Meneropong Karakteristik Buruk Yahudi melalui Kisah Perang Khandaq

Semata-mata karena kedengkian akan kenabian Muhammad saw yang bukan berasal dari bangsanya. “Penyakit” yang mereka alami memang sangat akut. Warisan iblis. Dimana Iblis pun dikeluarkan dari surga karena merasa lebih baik dari Adam dan memilih membangkang pada Allah SWT.


Oleh: Erna hermawati S.S

POJOKOPINI.COM — Kekejian dan kezaliman Yahudi la’natullah ‘alaihim telah terdokumentasi dalam kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Sehingga umat Islam bisa waspada dan mengenali karakteristik mereka sejak zaman dahulu. Kebencian Yahudi pada umat Nabi Muhammad SAW tidak pernah hilang, bahkan al-Quran dalam surat An-Nisa: 54-55 menegaskan bahwa mereka dengki dengan kenabian Muhammad saw. Ada satu kisah dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 yang menceritakan beberapa karakteristik Yahudi. Kisah ini terangkum dalam Perang Khandaq.

Provokasi Yahudi

Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun kelima hijriah. Latar belakangnya adalah rasa dendam dan dengki umat Yahudi pada kaum Muslimin. Beberapa orang Yahudi yaitu Sallam bin Abu Al-Huqaiq An-Nadhri, Huyai bin Akhthab An-nadhri, Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abu Al-Huqaiq An-Nadhri, Haudzah bin Qais Al-waili, dan Abu Ammar Al-Waili, berangkat menuju Mekah dari Madinah untuk bertemu kaum Quraisy. Mereka mengajak orang-orang untuk memerangi Rasulullah saw.

Ada hal yang harus dicermati pada fragmen ini, saat Yahudi rela menggadaikan kebenaran yang telah diketahuinya dengan mengatakan pada kaum Quraisy bahwa agama mereka (kaum kafir Quraisy) lebih baik daripada agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Padahal, tentu saja, Yahudi telah mengetahui dengan jelas, seterang matahari siang bahwa agama yang dibawa nabi Muhammad itulah yang benar. Hanya saja akibat dendam dan dengki, mereka rela menjual keyakinan mereka. Satu karakter yang menjadikan manfaat sebagai tolak ukur hidupnya. Sayangnya, pemahaman bahwa ini sedang disebarkan pada umat Islam agar mereka menjauh dari ajaran Islam kaffah. Mengenai sikap Yahudi yang menyembunyikan kebenaran ini Alah swt berfirman dalam surat An-Nisa : 51-52 :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada Jibt dan Thagut, dan mengatakn kepada orang-orang kafir (Musyrik Makkah) bahwa mereka lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman, mereka itulh orag yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu tidak akan memperoleh penolong baginya.”

Selain provokasi pada kaum Quraisy, Yahudi juga menyebarkan hate speech dan provokasi buruk pada Bani Ghathafan untuk memerangi Rasulullah saw. Mereka bersatu dengan ikatan yang paling buruk di dunia ini karena hendak memadamkan cahaya Islam. Padahal Yahudi telah mengetahui bahwa kebenaran tidak akan pernah dikalahkan oleh keburukan. Yahudi memang seburuk-buruknya umat. Kelak, Bani Ghathafan ini berangkat menuju Madinah dipimpin oleh Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr.

Namun, pasukan Ahzab dikagetkan dengan strategi parit kaum muslim. Mereka belum pernah menemukan strategi parit itu sebelumnya. Karena memang strategi ini diusulkan oleh Salman Al-Farisi dan biasa digunakan di Persia tatkala menghadapi pasukan musuh yang lebih banyak secara jumlah. Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam Jilid 2 disampaikan bahwa selama dua puluh hari atau bahkan hampir sebulan tidak terjadi perang antara Rasulullah saw dengan orang-orang musyrikin.

Ada hal menari lainnya saat perang Khandaq ini dimana salah seorang dari Bani Ghathafan yang bernama Nu’aim Bin Mas’ud menghadap pada Rasulullah saw dan mengakui telah masuk Islam. Dia menawarkan diri untuk membantu Rasulullah saw. Kemudian Rasul saw memerintahkannya untuk memecah persatuan antara elemen pasukan Ahzab. Misi Nua’im berhasil, sehingga satu sama lain ada rasa tidak percaya dan mempengaruhi persatuan pasukan Ahzab. Malam harinya, Allah SWT mengirim angin padahal malam itu sangat dingin, bahkan menjungkirbalikkan periuk-periuk dan kemah pasukan Ahzab.

Puncaknya, pemimpin pasukan Ahzab dari Quraisy, Abu Sofyan, memutuskan untuk kembali ke Mekah tatkala Bani Quraidhah berkhianat pada mereka karena provokasi Nu’aim bin Mas’ud. Sehingga Rasulullah saw dan kaum Muslimin pulang dari parit menuju Madinah. Namun, tatkala Rasulullah saw hendak beristirahat, malaikat Jibril memerintahkan untuk berangkat menuju Bani Quradhah. Malaikat Jibril mengatakan bahwa dia dikirim untuk mengguncangkan benteng-benteng Yahudi Bani Quraidhah dan memasukan ketakutan pada hati-hati mereka.

Sebagai Muslim, keyakinan akan pertolongan Allah ini sangat penting. Karena hakikatnya, kaum musuh Islam itu lemah, ketakutan pada umat Muhammad saw ini besar dalam hati mereka. Hanya saja, umat butuh dihimpun dalam satu kepemimpinan agar potensi kekuatan mampu direalisasikan. Sehingga tidak akan ada lagi Yahudi yang berani mencabik-cabik kehormatan kaum Muslim, menginjakkan kakinya di bumi kecuali dengan kepala tertunduk pada perisai umat.

Rasulullah saw melakukan pengepungan pada bani Quraidhah selama dua puluh lima malam. Sementara ketakutan dan kekhawatiran menyelimuti kaum Yahudi di dalam benteng. Pemimpin mereka mengajukan 3 pilihan pada umat Yahudi. Tawarannya itu adalah, masuk Islam agar mendapat perlindungan dan karena mereka semua telah mengetahui bahwa ajaran Islam itu berasal dari Allah SWT. Namun, mereka menolak tawaran ini. Mereka lebih memilih tetap berada dalam agama Yahudi meskipun mengetahui bahwa ajaran mereka sudah tidak berlaku lagi. Apa yang membuat mereka begitu keras menerima kebenaran bahkan di detik-detik terakhir kehidupannya? Semata-mata karena kedengkian akan kenabian Muhammad saw yang bukan berasal dari bangsanya. “Penyakit” yang mereka alami memang sangat akut. Warisan iblis. Dimana Iblis pun dikeluarkan dari surga karena merasa lebih baik dari Adam dan memilih membangkang pada Allah SWT.

Pilihan kedua, Ka’ab bin Asad menawarkan agar anak-anak dan wanita mereka dibunuh semua oleh mereka kemudia menyerang kaum Muslimin. Dengan terbunuhnya anak dan istri mereka, tidak ada lagi beban bagi mereka. Jikapun mereka menang, maka mereka bisa mendapatkan wanita dan anak-anak baru. Lihatlah sungguh picik niat mereka. Namun, tawaran kedua ini pun ditolah oleh mereka. Tawaran terakhir adalah, mereka akan memanfaatkan hari Sabtu. Dimana mereka berharap nabi Muhammad saw akan memberikan keamanan pada mereka dan ketika kaum muslimin lengah, maka mereka akan menyerangnya. Salah seorang diantara mereka pun mengigatkan bahwa jika melanggar hari Sabtu maka berdasarkan umat terdahulu, mereka akan mendapatkan musibah. Apa yang dijawab oleh pemimpin mereka? “Tidak ada seorang pun dari kalian yang serius pada satu mala pun sejak dilahirkan ibunya.” Buruk sekali uamt Yahdui itu, mereka bahkan berani melanggar ajaran agama mereka sendiri untuk melanggar hari Sabtu dimana mereka seharusnya fokus beribadah.

Akhirnya, kaum Yahudi Bani Quraidhah pun mendapat sanksi untuk dibunuh. Saad Bin Muadz diberikan wewenang oleh Rasulullah saw utuk memberikan keputusan terhadap pengkhianatan bani Quraidhah. Saad bin Muadz memutuskan bahwa semua laki-laki dewasa dibunuh, harta mereka dirampas, anak-anak dan wanita ditawan. Sanksi yang adil dan setimpal akan sikap busuk kaum Yahudi.

Begitulah kaum Yahudi sejak dulu, mereka tidak akan memahami bahasa perjanjian, mereka harus diajak “bicara” dengan bahasa senjata. Karena tatkala kita menunjukkan kelengahan saja, mereka bersiap untuk menyerang. Apalagi jika kita berada dalam kondisi lemah, bercerai berai, tidak ada perisai umat dan komando, dapat dipastikan mereka akan berbuat semaunya. Sirah Nabawiyah mengajarkan pada umat Islam agar waspada pada kaum Yahudi, agar umat Islam bersatu dalam bingkai daulah Islam. Sehingga usaha mewujudkan kembali kehidupan Islam menjadi sebuah kewajiban yang ada di pundak kaum Muslim. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *