Mengenang “Benteng Terakhir” Sultan Abdul Hamid II

Kuku-kuku penjajah mulai menggerayangi tanah kaum Muslimin dan meniupkan perpecahan di berbagai negeri. Namun sekali lagi penjajah merasa jeri atas upaya Khalifah menyatukan dunia Islam. Sultan menyerukan persatuan Islam yang menggentarkan Inggris dan sekutu-sekutunya.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Perubahan)

POJOKOPINI.COM — Apa yang dikenang oleh dunia Islam dari bulan Februari? Valentine Day? Astaghfirullah. Memang inilah realitas yang terjadi, bahkan tema-tema Valentine Day telah mencuri start di awal Februari. Namun, umat ini lupa bahwa pada 10 Februari 1918 Masehi, “benteng terakhir” Kaum Muslimin, Sultan Abdul Hamid II berpulang ke rahmatullah. Ia menghembuskan nafas terakhirnya hanya beberapa bulan sebelum saudaranya, Mehmed V.

Sebagaimana yang kita pahami bahwa Islam adalah peradaban agung yang menjadi adidaya selama berabad-abad sebelum kapitalisme menjejakkan kuku-kukunya di dunia. Khilafah Utsmani atau dikenal dengan Daulah Usmaniyah telah menorehkan tinta emas sepanjang perjalanannya dan telah memberikan pengaruh besar terhadap negara-negara di dunia. Namun sebagaimana sunnatullah sebuah kedigdayaan pada akhirnya roda akan terus berputar dan kedigdayaan itupun berangsur-angsur pudar.

Pada masa-masa akhir pemerintahan Utsmani, muncullah seorang pemimpin yang bernama Sultan Abdul Hamid II. Kehadiran dan sepak terjangnya telah memunculkan benih-benih ketakutan di hati musuh. Ia mengerahkan seluruh upaya dan kesungguhannya untuk menyelamatkan negara yang pada saat itu disebut sebagai “The Old Sick Man”. Utsmaniyah kala itu telah dirayapi oleh kelemahan yang sangat parah. Ditambah dengan bercokolnya orang-orang Yahudi dengan gerakan freemasonry, sekularisasi Khilafah, bertebarnya para antek yang setia pada titah Yahudi menjadi bom waktu yang ditanam di dalam pemerintahan.

Sultan Abdul Hamid II adalah Sultan Utsmani yang ke-34. Ia menduduki singgasana kesultanan pada saat usianya menjelang 34 tahun. Ia dilahirkan pada tanggal 16 Sya`ban 1258 H/1842 M. Ibunya meninggal dunia pada saat Sultan Abdul Hamid II baru berusia sepuluh tahun. Pengasuhan beliau dilanjutkan oleh ibu tirinya. Ibu ini mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan berusaha menjadikan dirinya sebagai ibu kandung bagi Sultan Abdul Hamid II.

Sultan Abdul Hamid mendapat pendidikan reguler di dalam istana di bawah bimbingan orang-orang yang sangat terkenal di zamannya. Ia belajar bahasa Arab dan Persia, belajar sejarah, sangat menyenangi sastra, mendalami ilmu tasawuf, dan mengarah beberapa syair dalam bahasa Turki. Sultan juga belajar secara serius bagaimana menggunakan senjata. Dia demikian peduli dengan politik internasional, selalu mengikuti berita mengenai posisi negerinya dengan ketelitian yang sangat tinggi.

Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki pandangan yang jernih dan mampu melihat sesuatu dengan teliti. Di usia 25 tahun, ia diajak oleh pamannya Sultan Abdul Aziz ikut dalam delegasi Utsmani mengunjungi Eropa. Perjalanan ini berlangsung pada tanggal 21 Juni hingga 7 Agustus 1867 M. Delegasi ini bertemu dengan para pemimpin Eropa saat itu, seperti Napoleon III dari Perancis, Ratu Victoria dari Inggris, Leopold II dari Belgia, Gallium I dari Jerman dan Franso Josef dari Austria .

Sebelum kunjungan ke Eropa, ia menyempatkan berkunjung ke Mesir. Di tengah kunjungannya ke Mesir ini ia menyadari kepalsuan pola-pola Eropa dan cara mereka dalam mengambil hal-hal yang sangat artifisialistik dari apa yang ada di Eropa, sehingga membuat Mesir tenggelam dalam hutang akibat tingkah gubernur Al-Khadawi Ismail Pasha yang terkenal boros. Ismail Pasha terobsesi menjadikan Mesir sebagai bagian dari Eropa.

Dari perjalanan ini terbukalah pikiran pangeran Abdul Hamid tentang beberapa hal yang sangat penting yang kemudian terefleksikan dalam perjalanan pemerintahannya. Hal-hal tersebut adalah bahwa kehidupan Eropa dengan segala apa yang dikandungnya dari pola hidup mereka, moralitas yang berbeda dan tidak menyentuh substansi kehidupan yang sebenarnya. Ia melihat bagaimana pola permainan politik internasional, kekuatan musuh dan pengaruhnya terhadap kebijakan pemerintahan Utsmani. Perjalanan Sultan Abdul Hamid II ke Eropa, juga memberi pengaruh yang kuat dalam pengambilan kebijakan untuk tidak tergantung pada Eropa. Maka tidak pernah dikenal dari diri Sultan Abdul Hamid II pengaruh seorang penguasa Eropa.

Sultan Abdul Hamid II memerintah di bawah tekanan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Pada saat itu musuh-musuh merancang konspirasi internasional menghantam Utsmaniyah. Oleh sebab itu, Sultan segera berusaha melakukan perbaikan sesuai dengan ajaran Islam untuk membendung campur tangan Eropa. Dia berusaha menerapkan syariah Islam dan berusaha mengusir para jurnalis komprador dari ibukota, serta dengan gencar melawan semua pemikiran Barat yang bertentangan dengan peradaban Islam yang mulia.

Eropa dan Rusia senantiasa berada dihadapan Sultan untuk merebut kembali wilayah negeri-negeri Eropa yang telah dibebaskan oleh kaum Muslimin. Saat itu kekuasaan Islam telah mencapai gerbang Wina, Bulgaria, dan negeri-negeri lainnya di Eropa. Dari aspek internal setiap saat orang-orang freemasonry di bawah pimpinan Medhat Pasha merongrongnya seperti duri dalam daging. Medhat Pasha menggilai demokrasi dan nasionalisme. Namun Sultan mampu mengatasi mereka dengan cerdik. Sultan Abdul Hamid II adalah orang yang menentang demokrasi dan hukum dengan menggunakan undang-undang buatan manusia.

Sedangkan Medhat Pasha yang menyeru demokrasi melihat keberadaan Sultan sebagai penghalang cita-citanya. Hal ini karena Sultan Abdul Hamid II senantiasa menentang pergerakan demokrasi yang diserukannya. Sultan mengkritik menterinya tersebut dengan perkataannya: “Dia tidak melihat kecuali faedah-faedah demokrasi yang ada di Eropa, namun dia tidak mempelajari sebab-sebab demokrasi ini dan pengaruh lain yang muncul darinya. Lempengan-lempengan tablet itu tidaklah selalu cocok dengan semua penyakit dan setiap orang. Sebagaimana demokrasi, tidak akan cocok bagi setiap bangsa dan setiap kaum. Dulu saya yakin dia akan memberikan menafaat, namun kini saya yakin bahwa dia hanya akan mendatangkan mudharat”.

Di antara sebab yang mendorong Sultan Abdul Hamid II untuk melakukan penolakan terhadap pemikiran demokrasi ini, bisa didapatkan dalam sebuah perkataannya, “Pemerintah Utsmani adalah negara yang menghimpun banyak bangsa, sedangkan “masyruthiyah” (demokrasi) di negara yang seperti ini hanya akan mematikan unsur asli di dalam negeri. Apakah di parlemen Inggris ada seorang perwakilan beragama Hindu? Atau adakah di parlemen Perancis ada seorang perwakilan asal Aljazair?”.

Sultan Abdul Hamid II tidak mengubah sikapnya terhadap sistem demokrasi, bahkan setelah diturunkan dari kursi kepemimpinannya dimana saat itu beramai-ramai berusaha untuk menerapkan sistem demokrasi, dia berkata, “Apa yang terjadi setelah diumumkan demokrasi? Apakah hutan kita semakin sedikit? Apakah jalan-jalan raya, pelabuhan dan sekolah-sekolah semakin banyak? Apakah hukum dan undang-undang saat ini lebih rasional dan lebih logis? Apakah manusia menikmati rasa aman secara luas? Apakah keluarga kini menikmati kesejahteraan? Apakah kematian semakin sedikit atau kelahiran semakin sedikit? Apakah publik dunia kini berada bersama kita lebih dari sebelumnya? Obat yang berguna akan menjadi racun yang mematikan, manakala ia berada ditangan orang-orang yang bukan dokter. Atau ditangan orang yang tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Sungguh saya sangat menyayangkan, peristiwa-peristiwa telah banyak membuktikan kebenaran apa yang saya katakan”.

Selain itu, kuku-kuku penjajah mulai menggerayangi tanah kaum Muslimin dan meniupkan perpecahan di berbagai negeri. Namun sekali lagi penjajah merasa jeri atas upaya Khalifah menyatukan dunia Islam. Sultan menyerukan persatuan Islam yang menggentarkan Inggris dan sekutu-sekutunya. Sultan Hamid II mengatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum Muslimin di belahan bumi yang lain. Kita wajib saling mendekat dan merapat dalam intensitas yang sangat kuat. Sebab tidak ada lagi harapan di masa depan kecuali dengan kesatuan ini. Memang waktunya belum datang. Namun dia akan datang. Akan datang suatu hari dimana kaum Muslimin akan bersatu dan mereka bangkit bersama-sama dalam satu kebangkitan yang serentak. Akan ada seseorang yang memimpin umat ini dan mereka akan menghancurkan kekuatan orang-orang kafir”.

Untuk proyek persatuan inilah Sultan membangun sarana transportasi agar menghubungkan diantara wilayah-wilayah pemerintahan Utsmani. Proyek ini dikenal dengan rel kereta Hijaz. Proyek ini membentang dari Damaskus hingga Madinah Al-Munawwarah. Pada tahun 1900 Masehi dimulailah proyek ini sebagai ganti dari perjalanan darat kafilah yang biasanya ditempuh selama kurang lebih 40 hari. Melalui proyek ini perjalanan tersebut disingkat menjadi empat atau lima hari saja. Tujuan pembangunan rel ini adalah memudahkan para jamaah haji.

Selain itu proyek rel Hijaz ini memiliki dimensi politik dan militer. Dari sisi politik, pembangunan rel di seluruh dunia Islam akan melahirkan semangat agama yang demikian tinggi karena Sultan telah menyebarkan edaran yang menyerukan kaum Muslimin di seluruh dunia untuk ikut andil dalam pembangunan proyek ini.

Sementara itu terdapat konflik antara Sultan Hamid II dengan Yahudi. Di dalam negeri telah berkembang gerakan zionisme yang dipelopori yahudi Dunamah penganut Syabtaysme yang meracuni masyarakat. Mereka bekerja keras menyebarkan kekufuran melalui gerakan freemasonry yang menginfeksi intelektual muda Turki dan kalangan militer. Mereka menyerukan penghapusan jilbab bagi wanita Muslimah dan mempropagandakan free sex di sekolah-sekolah. Merekalah pelopor pertama dari gerakan Yahudi internasional. Dengan segala kecerdikannya Sultan sangat menyadari gerakan zionisme ini. Sultan Abdul Hamid II gencar memeranginya selama 33 tahun.

Suatu ketika Utsmani masuk kedalam perangkap hutang Eropa. Pemimpin Yahudi internasional, Theodore Herzl mendapat dukungan Eropa untuk menekan Sultan dengan menuntut Palestina darinya. Lubang ini menjadi jalan bagi Herzl mempengaruhi kebijakan politik Sultan terhadap Yahudi. Sultan mengirimkan surat kepada Herzl yang isinya sangat terkenal yaitu, “Saya tidak dapat mundur dari tanah suci ini (Palestina) walau sejengkal. Sebab tanah ini bukan milik saya. Dia adalah milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini. Mereka telah menyiraminya dengan ceceran darah. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi mengenggam jutaan uang mereka…”

Namun Theodore tidak menyerah, hingga dua tahun kemudian dia berhasil menemui Sultan, akan tetapi Sultan mengusirnya. Bersama rekannya, banker Yahudi Mizray Qrashow ia pergi ke Italia. Kemudian Qrashow mengirim telegram kepada Sultan, “Anda akan membayar pertemuan itu dengan nyawa dan kekuasaan Anda”.

Konspirasi Yahudi terus berlanjut hingga meracuni para intelektual dan politikus untuk mencopot Khalifah dan membubarkan Khilafah. Pelengseran Sultan terjadi pada 27 April 1909. Hingga saat itu tiba Yahudi freemasonry menjadikan hari tersebut sebagai hari raya mereka. Ketika Sultan Abdul Hamid II turun dari tahta, sejatinya Palestina juga telah jatuh ke tangan zionis.

Sultan Abdul Hamid II dijadikan tahanan rumah selama tiga tahun di Alatini Kosku Selonika. Kemudian pada tahun 1912 beliau dipindahkan ke istana Berlerbeyl dekat Istambul. Pada 10 Februari 1918 ia meninggal dunia dan dimakamkan di satu komplek dengan kakeknya di makam Sultan Mahmud II. “Benteng terakhir” itu telah rubuh namun keteladanan dan kehebatannya mengisi ingatan para pembesar dunia.

Kaisar Jerman Wilhelm II, yang pernah mengunjungi Sultan pada tahun 1898 berkomentar, “Aku telah menemui banyak raja dan penguasa sepanjang hidupku. Aku temukan mereka semua lebih lemah jika dibandingkan denganku, atau yang tekuat sekalipun adalah yang sebanding denganku. Namun, jika berhadapan dengan Abdul Hamid, aku merasa gentar.”[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *