Menghapus Sejarah Jihad dan Langkah Sekularisasi Generasi

Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa peradaban Islam yang berlangsung 13 abad itu, yang saat ini di pelajari di madrasah-madrasah di Indonesia dalam mata pelajaran SKI, sepenuhnya berada di bawah naungan Khilafah Islamiyah.


Oleh: Aisyah Karim

Pojokopini.com — Kementerian agama telah menyatakan sikap soal klaim penghapusan materi Perang Uhud dan Perang Badar yang beredar dalam laman resminya, www.kemenag.go.id. Kementerian Agama telah mereview Kurikulum mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Ke depan, fakta-fakta sejarah Islam yang dipelajari di madrasah akan lebih menonjolkan pada tonggak sejarah pembangunan peradaban Islam (liputan6.com/24/09/19).

Penegasan ini disampaikan Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar di Jakarta, Senin (16/09). Penjelasan ini sekaligus mengklarifikasi pemberitaan bahwa Kemenag akan menghapus materi perang dalam kurikulum SKI.

Menurutnya, dalam mereview kurikulum, Kemenag meletakkan pembelajaran SKI di madrasah dari dua sudut. Pertama, dari sudut pandang pendidikan bahwa pembelajaran sejarah Islam perlu membentuk nilai karakter, membekali muatan kognitif, dan menggerakan psikomotorik siswa sebagaimana tujuan pendidikan nasional dan pembentukan karakter Muslim yang rahmatan lil alamin.

Kedua, dari sudut fakta sejarah dengan membekali berbagai fakta sejarah yang ada secara lengkap dalam rangka penguatan misi pendidikan sebagaimana pada sudut pandang pertama. Dengan orientasi itu, maka di dalam kurikulum yang baru, sebenarnya yang diperbaiki atau diubah adalah penonjolan sudut pandang saja dalam mengurai sejarah kebudayaan Islam. Fakta sejarah secara akademik tetap diberikan secara proporsional kepada siswa dengan kekayaan keilmuan yang lengkap, tidak ada yang dikurangi.

Apapun bentuk konfirmasi dari Kementerian Agama senyumi saja. Toh masih segar di ingatan kita bagaimana wacana penghapusan mata pelajaran agama sekalipun juga pernah meluncur dari pejabat negara lainnya. Jika memang tujuan review kurikulum pendidikan madrasah kali ini dimaksudkan untuk membentuk karakter muslim yang rahmatan lil `alamin, mengapa harus menonjolkan satu sisi dan meminimalisir sisi yang lain ? Ada apa ? Apakah ada yang salah dari fakta-fakta sejarah itu sehingga harus ditutupi disatu sisi kemudian ditambal dengan menonjolkan sisi yang lainnya?

Jika benar pembelajaran SKI merangkum sudut fakta sejarah dengan membekali berbagai fakta sejarah yang ada secara lengkap, mengapa Kementerian Agama pernah begitu panik membantah telah mengeluarkan Buku Resmi Fikih MA Kelas XII yang mengajarkan Khilafah? apa yang salah dengan Khilafah? Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa peradaban Islam yang berlangsung 13 abad itu, yang saat ini di pelajari di madrasah-madrasah di Indonesia dalam mata pelajaran SKI, sepenuhnya berada di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah tonggak sejarah pembangunan peradaban Islam dapat tegak kokoh tanpa perang, tanpa jihad? Generasi seperti apa yang ingin dibentuk oleh kemenag dan jajarannya ketika, katakanlah dengan bahasa halus, membatasi konten dan ruang lingkup pembelajaran jihad dalam pembelajaran SKI ini?

Saat ini Muslim Indonesia bersama Muslim dunia lainnya sepenuhnya berada dalam keadaan yang paling menyedihkan sepanjang sejarah umat Islam. Umat Islam jauh dari kedudukannya sebagai pemimpin dalam konstelasi politik dunia. Justru umat Islam berada dalam kendali dan hegemoni negara lain. Runtuhnya institusi politik kaum muslim, Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 menyebabkan umat Islam kehilangan berbagai pemikiran dan aturan yang unik untuk menghadapi aneka pemikiran, aturan dan realitas yang ada. Tumbangnya negara khilafah sama artinya dengan raibnya hukum-hukum syariat sebagai suatu sistem kehidupan. Dan hilangnya syariat dalam kehidupan sehari-hari, bermakna hilangnya standar dan patokan yang harus di ikuti.

Setelahnya umat Islam dihadapkan pada kebingungan demi kebingungan. Jangankan untuk merumuskan solusi permasalahan dengan mengacu pada sumber-sumber hukum syariat dengan cara yang tepat, yaitu dengan ijtihad, umat Islam justru menempatkan realitas atau fakta yang ada sebagai sumber rujukan bagi pemikiran dan solusi yang mereka rumuskan, selain sumber-sumber hukum kufur yang lain. Keputusasaan umat Islam dalam menghadapi permasalahannya semakin memperumit situasi ini. Keadaan ini semakin diperparah oleh kehadiran orang-orang yang tidak tulus, yaitu para agen pengkhianat dan musuh-musuh Islam, yang tidak hanya memanfaatkan kebingungan ini, tetapi juga mengokohkan kekuatan, keinginan, dan pengaruh mereka atas umat Islam.

Kasus pembelajaran SKI ini misalnya, karena ajaran jihad yang mulia ini senantiasa dikait-kaitkan oleh Barat sebagai ajaran kekerasan, sarat radikalisme bahkan terorisme sehingga harus dihilangkan demi mewujudkan kehidupan yang damai. Maka serta merta penguasa mengaminkan, berkompromi dengan mengorbankan Islam.

Bisa dibayangkan ketika sosok Rasulullah SAW dipelajari sejarahnya sebagaimana mereka mempelajari sejarah Napoleon Bonaparte atau Otto von Bismarck. Sejarah beliau dikaji dengan sudut pandang terpisah dari risalah yang dibawanya. Dikaji secara humanis dengan mengesampingkan sisi-sisi politis kehidupannya, terutama tentang kiprah dan perannya sebagai kepala negara yang mampu menegakkan keadilan, kedudukan dan kesejahteraan Islam. Kegemilangan ini tidak hanya dirasakan oleh warga negara Daulah Islamiyah yang muslim namun juga non muslim. Kemudian negara ini dilanjutkan oleh para Khalifah sepeninggal Rasulullah SAW, terus meluas sebagai dampak dari penerapan sistem politik luar negerinya yang mumpuni yaitu penyebarluasan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Politik luar negeri itu dijalankan dengan metode yang sama tidak pernah berubah yaitu jihad. Ketika Rasulullah melaksanakan perang Badar maka ini adalah bagian dari politik luar negeri Daulah Islam untuk menghilangkan rintangan fisik dakwah yaitu kafir Quraisy, demikian pula perang Uhud, Khandak, Khaibar, Mu`tah maupun Tabuk. Semua peperangan ini dilakukan untuk menghilangkan institusi penghalang dakwah dan membebaskan negeri-negeri.

Jihad dan pembebasan negeri-negeri ini adalah bentuk pelaksanaan kewajiban kaum muslim, yaitu menyampaikan Islam ke seluruh umat manusia dengan cara yang sangat menarik perhatian dengan menegakkan hukum-hukum Islam kepada mereka seketika dan menyebarkan pemikiran-pemikiran Islam. Jihad tidaklah dimaksudkan untuk mengeksploitasi dan menjajah bangsa-bangsa yang dibebaskan dengan mengeruk kekayaan mereka melainkan hanya untuk mengemban dakwah Islam.

Rasulullah SAW sebelum wafatnya telah meletakkan strategi jihad (futuhat). Setelah Daulah didirikan di Jazirah, beliau kirimkan surat dan utusan-utusan politik ke berbagai negeri termasuk kepada Kisra di Persia, Kaisar penguasa Romawi maupun Najasyi penguasa Habsyah dan selain mereka dari kalangan para raja dan penguasa. Beliau juga menempuh dua cara yaitu melancarkan perang Mu`tah dan Tabuk serta menyiapkan pasukan Usamah. Islam tidak melakukan pembedaan terhadap wilayah dunia yang akan dibebaskan dengan jihad. Misalnya tidak membedakan pembebasan ke Mesir, yang memiliki kekayaan dan dapat dibebaskan dengan mudah; dengan saat membebaskan Afrika Utara yang berupa padang pasir gersang, miskin dan sulit dibebaskan, serta menyusahkan penyebaran Islam didalamnya.

Islam memasuki setiap negeri, baik yang miskin maupun yang kaya. Juga tetap menghadapi bangsa apa saja, baik yang menyerah begitu saja maupun yang melakukan perlawanan. Negara hanya mengenal satu prinsip, yaitu mengemban dakwah Islam sebagai kepemimpinan idiologis yang memancarkan sistem kehidupan.

Kurang dari 100 tahun sejak meninggalnya Rasulullah SAW pada tahun 632 M, hukum Islam yang diemban negara Khilafah telah di tegakkan di wilayah yang luasnya hampir satu setengah kali luas Kekaisaran Romawi pada masa kejayaannya, yakni di sekitar tahun 100 M pada masa kekuasaan Kaisar Trajan. Kekuasaan negara Khilafah yang multi etnik dan multi bahasa ini terbentang mulai dari Arab, terus membentang hingga 4500 mil, sampai meliputi tiga benua. Mulai dari perbatasan Cina disebelah timur sampai di Spanyol dan Perancis Selatan di sebelah barat. Bahkan penaklukan Islam berhasil menyatukan Timur Tengah, selain Afrika Utara dan Spanyol, dibawah satu kepemimpinan untuk pertama kalinya sejak zaman Iskandar Yang Agung (356-323 SM). Hukum Islam mampu menyatukan wilayah tersebut dan dibawah kekuasaan Islam orang-orang Yunani, Berber, Koptik, Armenia, Arab, Turki, India dan Cina bisa bersatu padu.

Kaum Muslim tidak hanya kuat secara fisik dan memiliki taktik strategi cemerlang dalam berjihad. Namun jihad juga telah menghantarkan mereka pada teknologi berperang yang terus berkembang dari waktu kewaktu.

GeorgeTate mencatat dalam The Crusaders and The Holy Land. Ketika armada negara Khilafah yang terdiri dari 500 kapal perang berhasil menaklukkan Siprus, kepulauan Rhodes serta kepulauan Yunani lainnya. Pasukan Yunani biasa menembaki musuhnya menggunakan `Api Yunani` (nafta). Nafta telah lama digunakan dalam perang di lautan, dan pada saat-saat pengepungan digunakan untuk menyalakan api pada mesin-mesin perang, termasuk kapal-kapal perang. Sementara kaum Muslim meramu belerang, salpeter, dan minyak nafta, untuk membuat bahan bakar yang mampu menyala di air. Penggunaan bahan bakar ini menghasilkan akibat yang sangat besar terhadap pasukan salib. Orang-orang Barat tidak mempelajari senyawa ini hingga bertahun-tahun kemudian.

Negara-negara kolonialis kafir Barat menyatakan, “Waspadalah terhadap Khalifah kaum Muslim, yang hanya dengan telunjuk tangannya mampu mengerahkan tiga juta pasukannya untuk melawan kita dalam satu pertempuran”. Itulah fakta ketika seluruh umat Islam berada dalam satu kepemimpinan, seorang Amir (Khalifah), yang menyatukan dalam satu kesatuan, yakni negara Khilafah yang perkasa. Negara inilah yang membuat musuh-musuh Islam menyatakan, “Jika kalian menginjak ekor seekor anjing di Eropa, maka ia akan menyalak di seluruh Asia. Maka waspadalah.

Panji-panji Islam yang di bawa pasukan Islam telah menorehkan sejarah, mampu memberikan pengaruh yang kuat dan unik ke seluruh dunia. Pengaruh yang sangat diperhitungkan hingga kini, yaitu sekitar 1400 tahun kemudian, mulai dari Maroko hingga Indonesia. Bahasa Arab dan kebudayaan (hadhlarah) Islam mampu mempengaruhi peradaban dunia, menjadi sebuah standar bagi kehidupan seluruh umat manusia. Dampak penyatuan wilayah yang demikian luas itu tidak hanya menghilangkan rintangan-rintangan politik namun juga mampu menghilangkan hambatan-hambatan bahasa dan ilmu pengetahuan yang sangat ketat di masa sebelum Islam.

Sebelumnya di masa-masa kekaisaran Bizantium dan kekaisaran Persia selalu dalam kecamuk perang, tetapi dimasa kekuasaan Islam, seorang mahasiswa kedokteran dari akademi kedokteran di Jundhishapur dapat bertemu dengan koleganya dari universitas-universitas lain di Iskandariah atau Baghdad, mengadakan diskusi dengan orang Arab atau orang Turki. Dengan cara inilah kota-kota di wilayah negara Khilafah menjadi pusat-pusat pengajaran, kemajuan dan pendidikan bagi seluruh umat manusia; di mana para sarjana, cendikiawan, pemikir dan ilmuwan dari berbagai latar belakang budaya, agama dan bahasa saling bertukar pikiran. Selain ibu kota Khilafah, wilayah-wilayah lain seperti Bukhara, Samarkand, Shiraj, Damaskus, Aleppo (Halab), Kairo, Tunis, Fez, Cordova dan sebagainya, seakan saling berlomba meraih prestasi ilmiah.

Pada saat aktivitas intelektual yang intensif berlangsung dinegara Khilafah, justru Eropa sedang mengalami masa kegelapan, dimana tidak terjadi perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan dan peningkatan pemikiran. Negara Khilafah menjadi pemimpin terdepan peradaban dunia, tempat berkembang berbagai aspek kehidupan manusia. Khilafah menyinari seluruh dunia selama lebih dari 13 abad.

Kehadiran negara Khilafah dalam kancah politik dunia merepresentasikan keberadaan kebijakan politik luar negeri negara Islam, yang diaplikasikan secara praktis melalui dakwah dan jihad kepada seluruh umat manusia di dunia. Maka kemanapun kebijakan politik luar negeri tersebut diarahkan, manusia akan berduyun-duyun bernaung di bawah negara Khilafah untuk mendapatkan keamanan dan perlindungannya.

Ada 2 faktor yang membuat kaum Muslim dan Islam memperoleh keberhasilan dalam kancah politik Internasional, yaitu pertama, karena kaum Muslim memahami makna dakwah Islam. Kedua, karena umat Islam menyadari sepenuhnya arti pentingnya jihad yang merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mengemban Islam ke seluruh dunia. Dengan menggabungkan kedua konsep ini, mereka menjadi umat yang terkemuka, sekaligus sebagai pemelihara dunia. Tidak ada umat lain yang mampu merebut kedudukan ini karena tangguhnya militer Khilafah. Lebih jauh lagi tidak ada pihak yang mampu mengalihkan pandangan umat manusia dari keadilan sistem Islam. Islam tersebar luas mengagumkan sekalipun sarana komunikasi yang tersedia saat itu hanyalah pena dan sarana transportasi sebatas hewan tunggangan.

Pada abad ke-15 negara Khilafah menguasai Konstantinopel. Memasuki abad ke–16, kaum muslim bergerak memasuki Eropa Selatan dan Timur, menyampaikan Islam kepada penduduknya. Jutaan penduduk Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan negeri-negeri lain berduyun-duyun masuk Islam. Muncullah kembali kebencian perang salib dan lahirlah konsep orientalis, yang diarahkan untuk menahan laju tentara Khilafah, menghentikan futuhat dan menghilangkan-atau paling tidak mengurangi ancaman dari negara Islam.

Kafir Barat telah memahami kunci kekuatan Khilafah, yaitu Jihad. Oleh karena itu, sejak memasuki abad ke–19, Barat melancarkan perang pemikiran yang dasyat dan ganas untuk melawan konsep jihad. Konsep ini dipahami sangat berbahaya dan harus diselewengkan dari pemikiran umat Islam. Jika konsep dan makna jihad menjadi kabur atau bahkan hilang, maka kedudukan dan keberadaan Barat yang sangat kuat akan kembali.

Orang-orang kafir mengadakan pertemuan di negeri-negeri Islam. Mereka mulai mencetak agen-agennya yaitu anak-anak umat Islam yang dididik dan di sekolahkan di Eropa. Hasil pertemuan-pertemuan itu adalah opini bahwa dakwah Islam memang merupakan sesuatu yang mulia, tetapi aktivitas ini harus dilakukan melalui ceramah-ceramah, tabligh, wejangan-wejangan bukan melalui peperangan, yang mereka sebut sebagai `kekerasan`,` teror` dan `perusakan`, sekalipun fakta yang diakui secara universal memperlihatkan bahwa jihad tidak pernah menghasilkan hal-hal yang demikian.

Lebih jauh disebutkan bahwa jihad ofensif dan situasi internasional terkini perlu diselaraskan. Opini menyesatkan ini disertai dengan hujjah yang dihasilkan melalui pemelintiran nash-nash syara`. Aktivitas ini terus berlangsung hingga hari ini. Barat telah menghancurkan dunia Islam melalui pendidikan. Sekularisasi kurikulum menjadi salah satu rencana kolonial Barat pada saat terjadi proses keruntuhan negara Khilafah Utsmaniyah.

Para ulama dan cendekiawan yang ditunjuk oleh pemerintah Mesir untuk duduk dalam lembaga pusat pengembangan kurikulum telah berupaya keras siang dan malam untuk melakukan evaluasi ulang atas puluhan ayat al-Qur`an yang berbicara tentang jihad. Setelah itu, mereka mengajukan pengajaran alternatif tentang makna jihad. Akhir abad ke-20, sebuah konferensi diadakan di kota Dakar bagi perwakilan negara-negara Islam. Opini yang disampaikan adalah jihad merupakan konsep yang cocok untuk situasi internasional masa lalu. Maka disusunlah resolusi yang menyerukan penghapusan jihad ofensif, dengan dalih bahwa segala pertikaian internasional bisa diselesaikan dengan dialog dan perundingan, yang di prakarsai oleh PBB dengan mengacu pada hukum internasional.

Pengakuan para pemikir dan intelektual Islam yang berdalih sebagai upaya memperkaya khazanah pemikiran Islam, merupakan kamuflase belaka, karena faktanya pendapat yang demikian justru memperlemah umat Islam. Penguasa dan intelektual kaum muslim tidak pernah menekankan pendapat mereka terhadap peperangan yang terus dilakukan oleh Barat, yang justru menjadikan perang sebagai hak eksklusif milik mereka untuk menekan bangsa lain.

Kini sekularisasi siswa Muslim lebih halus dan mudah karena diambil alih lembaga internasional. Konferensi antar agama secara rutin merekomendasikan perubahan kurikulum di negeri-negeri Muslim. Ketentuan badan-badan bantuan internasional seperti IMF dan Bank Dunia agar negeri-negeri Muslim mengadopsi beberapa kurikulum pendidikan dan menghapus kurikulum yang lain, sebagai imbal balik penyediaan dana hibah, pinjaman atau pembatalan beberapa utang negara.

Kemitraan Euro-Mediterania di mana Eropa mewajibkan negara-negara lain untuk mengubah kurikulum mereka sebagai pertukaran dana hibah, kemitraan dan hal serupa lainnya. Konferensi dan seminar internasional yang diatur oleh badan internasional seperti UNRWA (United Nation Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East), UNESCO dan UNICEF yang mencoba untuk mengintegrasikan nilai-nilai global dalam kurikulum pendidikan dan memperkuat ide yang menyeru kepada sistem global yang baru.

Krisis dalam perang melawan kurikulum pendidikan Islam meningkat ketika Amerika memasuki negeri-negeri muslim. Kampanye dan seminar terus berlangsung untuk mengokohkan sekulerisasi kurikulum di dunia Islam, khususnya wilayah Timur Tengah dan Teluk Arab. Mereka menjadi bagian dari perang melawan terorisme demi menghapus citra negatif terhadap Amerika, entitas Yahudi dan dunia barat pada umumnya. Pernyataan tersebut telah tertulis dengan sangat jelas pada dokumen perjanjian Camp David serta pada perjanjian Oslo dan Madrid.

Hal-hal ini disebutkan dalam konstitusi organisasi “Islam dan Barat” yang diawasi oleh UNESCO pada tahun 1979 dan dipimpin oleh Lord Caradon. Menurutnya, para penyusun buku sekolah seharusnya tidak menghakimi nilai-nilai moral baik secara eksplisit maupun implisit, seperti halnya tidak tepat bagi mereka menjadikan agama sebagai kriteria atau tujuan pendidikan.

Nah, jika hari ini isu yang sama mengalir dari Kementerian Agama republik ini, sungguh bukanlah sesuatu yang baru. Apalagi jika kita mengamati rekam jejak kemesraan departemen ini dengan sarang orientalis dunia, yaitu Universitas McGills yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Kerjasama ini sukses mencetak para cendikiawan liberal yang kini tumpah ruah di negeri muslim terbesar dunia ini.

Orang-orang kafir Barat telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap rencana untuk menghapuskan kekuatan dan keperkasaan umat Islam. Kita harus pahami itu, bahwa tujuan yang telah mereka rintis sejak abad ke-19 itu, sejatinya merupakan bagian dari suatu upaya dan metodologi yang dilakukan secara terus menerus dan terencana untuk menghalangi tegaknya negara Khilafah. Ketakutan dan kebencian Barat terhadap kekuatan Islam politik telah mengkristal pada diri mereka hingga diwariskan dari generasi ke generasi. Trauma itu tidak akan terhapus karena posisi umat Islam dalam Intitusi Khilafah Islamiyah niscaya akan mempengaruhi konstelasi perpolitikan internasional.

Kekhawatiran Barat tidak terhenti ketika Khilafah diruntuhkan, namun ancaman yang lebih menakutkan adalah potensi kebangkitan kembali Khilafah yang semakin kencang di seantero negeri kaum Muslimin. Seruan ini mulai menggema dari timur hingga barat, semakin keras dari waktu ke waktu. Karenanya Barat menyiapkan konsep penghapusan jihad dari tubuh umat Islam. Jika umat kehilangan Khilafah dulunya, dan kemungkinannya bangkit telah demikian sulit untuk diingkari, setidaknya jika umat kehilangan arti kebijakan politik luar negeri dan makna jihad yang hakiki, maka bolehlah Khilafah itu tegak kembali, namun umat tidak mengetahui kunci rahasia untuk mengokohkan negara mereka, bagaimana cara merintis negara itu, serta bagaimana cara mempertahankan kekuatan dan posisi tersebut.

Oleh karenanya kita tidak boleh diam, ketika nilai-nilai dan prinsip kita dipelintir, dibelokkkan dan diamputasi dari pemikiran anak-anak kita di madrasah. Kita harus paham bahwa saat ini umat diarahkan menuju perangkap yang mengerikan dan mematikan ini. Penyebabnya jelas karena kesalahpahaman yang sangat parah dan kelalaian dalam kesadaran politik. Umat Islam harus mampu mengindera rencana dan makar musuh-musuhnya.Ketidakpahaman mengenai jihad-sebagai suatu kewajiban spiritual-mengakibatkan absennya dakwah Islam yang paling efektif dan berpengaruh; juga hilangnya misi dan tujuan hidup umat Islam. Absennya misi dan tujuan hidup mengakibatkan matinya kepedulian atas urusan kaum Muslim maupun umat manusia. Pada akhirnya akan menghilangkan pengaruh Islam atas negara-negara di dunia. Sementara pada saat yang sama, persaingan antar negara semakin menggila. Agresi kafir baik Barat maupun Timur terus berlangsung baik secara terang-terangan maupun terselubung. Wahai umat, bangunlah dari tidur panjangmu![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *