepankan visi menciptakan pemikir-pemikir dan pekerja industri ekonomi. Pendidikan diarahlan pada jalannya ekonomi kapitalis yang selalu ingin menguasai dan menggurita di berbagai bidang, sebagai penghasil keuntungan sebesar-besarnya bagi para pengusungnya.

Model pendidikan seperti ini terbukti tidak mampu menciptakan generasi penerus yang cemerlang. Justru hanya menciptakan berbagai masalah baru setiap periode waktu berjalan. Karena mencerdaskan rakyat bukanlah tujuannya, tetapi mendidik rakyat untuk berpikir, berfungsi sebagai pencari nafkah, pemikir mesin industri ekonomi dan prestise semata.

Padahal semestinya sebuah pendidikan adalah pondasi dasar bagi sebuah bangsa dan negara. Kekuatan rakyat yang terdidik dengan baik dan benar sesuai syariat akan menciptakan orang-orang yang berpandangan dan berwawasan luas dalam memaknai dan melihat fungsi sebuah proses pendidikan dengan sempurna. Lantas, dimanakah pendidikan sempurna dapat diraih oleh seluruh rakyat?

Pendidikan Sempurna dalam Islam

Islam telah mengajarkan dengan sempurna sebuah proses pendidikan bagi umatnya. Terbukti hasil yang dicapai pada abad kegemilangan Islam dibawah pemerintahan Daulah Islam di masa itu. Begitu banyak cendekiawan muslim lahir dan menciptakan berbagai penemuan baik pengetahuan, teknologi dan hukum-hukum agama yang terpelihara.

Dalam proses pendidikan Islam, diperlukan adanya sistem dan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai dengan proses melalui sistem tertentu. Hal ini karena proses didikan tanpa sasaran dan tujuan yang jelas berarti oportunisme, yang akan menghilangkan nilai hakiki pendidikan. Maka, proses yang demikian mengandung makna yang bertentangan dengan pekerjaan mendidik itu sendiri, bahkan dapat menafikan harkat dan martabat serta nilai manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, di mana aspek-aspek kemampuan individual (al-fadiyah), sosialitas (al-ijmaiyah) dan moralitas (al-ahlaqiyah), merupakan hakikat kemanusiaannya.

Sejalan dengan misi agama Islam yang bertujuan memberikan rahmat bagi sekalian makhluk di alam ini, pendidikan Islam mengidentifikasikan sasaannya pada tiga pengembangan fungsi manusia yaitu :

  1. Menyadarkan manusia sebagai makhluk individu, yaitu makhluk yang hidup di tengah-tengah makhluk lain, menusia harus bisa memerankan fungsi dan tanggung jawabnya, mampu berperan sebagai makhluk Allah yang paling utama diantara makhluk lainnya. Dan memfungsikan sebagai khalifah di muka bumi.
  1. Menyadarkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia harus mengadakan interelasi dan interaksi denngan sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah sebabnya Islam mengajarkan tentang persamaan, persaudaraan. Gotong royong dan musyawarah sebagai upaya membentuk masyarakat yang menjadi persekutuan hidup yang utuh.
  2. Menyadarkan, manusia hamba Allah SWT. Manusia sebagai mahkluk yang berketuhanan, sikap dan watak religiulitasnya perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu menjiawi dan mewarnai kehidupannya.

Proses Pendidikan Islam Universal

Islam sebagai suatu agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang sangat istimewa. Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman di antara kaum Muslim dan mereka yang berilmu. Penggerak utama dari wahyu inilah yang sangat memotivasi Muslim dalam belajar.

Selain itu mereka belajar juga dalam rangka mengembangkan fitrah mereka. Ini berpedoman bahwa pendidikan Islam secara universal yaitu bahwa manusia dilahirkan secara fitrah (HR. Muslim), karena itu pengembangan fitrah-fitrah harus dilakukan dengan ajaran agama Islam (wahyu) sebagaimana dalam QS: an-Nahl:89.

Maka jika saja hari ini negara sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan, mengimplementasikan sebuah proses pendidikan terbaik bagi rakyatnya sesuai yang Rasulullah contohkan, sungguh itulah satu kesempurnaan sebuah proses pendidikan bagi seluruh rakyat. Pendidikan tidak hanya penghasil gerak ekonomi layaknya sistem sekuler kapitalis, tetapi pendidikan merupakan satu kesatuan pembentuk kepribadian cemerlang bagi setiap umat sebagai pengatur dan penggerak negara dan bangsa bagi sebuah peradaban. Kemakmuran dan kesejahteraan seluruh penduduk bumi atas naungan kasih sayang-Nya. Itulah sistem pendidikan Islam. Karena Islam datang sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Wallahu a’lam bishawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *