Mendakwahkan Islam, Diam atau Menghadang itu Pilihan!

Mendakwahkan Islam, Diam atau Menghadang itu Pilihan!

Orang yang meninggalkan dakwah tentu mendapatkan kerugian yang besar. Karena dengan berdiam diri dari dakwah berarti menghalalkan dirinya mendapatkan azab dari Allah. Kemungkaran yang dibiarkan akan merajalela dan dampaknya menimpa siapa saja, termasuk orang yang tidak berbuat maksiat dan masyarakat secara umum.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Saat ini khilafah menjadi perbincangan berbagai kalangan. Para ulama, da’i, intelektual, pengusaha, pelajar, Mahasiswa, tokoh, jamaah majlis ta’lim dan berbagai kalangan memperbincangkan khilafah. Singkat kata tak ada rumah melainkan diperdengarkan dan diperbincangkan khilafah secara luas. Banyak yang sangat merindukan kehadirannya, karena mereka memahami khilafah adalah ‘junnah‘ (perisai). Pelindung yang akan mempersatukan kaum muslimin dan melindungi dengan penerapan syariat Islam. Ada yang sikapnya setuju-setuju saja asal membawa kebaikan untuk negeri agar jauh dari diterpa prahara. Sebagian sikapnya biasa yang penting hidup aman. Namun ada pula yang berusaha menghadang kehadirannya.

Sudah menjadi sunatullah dakwah pasti mendatangkan respon. Baik bagi penyerunya maupun pada yang diseru oleh dakwah.

Untuk penyeru tak dapat disangsikan lagi, tentu banyak keutamaan dan kemuliaannya. Allah SWT dan Rasul-Nya banyak memberikan pujian kepada para pengemban dakwah dan penyampai hidayah-Nya. Allah SWT, berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, “Sungguh aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (TQS al-Fushilat [41]: 33).

Bahkan Imam Hasan al-Bashri menjelaskan, bahwa mereka yang menyeru manusia ke jalan Allah adalah kekasih Allah, wali Allah dan pilihan Allah. Pengemban dakwah adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala karena dakwah yang mereka serukan. MasyaAllah alangkah bahagianya disebut kekasih Allah. Kekasih sesama manusia karena Allah saja membuat manusia sangat berbahagia. Tentu menjadi kekasih Allah adalah puncak dari segalanya. Ketika seorang hamba dekat dengan Allah maka Allah akan menjadi penglihatannya ketika dia melihat. Menjadi pendengarannya ketika dia mendengar. Demikian kemuliaan yang akan diberikan kepada setiap Muslim yang berdakwah.

Rasulullah saw. pun bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا
Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah Allah, ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka (HR Muslim).

Orang yang meninggalkan dakwah tentu mendapatkan kerugian yang besar. Karena dengan berdiam diri dari dakwah berarti menghalalkan dirinya mendapatkan azab dari Allah. Kemungkaran yang dibiarkan akan merajalela dan dampaknya menimpa siapa saja, termasuk orang yang tidak berbuat maksiat dan masyarakat secara umum.

Allah SWT berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Peliharalah diri kalian dari fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah, Allah amat keras siksaan-Nya (TQS al-Anfal [8]: 25).

Rasulullah Muhammad saw. juga menjelaskan dampak yang terjadi jika dakwah ditinggalkan:

وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ يَبْعَثُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian harus melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) Allah akan menimpakan azab-Nya atas kalian. Lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Meninggalkan dakwah saja berbuah malapetaka. Lantas bagaimana jika menghalangi dakwah?

Alah SWT mengancam para penghalang dakwah dengan azab yang pedih:

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ(19) أُولَٰئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ۘ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ ۚ

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Mereka itulah orang-orang yang tidak meyakini adanya Hari Akhirat. Mereka itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini. Sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah SWT. Siksaan itu dilipatgandakan atas mereka (TQS Hud [11]: 18-20).

Upaya menghalang-halangi dakwah bisa dengan cara:

  1. Membentak-bentak ulama dengan tujuan menghentikan dakwahnya.
  2. Mengancam, melukai, menusuk dan menyiksa ulama/da’i agar ulama menghentikan dakwahnya.
  3. Melaporkan, mengkriminalisasi/ mempersekusi ulama dan da’i/ penceramah.
  4. Mengkriminalisasi ajaran Islam.
  5. Menuduh dan memfitnah ulama/da’i agar dijauhi masyarakat dan tidak di dengarkan dakwahnya.
  6. Bersekongkol dengan orang kafir dalam memusuhi dan menghadang dakwah.
  7. Membuat kebijakan/aturan yang mempersulit ulama /da’i mendidik dalam umat.

Demikianlah sungguh mau mendakwahkan Islam, diam ataupun menghadang itu semua pilihan. Manusia akan menempati posisi sebagaimana pilihannya. Semoga tulisan ini menjadi pengingat kita semua. Bahwa ada beberapa celah yang dapat melemahkan Islam, sehingga janganlah sampai kita justru menjadi celah yang memperlemah atau memusuhi Islam. Sungguh keberkahan dan kemuliaan tiada hingga menjadi milik kita dengan memilih mendakwahkan dan memperjuangkan Islam di tengah berbagai ujian. Aamiin. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *