Mengapa Takut Lockdown? Belajarlah Pada Palestina

Mengapa Takut Lockdown? Belajarlah Pada Palestina

Oleh : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Sejumlah negara telah mengambil keputusan lockdown menyusul kian meluasnya wabah virus covid-19. Hingga kini Indonesia belum mengambil lockdown sebagai jalan untuk mengurangi penyebaran virus. Sebagian besar elemen bangsa ini mengkhawatirkan kelumpuhan ekonomi yang akan dialami Indonesia jika memilih jalan tersebut.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Edhie Purnawan menyampaikan pendapatnya terkait persoalan tersebut. Menurut Edhie, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika Indonesia memutuskan lockdown. Pertama adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Kedua, jika melihat UU Nomor 6/2018 mengenai karantina, persyaratan yang harus dipenuhi sebelum pemerintah menetapkan status darurat kesehatan nasional dan memberlakukan karantina/isolasi, yaitu karantina rumah, karantina rumah sakit, hingga karantina wilayah.

Lockdown sendiri memang berimplikasi pada terhentinya kegiatan ekonomi. Dipastikan negara harus bersiap dari sisi ekonomi, seperti memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang di lockdown. Philipina sendiri yang juga negara berkembang mengambil kebijakan demikian. Presiden Duterte menjalin kerjasama dengan dua konglomerat besar, yakni Ayala Corporation dan San Miguel Corporation. Pra syarat harus segera disiapkan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah. Karena itu jika pemerintah tetap bersikukuh untuk tidak melakukan lockdown maka pemerintah bertanggung jawab untuk menyegerakan mendatangkan para ahli dan peralatan yang sangat memadai di segenap penjuru Indonesia untuk memutus rantai penyebaran covid-19.

Wahai Umat Lockdown itu Sunnah

Lockdown adalah pilihan yang berat dan berisiko, benar sekali. Namun risiko ini adalah sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang mulia. 14 Abad lalu metode ini telah diaplikasikan dengan cemerlang oleh generasi kaum muslimin. Mereka berhasil mengatasi wabah berbahaya tersebut.

Sebagai muslim yakinlah bahwa ada begitu banyak hikmah dibalik bencana, pun apa yang kini ada dihadapan kita yaitu covid-19 ini. Meneladani sunnah akan mengundang berkah. Lockdown bukan hanya masalah teknis namun juga masalah keyakinan, jalani saja siapkan semuanya, termasuk prasyarat berikut semua skenario tata laksana penanganan corona dan Allah akan memberi jalan.

Saksikanlah bahwa pihak-pihak yang menyerukan bertahan tanpa disertai dengan ikhtiar yang mumpuni, kecuali hanya upaya menghitung korban yang berjatuhan. Mereka hanya memikirkan dampak ekonomi, naudzubillah tidak ada yang lain! Mereka meributkan nasib jutaan pekerja sektor informal di Indonesia, soal nasib tukang bakso, penjual ketoprak, pecel, siomay hingga gorengan. Bagaimana mereka bertahan? padahal dibalik semuanya, mereka justru mengkhawatirkan kepentingan pribadinya, berikut kepentingan cukong-cukong `tuannya’.

Lalu dimana fungsi negara? Tidak punya dana? bagaimana dengan dana pindah ibukota yang fantastis itu? Bukankah seharusnya dialihkan untuk menyiapkan bantuan tunai langsung (BLT) kepada masyarakat menengah kebawah yang bekerja di sektor informal. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sendiri mengaku telah menyiapkan sejumlah anggaran jika sewaktu-waktu ada daerah yang harus di lockdown karena wabah covid-19 (suara.com 19/3/2020). Tunggu apalagi ?

Palestina Inspirasi Survive di Tengah Lockdown

Mengutip dari Cambridge, lockdown (terkunci) adalah dimana orang tidak diperbolehkan untuk masuk atau meningggalkan sebuah bangunan atau kawasan dengan bebas karena alasan sesuatu yang darurat. Lockdown dapat digunakan untuk merujuk pada apa saja dari karantina suatu wilayah. Keputusan lockdown bisa dibuat ditingkat kota maupun negara.

Hal-hal yang diterapkan saat penguncian bisa berupa menunda atau membatalkan pertemuan massal seperti event olahraga, konser atau pertemuan keagamaan. Selain itu, bisa juga menutup sekolah dan mendorong pembelajaran jarak jauh. Selama wabah meluas, masyarakat juga diminta tetap berada di rumah jika sakit, menutup mulut atau menggunakan masker saat batuk dan bersin.

Di Italia, orang-orang diijikan bepergian apabila mendesak karena alasan kesehatan. Jika berbohong, warga akan dihukum 3 bulan penjara hingga denda 206 Euro atau sekitar Rp 3.402.800,-. Italia juga memberlakukan penangguhan acara olahraga serta upacara seperti pemakaman dan pernikahan.

Namun pernahkah terlintas di kepala penduduk dunia, bahwa lockdown yang lebih mengerikan dari lockdown akibat covid-19 ini telah berlangsung di Palestina dari dekade ke dekade. Dengan luas hanya sekitar 365 km2 Gaza dijuluki sebagai sebuah penjara terbuka yang terbesar di dunia. Bumi yang diberkahi ini mengalami blokade baik darat, udara hingga laut dari zionis laknatullah, bahkan dari saudara muslim mereka sendiri, Mesir.

Sebuah wilayah paling menyedihkan di dunia, dimana hampir dua juta warganya hidup dibawah garis kemiskinan, akses terbatas pada kesehatan, pendidikan bahkan untuk kebutuhan dasar mereka berupa air, listrik, pangan dan keamanan. Meskipun demikian, warga Gaza tetap tegar menghadapi kedzaliman Israel.

Ketua Popular Committee Against the Siege on Gaza Jamal Al-Khodari mengatakan ekonomi masyarakat Palestina terpukul imbas penutupan 5.000 pabrik di Jalur Gaza. Blokade jalur yang dilakukan Israel itu telah berlangsung selama 13 tahun. Dia mengatakan penutupan ribuan pabrik mencerminkan tingkat penderitaan kemanusiaan sebagai akibat blokade Israel. Ribuan pekerja, insinyur, akuntan, dan teknisi kehilangan pekerjaan mereka (wartaekonomi.co.id 20/2/2020).

Lockdown tak terhitung tahun lagi, dilalui dalam kegetiran yang kian pahit dari hari kehari. Setiap saat darah tak berdosa tumpah demikian murah, hujan bom hingga senjata kimia mereka rasakan. Dunia diam, pura-pura buta. Saudara muslim berkhianat atas nama nasionalisme dan kepentingan nasional negara masing-masing. Palestina berdiri sendiri, bertahun-tahun hingga kini.

Sejumlah media gagal menghadirkan pemberitaan yang sesungguhnya tentang Palestina. Mereka gagal menyajikan nestapa lockdown Palestina dengan akurat dan empati. Narasi media Barat telah didominasi Israel selama konflik yang telah berlangsung hampir 70 tahun! Sir Vincent Fean, mantan Konsul Jenderal Inggris di Yerussalem, mengatakan perjuangan yang rumit dan mengakar di Gaza telah mengurangi “selera media Barat”. Pada akhirnya, hal ini membuat mereka memilih untuk mencari berita lain.

Palestina tetap tegak hingga kini, lockdown tak membuat sejarah mereka berakhir, setiap saat nyawa bisa melayang tanpa sebab apapun, tanpa sempat di karantina maupun di proses sebagai PDP (pasien dengan pengawasan). Lalu apa yang membuat pemimpin Indonesia begitu kecut? tak ada peluru yang menderu menyasar target, sumber daya masih tersedia, mengapa masih menimbang? Padahal virus tak berhitung dengan angka pertumbuhan ekonomi, setiap saat mereka terus menginfeksi. Siapa yang percaya data yang ada adalah yang akurat, nyatanya ini pandemi, fenomena gunung es.

Ditengah badai corona yang melanda dunia, Palestina telah mengkonfirmasi 44 kasus corona. Sekitar 37 diantaranya tertular setelah 51 anggota kelompok keagamaan asal Yunani melakukan ziarah ke Bethlehem pada awal Maret. Ramallah segera melaksanakan lockdown seluruh Bethlehem.

Pemerintah Palestina kemudian menggelar pemeriksaan SARS-Cov-2 ke seluruh warga, dan mulai melakukan karantina pada setiap orang yang dicurigai memiliki gejala. Juru bicara pemerintah, Ibrahim Melhim mengatakan bahwa mereka menerapkan “strategi multi cabang” untuk memutus rantai penyebaran. Salah satu strategi mereka adalah terus memperbaharui informasi sehingga publik tidak menerima rumor maupun misinformasi. Otoritas membuat situs resmi yang mencakup perkembangan medis, usia, jenis kelamin, hingga usia penderita.

Saat ini Palestina bertempur di dua medan; pertama melawan wabah virus dan kedua melawan penjajahan brutal Israel. Adakah negara dengan kondisi yang sama? Karena ketiadaan fasilitas memadai di rumah sakit, para penderita covid-19 terpaksa ditampung di hotel lokal. Tidak terjadi panic buying di Palestina, hanya di Israel saja. Ditengah badai wabah ini tidak pula terjadi penimbunan terhadap produk masker, bahkan masker dengan mudah diperoleh dengan harga Rp 1200/pcs.

Sebuah kalimat muncul di twitter ditengah perlawanan dunia terhadap covid-19, “Dear dunia, bagaimana rasanya lockdown? Gaza”. Beberapa kalimat dihiasi oleh karikatur yang menggambarkan jalur Gaza, Palestina. Kalimat ini seakan menampar dunia, bahwa lockdown yang terjadi pada negara-negara terdampak corona telah dialami Palestina, namun dunia abai.

“Karena blokade bertahun-tahun, rakyat Gaza sangat paham situasi yang dihadapi dunia saat ini” kata Angham Abu Abed, 24. Hingga kini blokade di Gaza membuat virus corona tidak bisa masuk. Sejauh ini tidak tercatat ada kasus corona di wilayah tersebut (kumparan 18/3/2020).

China Berhasil Setelah Lockdown

Pertambahan kasus baru positif virus corona di China terus melambat dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu 18/3/2020 China melaporkan hanya satu kasus baru covid-19 di dalam negeri (cnnindonesia 18/3/2020). Di China sendiri virus corona telah menginfeksi 80.894 ribu orang dan 3.237 pasien meninggal dunia. Sementara itu jumlah kasus baru di Hubei turun menjadi single digit dalam sepekan di mana pada awal Februari kemarin angka perharinya bisa mencapai ribuan. Provinsi Hubei melaksanakan lockdown sejak akhir Januari lalu dan pekan lalu telah mengizinkan beberapa perusahaan kembali beroperasi.

Kini bola lockdown ada di tangan rezim, dimana hajat hidup seluruh rakyat Indonesia dipertaruhkan. Jika rezim semakin abai jangan salahkan anak bangsa yang berteriak semakin kencang menyuarakan pergantian kepemimpinan berikut sistem yang menyertainya. Masyarakat telah lelah, rakyat semakin muak, umat ini akan mencari jalan. Dan Jalan itu adalah Islam, yang meniscayakan pengriayahan rakyat sebagai sebuah keutamaan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *