Mencetak Generasi Unggul Pemimpin Peradaban Gemilang

Rusaknya generasi saat ini semakin diperparah oleh negara yang menerapkan sistem pendidikan sekuler dengan menetapkan kurikulum yang berorientasi hanya pada nilai akademik dan materi semata. Output hasil pendidikan yang kering dari nilai-nilai keimanan.


Oleh: Afriyanti

(Narsum tetap Binar Islam Bekasi)

POJOKOPINI.COM —Tidak bisa kita pungkiri kondisi generasi saat ini jauh dari kata baik-baik saja bahkan dapat dikatakan sangat buruk. Berbagai tindakan negatif dan menyimpang sampai kriminalitas dilakukan dari berbagai kalangan, latar belakang dan tidak pandang umur. Mulai dari kenakalan remaja, bullying, pacaran, narkoba, geng motor, miras, perzinahan/seks bebas dengan berbagai nama dan gaya, perilalaku menyimpang lgbt, korupsi dan lain lain. Mirisnya sebagian perilaku negatif dan menyimpang itu dianggap biasa dan lumrah oleh sebagian masyarakat. Hal ini tentu sangat memprihatinkan dan menghawatirkan terlebih untuk generasi muda Islam sebagai generasi penerus yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan dipundak merekalah masa depan umat dipertaruhkan.

Kemunduran dan kerusakan yang terjadi pada generasi saat ini buah diterapkannya sistem kapitalis sekuler liberalis di tengah-tengah masyarakat. Karena sebuah generasi tidak tercipta dengan sendirinya tapi sistem yang diterapkan yang membentuk generasi tertentu. Sistem kapitalis sekuler liberalis akan membentuk generasi yang berperilaku serba bebas dan berorientasi hanya pada materi semata. Sehingga persoalan generasi adalah persoalan yang bersifat sistemik tidak semata-mata karena satu faktor saja tapi melibatkan semua lini baik keluarga, masyarakat dan negara serta melibatkan berbagai aspek yaitu sistem pendidikan, sosial, ekonomi, hukum dan lain lain.

Keluarga sebagai madrasatul ula sekaligus sebagai benteng terakhir pertahanan umat tidak luput terdampak oleh penerapan sistem kapitalisme di tengah-tengah masyarakat. Sistem kapitalis telah menyebabkan tidak sedikit keluarga yang menempatkan materi sebagai standar kebahagian. Akibatnya, fungsi pendidikan dalam keluarga hilang. Hidup hanya disibukkan dengan kerja untuk mencari dan mengumpulkan materi. Sebagian keluarga menjadikan materi sebagai tujuan hidup dan sebagian lagi terdorong oleh pemenuhan kebutuhan atau terpaksa. Sehingga peran dan kewajiban masing-masing anggota keluarga yang telah diatur oleh hukum syara terabaikan.

Nilai-nilai agama semakin terabaikan. Agama hanya dilaksanakan sebatas ritual belaka tidak dijadikan sebagai pedoman hidup. Aktivitas saling menasehati dan amar makruf juga hilang karena masing masing disibukkan dengan aktifitasnya sendiri-sendiri. Anak-anak merasa terabaikan, tidak mau mendengarkan perkataan atau nasehat orang tua. Pada akhirnya pendidikan dalam keluarga tidak berjalan. Ketahanan keluarga pun rapuh bahkan sampai menuju kehancuran. Bila ini terjadi maka yang menjadi korban lagi-lagi adalah anak mereka yang kehilangan sosok panutan dan pelindung. Akibatnya mereka mencari pelarian yang tidak sedikit berupa aktifitas negatif seperti narkoba, tawuran atau geng-geng motor untuk sekedar mencari perhatian atau penghilang kesepian. Sementara masyarakat dan negara yang diharapkan dapat melindungi generasi muda justru terkesan membiarkan bahkan mendukung tindakan negatif. Masyarakat kapitalis yang didominasi oleh liberalisme akan bebas bersikap, bertingkah laku dan berpendapat. Padahal seharusnya masyarakat dapat turut serta menjadi mitra keluarga dalam proses pendidikan generasi melalui peran amar makruf nahi mungkar dengan berbagai sarana dan kemajuan teknologi yang ada saat ini seperti pemanfaatan media untuk menguatkan suasana keimanan dan ketaatan kepada Islam dan hukum-hukumnya. Namun dalam sistem kapitalis media justru menjadi corong untuk mempromosikan gaya hidup materialis dan hedonis yang mengedepankan kesenangan dan kenikmatan materi yang berujung sebagai sarana para kapital untuk menjajakan barang-barang produksi mereka. Para kapitalis merubah keinginan menjadi kebutuhan dengan sedemikian rupa melalui iklan-iklan di media mulai dari fashion, food, fun dan film. Ironisnya generasi muda termakan iklan-iklan di media tersebut tanpa sadar mereka telah menjadi hamba kapitalis dan pemuja hadarah asing.

Rusaknya generasi saat ini semakin diperparah oleh negara yang menerapkan sistem pendidikan sekuler dengan menetapkan kurikulum yang berorientasi hanya pada nilai akademik dan materi semata. Output hasil pendidikan yang kering dari nilai-nilai keimanan. Selain itu negara juga tidak mampu mengendalikan penggunaan kemajuan teknologi informasi yang ada sehingga informasi apapun dapat dengan mudah diakses oleh generasi muda sekalipun informasi tersebut berdampak negatif bagi generasi.

Kondisi generasi muda yang memprihatinkan akibat diterapkan sistem kapitalisme seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja maka harus ada upaya untuk beralih kepada sistem yang dapat menjaga generasi sekaligus mencetak generasi unggul pemimpin peradaban gemilang. Dan sistem itu hanyalah sistem Islam karena sistem Islam yang sempurna yang diturunkan Allah subhanalloh wataa’la untuk mengatur semuanya seperti sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem hukum dan sistem pemerintahan.

Sistem pendidikan dalam Islam mampu mencetak generasi yang bersyaksiyah Islam menguasai tsaqofah Islam dan menguasai  IPTEK, keahlian dan keterampilan. Negara menjamin terpenuhinya pendidikan untuk semua warga negaranya, dengan mengelola sistem pendidikan melalui 4 hal yaitu menggratiskan sekolah untuk semua rakyat, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, membuat kurikulum yang Islami dan menjamin kesejahteraan pengajar dan pelajar.

Dalam sistem ekonomi maka negara akan menjamin dan memastikan ekonomi terdistribusi secara adil dan merata bagi seluruh rakyat sehingga kesejahteraan rakyat dapat terjamin. Dari sini diharapkan rakyat tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum syara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam sistem sosial dan pergaulan negara akan menjaga dan membersihkan  masyarakat dari perilaku seks bebas, akhlaq buruk yang melanggar hukum syara dengan menetapkan sistem sanksi yang adil, tegas dan keras.

Demikianlah solusi tuntas Islam untuk dapat melahirkan generasi unggul pemimpin  peradaban gemilang kelak. Yang diimplementasikan oleh institusi negara melalui ketaqwaan individu yang bersinergi dengan kontrol masyarakat dan diterapkan secara komprehensif oleh negara. Pilar pilar inilah yang akan menjamin penerapan Islam dengan sistem pendidikannya yang akan melahirkan generasi unggul. Sejarah telah membuktikan bahwa sistem Islam telah melahirkan generasi-generasi unggul pada masanya seperti Usamah bin zaid, Ali bin Abi Thalib, Muhammad al Fatih, Muhammad bin Idris Asyafii, Ibnu Sina, alkhawarizmi dan lain-lain.

Terbuktilah keberhasilan sistem Islam dalam mencetak generasi unggul tersebut. Sebaliknya sistem kapitalisme melahirkan generasi yang rusak dan rapuh serta tidak berakhlaq baik. Maka sudah seharusnya kita tidak mempertahankan sistem kapitalis ini tetapi segera beralih kepada sistem Islam yang terbukti membawa kegemilangan peradaban.

Wallohu bi showab. []

DISCLAIMERWww.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.