Menghapus Sejarah, Menghapus Kebenaran

Menghapus Sejarah, Menghapus Kebenaran

Semestinya negara mengambil pelajaran dari kegemilangan peradaban Islam pada masa kekhilafahan untuk kemajuan bangsa hari ini. Bukan malah mengaborsi dan mengubur sejarah Islam. Karena adanya bangsa ini adalah hasil perjuangan dari jasa-jasa para ulama dan kekhilafahan Islam di masa lalu.


Oleh: Sofia Ariyani, S.S (Muslimah Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Dunia pendidikan kembali geger dengan rumor penyederhanaan mata pelajaran sejarah, yang sebelumnya wacana “penyempurnaan” mata pelajaran Bahasa Arab dibahas Kemendikbud. Rumor itu muncul setelah ramai pembahasan penyederhanaan kurikulum yang akan dilaksanakan Maret 2021 mendatang. Namun, Mendikbud tidak mengakui hal tersebut.

Saya ucapkan sekali lagi, tidak ada rencana kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” ujar Nadiem Makarim, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari unggahan Instagram @kemdkbud.ri pada 20 September 2020.

Nadiem menjelaskan rumor tersebut muncul karena bocornya presentasi internal dengan salah satu permutasi penyederhanaan kurikulum (pikiranrakyat.com, 20/09/2020).

Masyarakat serta sebagian akademisi Sejarah menanggapi rumor ini dengan kekecewaan dan penolakan. Pasalnya, mata pelajaran Sejarah akan dilebur dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Artinya Sejarah tidak lagi menjadi mata pelajaran yang wajib untuk semua siswa.

Pada Kamis pekan lalu (17/9/2020) beredar draf bertanda Kemendikbud tertanggal 25 Agustus 2020 dengan judul “Sosalisasi Penyerderhanaan Kurikukulum dan Asesmen Nasional“. Pada salah satu bagian, draf itu menjelaskan tentang ketidakwajiban pelajar di tingkat SMA/sederajat untuk mengambil mata pelajaran Sejarah. Untuk siswa pada jenjang kelas 10 SMA/sederajat pelajaran Sejarah dilebur bersama pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Artinya Sejarah tidak lagi menjadi mata pelajaran yang diwajibkan untuk semua siswa. (tirto.id, 20/09/2020)

Meski akhirnya direvisi, masyarakat harus paham bahwa penyederhanaan kurikulum tersebut berdampak tidak wajibnya pelajaran Sejarah untuk SMA/SMK adalah berbahaya. Sebab, dapat menghilangkan memori tentang jasa ulama bagi negeri, menghapus memori tentang tragedi kekejaman G 30 S PKI, dan sebagainya.

Selama ini pun sejarah hanya mendapat porsi dua jam dalam sepekan di sekolah, dari tingkat SD hingga SMA dan sederajat. Belum lagi sejarah yang selama ini disuguhkan kepada siswa adalah sejarah yang tidak utuh. Alhasil siswa tidak memperoleh sejarah bangsanya secara utuh. Padahal sejarah memiliki arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa.

Jika mata pelajaran sejarah dihapuskan, akan menjadikan negara ini sebagai “second hand“, sebuah bangsa “tangan kedua” yang akan hidup di bawah ketiak bangsa lain. Dengan kata lain “bangsa pembebek”. Karena tidak memiliki jati diri. Hal ini akan sangat mudah bagi negara-negara penjajah untuk menguasai bangsa “tangan kedua” tersebut.

Nampaknya upaya pengaburan bahkan penguburan sejarah Indonesia sudah dijalankan sejak puluhan tahun ke belakang. Salah satunya penguburan sejarah jejak Khilafah Islam di Nusantara. Hal ini terbukti saat rilisnya film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) dengan jumlah viewers di luar dugaan. Butanya pengetahuan sejarah pada masyarakat inilah yang mendorong mereka untuk menyaksikan film JKDN. Pun, minimnya pengetahuan sejarah tersebab dikuburnya hidup-hidup sejarah keagungan Islam di Nusantara. Hal tersebut sejalan dengan upaya musuh-musuh Islam melalui rezim yang mendiskreditkan ajaran-ajaran Islam, ulama, dan para pejuang Islam.

Semestinya negara mengambil pelajaran dari kegemilangan peradaban Islam pada masa kekhilafahan untuk kemajuan bangsa hari ini. Bukan malah mengaborsi dan mengubur sejarah Islam. Karena adanya bangsa ini adalah hasil perjuangan dari jasa-jasa para ulama dan kekhilafahan Islam di masa lalu.

Islam memandang sejarah tak ubahnya sebagai ibrah (pelajaran). Sejarah akan memberikan gambaran kepada manusia pada masa lalu. Karena ketika bicara sejarah maka akan kita dapati hasil rekaman antara kejahatan dan keadilan, antara ambisi dan kebijakan, antara keramahan dan kekerasan, antara ketidakadilan dan kebijaksanaan. Dari sini manusia dapat mengambil hikmah, manakah yang seharusnya dilakukan, dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Sejarah menjadi pijakan manusia dalam bertindak. Bukan mengeyampingkan atau bahkan dienyahkan.

Mengutip Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, di dalam Islam, sejarah tidak boleh dijadikan sebagai sumber rujukan bagi peraturan dan fikih. Peraturan hanya diambil dari sumber-sumber fikih, bukan dari sejarah, sebab sejarah bukanlah sumber fikih. Sebagai contoh, apabila kita hendak memahami sistem komunis, maka kita tidak dapat mengambilnya dari sejarah Rusia melainkan mengambilnya dari buku-buku ideologi komunis. Begitu pula jika kita hendak mengetahui perundang-undangan Inggris, maka kita tidak bisa mengambilnya dari sejarah Inggris, akan tetapi mengambilnya dari kodifikasi hukum Inggris itu sendiri. Kaidah ini berlaku untuk setiap sistem dan undang-undang. Pun kaum muslimin tidak dibenarkan menjadikan sejarah Umar bin Khaththab, Umar bin Abdul Azis, Harun al-Rasyid, dan lain-lain sebagai sumber hukum.

Adalah penting pula menjadikan sejarah sebagai gambaran untuk kehidupan selanjutnya agar manusia tidak masuk ke dalam lubang yang sama. Atau justru untuk membangun strategi-strategi yang dapat mewujudkan apa yang sebelumnya belum terwujud. Sebagaimana para khalifah menjadikan sejarah sebagai “past for the future“. Merekonstruksi apa-apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Sultan Muhammad Al Fatih misalnya, yang menjadikan bisyarah Rasulullah saw. juga perjuangan sahabat Nabi, Abu Ayub Al Anshari, dan generasi kaum muslimin pada tiap masa dari masa kekhilafahan Bani Umayyah hingga kekhilafahan Utsmaniyah untuk membebaskan Konstatinopel.

Dengan demikian, umat Islam harus senantiasa menjadikan sejarah kegemilangan Islam sebagai semangat perjuangan untuk mengembalikan peradaban Islam (Khilafah Islam), dan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kezaliman yang menyiksa selama ini.

Oleh karena itu, tidak tepat jika Sejarah harus diamputasi bahkan dikubur. Sejarah ibarat harta karun yang dapat kita pilah mana yang baik itu yang diambil, mana yang buruk itu yang ditinggalkan. Karena mengamati sejarah adalah tidak hanya menggali masa lalu tapi juga menemukan kebenaran.

History is not only digging the past but digging ke truth,” kata ustaz Ismail Yusanto. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *