Menggugat Ide Kesetaraan Gender

Menggugat Ide Kesetaraan Gender

Tidak ada perisai untuk melindungi dan menjamin hak-hak wanita ataupun laki-laki dalam menunaikan amanah sebagai penafkah keluarga. Sehingga sejatinya mereka tak butuh ide ini melainkan butuh Khalifah yang melindungi dan menjamin hak dan kewajiban.


Oleh: Ummu Ahtar (Anggota Komunitas Setajam Pena)

POJOKOPINI.COM — Pada 18 September 2020 lalu merupakan peringatan perdana Hari Kesetaraan Upah Internasional menandai upaya berkelanjutan untuk mencapai kesetaraan upah untuk pekerjaan yang bernilai sama. Peringatan ini bertujuan untuk mencapai kesetaraan upah bagi semua perempuan dan laki-laki dengan mendukung pemerintah, pengusaha, pekerja dan organisasi mereka di tingkat global dan nasional untuk membuat kemajuan nyata dan terkoordinasi menuju tujuan Ini. Lalu apa pemicunya?.

Dilansir oleh m.bisnis.com, (21/09/2020) – Saat ini tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen.Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernilai sama. Angka ini sudah dihitung dengan kesenjangan yang bahkan lebih besar bagi perempuan yang memiliki anak.

Lalu, apakah program ini memberikan kesejahteraan perempuan sesungguhnya? Sebelum Islam datang, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah untuk menjual anak perempuan atau istrinya. Orang Arab mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup dan memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di negeri-negeri lainnya.

Kemudian cahaya Islam datang menerangi kegelapan itu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerangi segala bentuk kezaliman, menjamin dan melindungi setiap hak dan kewajiban manusia tanpa terkecuali.

Lalu bagaimana seharusnya Islam memperlakukan kaum wanita?.
Islam sangat berbeda dalam memperlakukan wanita.
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisâ 19)

Lalu bagaimana wujud kesetaraan laki-laki dan perempuan didalam Islam?.
Sebagaimana laki-laki, hak-hak wanita juga terjamin dalam Islam. Yaitu mereka memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beribadah dan mendapat pahala.
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ 124)

Selain itu, Islam pun menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagaikan perhiasan yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Wanita diwajibkan dirumah agar dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.

Wanita adalah pendidik pertama dalam pendidikan jiwa sebelum yang lainnya. Yang mana pendidikan yang berorientasi pada akal yang senantiasa dilandasi ruh. Agar ia tidak terpengaruh dengan segala pengaruh buruk dan hati agar ia tidak dimasuki pengaruh setan.

Islam adalah agama yang lengkap dengan syariat dan aturan. Yang mana bersumber dari Al Quran dan As Sunnah. Sehingga ia datang memperbaiki kondisi kaum wanita, mengangkat derajatnya, agar umat Islam memiliki kesiapan untuk mencapai kemajuan dan memimpin dunia.

Sedangkan aturan khusus bagi wanita adalah berpakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian untuk melindungi mereka dari pelecehan seksual dan fitnah.
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb 59)

Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur, memakai wangi-wangian atau pun berhasil yang berlebihan dihadapkan mereka.
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb 33)

Namun demikian, keduanya tetap berbeda. Karena kaum wanita cenderung lebih lemah dari segi penciptaan, bentuk tubuh, dan tabiatnya. Wanita harus mengalami haidh, hamil, melahirkan, dan menyusui. Wanita adalah bagian dari lelaki, serta perhiasan baginya. Adapun kaum lelaki lebih sempurna dalam hal penciptaannya dan kekuatan alaminya.
Dan lelaki itu tidaklah sama seperti perempuan” (QS. Ali Imran: 36).

Itulah mengapa hanya lelaki yang diperintahkan untuk berjihad atau berperang. Hanya lelaki yang diperintahkan untuk shalat barjamaah di masjid lima kali sehari. Adapun wanita lebih utama shalat di rumahnya. Sebagaimana HR. Abu Dawud, shahih.

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita. Sekaligus mewujudkan tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari perilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita.

Merebaknya perzinahan, pelecehan seksual dan kekerasan rumah tangga adalah di antara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah di atas, dan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita. Selain itu, tidak ada perisai untuk melindungi dan menjamin hak-hak wanita ataupun laki-laki dalam menunaikan amanah sebagai penafkah keluarga. Sehingga sejatinya mereka tak butuh ide ini melainkan butuh Khalifah yang melindungi dan menjamin hak dan kewajiban.

Jikalau program ini bertujuan untuk menyejahterakan wanita, sungguh mustahil hanya omong kosong belaka. Sebab hanyalah Allah yang Mahatahu apa yang terbaik buat hamba-Nya. Sesungguhnya program ini hanyalah akal bulus kaum Kapitalis untuk menggunakan wanita sebagai senjata meraih keuntungan materi belaka.

Sungguh ironis bila kita ikut mendukung program ini. Karena hanyalah Islam yang mengembalikan jati diri wanita dan laki-laki sesungguhnya. Sehingga perlu kita belajar dan membuka diri bahwa dalam sejarah selama lebih dari 13 abad Islam mampu mensejahterakan umat. Melalui Khilafah melindungi umat dari kebengisan para kaum kafir dan penjajah dan mengikat umat dengan syariat Islam agar manusia tidak kebablasan. Oleh karena itu, hanyalah Khilafah Islam satu-satunya yang bisa mewujudkan agar tercipta rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *