Mengkritisi 6 bentuk Kesalahan Kesetaraan Gender bagi Perempuan

Mengkritisi 6 bentuk Kesalahan Kesetaraan Gender bagi Perempuan

Pejuang gender telah menempuh perjalanan panjang untuk terus meyakinkan dunia tentang ilusi yang dibawanya. Sebuah gerakan yang lahir dari pondasi sekuler yang memandang perempuan harus disetarakan dengan laki- laki dalam semua hal.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Salah satu jalan menyibak dan membius kesadaran perempuan dalam arus kesetaraan gender adalah budaya patriarki. Budaya ini menempatkan laki-laki lebih utama, lebih tinggi dan dominan daripada perempuan. Sehingga para pejuang gender punya argumen seolah membela perempuan tetapi hakikatnya melemparkan perempuan ke jurang nista peradaban.

Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. Beberapa masyarakat patriarkal juga patrilineal, yang berarti bahwa properti dan gelar diwariskan kepada keturunan laki-laki. Secara tersirat sistem ini melembagakan pemerintahan dan hak istimewa laki-laki serta menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki. (Kompasiana.com, 28/10/2019)

Pejuang gender telah menempuh perjalanan panjang untuk terus meyakinkan dunia tentang ilusi yang dibawanya. Sebuah gerakan yang lahir dari pondasi sekuler yang memandang perempuan harus disetarakan dengan laki- laki dalam semua hal.

Gerakan ini menjadi kerja strategis PBB untuk menjadikan kesetaraan gender menjadi isu utama dunia dengan target tahun 2030 terwujud planet 50×50.
Terlebih lagi tahun 2020 ini adalah 25 tahun perjuangan mereka mewujudkan platform Beijing (BPFA Beijing Platform For Act). Sebuah perjuangan tak berujung yang mustahil di raih. Yaitu menjadikan perempuan dan laki-laki sama dan setara. Setara dalam berbagai bidang baik ekonomi, kepemimpinan dan sebagainya.

Kehadiran pejuang gender berbekal sudut pandang bathil sehingga menimbulkan kekacauan baik pada individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Padahal Keutamaan laki-laki terhadap perempuan sangat jelas tertera dalam Al-Quran, laki- laki adalah pemimpin bagi perempuan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS An -Nisa’ [4] : 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”

Demikianlah Allah SWT telah menjelaskan kepemimpinan dalam rumah tangga kewenangan laki-laki. Karena Dia telah menetapkan berbagai kelebihan kepada mereka sejumlah taklif seperti kekuasaan dalam pemerintahan, imam dalam shalat, wali dalam pernikahan dan hak menjatuhkan talak dalam perceraian, sebagaimana ditegaskan dalam :

بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

….karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), ….QS An-Nisa’ [4] : 34.

Dalam artikel IDN Times dikatakan, Perempuan berhak diperlakukan adil dan sama di ruang publik, mulai dari hal sederhana sampai hal yang lebih kompleks. Intinya adalah tidak ada penindasan bagi kaum perempuan untuk semua hal. Berikut contohnya.

  1. Posisi di masyarakat sama dengan laki-laki.
  2. Mendapatkan kesempatan pendidikan formal setinggi-tingginya
  3. Tidak diperlakukan kasar
  4. Tidak ada kesenjangan di dunia pekerjaan
  5. Mendapatkan ruang untuk berpolitik
  6. Memiliki hak kepemilikan yang sama. (IDN Times, 7/04/2020)

Keenam hal yang mereka katakan agar diperoleh perempuan dalam kesetaraan gender, merupakan hal yang sebenarnya secara fitrah telah ada pada perempuan. Tak perlu diperjuangkan dalam kereta perjuangan panjang lagi sarat ilusi. Marilah kita perhatikan satu persatu.

Pertama, jika perempuan menuntut sama dengan laki-laki, maka ini adalah bentuk penentangan kepada Dzat yang maha sempurna. Allah sudah menciptakan manusia dalam dua jenis, laki dan perempuan. Masing- masing memiliki fungsi dan peran berbeda karena jenisnya berbeda. Apa gunanya kalau beda jenis menuntut sama? Ini adalah tuntutan melampau batas, lancang dan menantang pada Allah SWT.

Yang kedua, perempuan mendapat kesempatan luas untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Islam tak pernah melarang bahkan memerintahkan menuntut ilmu termasuk pada perempuan. Islampun telah menempatkan orang berilmu itu lebih tinggi derajadnya. Tanpa ada pemilahan jenis. Karena ilmu adalah landasan orang berilmu. Beramal tanpa ilmu akan sia-sia belaka.

Kalaulah ada fakta perempuan sering mendapatkan perlakuan tak adil baik dalam perlakuan maka itu karena sistem sekuler kapitalis yang memang diskriminatif pada pangkalnya. Diskriminasi yang sejatinya diciptakan oleh sistem sekuler kapitalis. Tetapi mereka mencari solusi untuk disamakan.

Ketiga, tidak mendapat perlakuan kasar. Perlakuan kasar muncul dari jiwa yang kering kerontang dari iman. Sehingga manusianya pun seringkali beringas. Jiwa kosong dari iman sangat subur dalam sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang membuat manusia goyah terlepas dari fitrah. Pantas dalam kehidupan melampaui batas. Segala kekerasan termasuk pada perempuan sangat marak. Jadilah perempuan menjadi korban. Pegiat genderpun berjuang seolah menyelamatkan mereka. Namun sejatinya mencelakannya, dengan meminumkan racun seolah madu.

Berbeda dengan ketika kita membangun jiwa dengan aqidah Islam. Tentu lahir manusia berkepribadian Islam yang berakhlak mulia. Yang menjadikan perbuatan baik tak sekadar nilai moral semata. Tetapi ketundukan pada syariat yang mulia.

Keempat, kesenjangan dalam pekerjaan. Apalagi dalam pekerjaan. Kemuliaan perempuan karena perannya menentukan dan membangun generasi ke depan, tentu jenis pekerjaan yang tak akan melunturkan kemuliaannya kalaupun harus bekerja. Kenapa? Perempuan dalam Islam di rumahnya saja wajib dilindungi suami atapun mahromnya. Tentu takkan dibiarkan melangkahkan kaki dari pintu rumahnya jika tak aman baginya. Tentu tragis dan ironis ketika perempuan menuntut sama. Menuntut kebebasan kerja sebagaimana pria. Walaupun harus menyabung nyawa para pejuang devisa! Lantas di mana kehormatannya?

Demikianlah Islam sungguh memuliakan dan menjaga kehormatan perempuan dengan menerapkan hukum-hukumNya. Sangat jauh dari sekuler kapitalisme menghinakannya. Dengan mengeksploitasi dan memerahnya demi kepentingan para kapitalis durjana.

Kelima, mendapatkan ruang untuk berpolitik adalah hal niscaya dalam Islam.karena Allah SWT dalam firmanNya ada seruan terkait jenis dan ada juga seruan tanpa memandang jenis. Seperti menuntut ilmu dan berdakwah. Menjadi kewajiban semua.

Dalam ranah politik perempuanpun boleh memilih ataupun dipilih menduduki anggota majelis ummat. Hal ini sebagaimana dalil yang menunjukkan Rasulullah Saw setelah pelaksanaan baiat bersabda kepada mereka baik laki-lski maupun perempuan yang artinya sebagai berikut :

Pilihlah di antara kalian dua belas pemimpin (wakil) bagi kaumnya sebagai penjamin atas berbagai tanggungan mereka.”

Tak ada diskriminasi dalam politik bagi perempuan. Karena Allah telah menggariskan mana wilayah aktivitas politik laki-laki dan mana aktifitas politik yang perempuan boleh ada di dalamnya.

Keenam, memiliki hak kepemilikan yang sama. Perkara ini telah jelas digariskan dalam Islam. Bahwa semua yang ada di alam semesta beserta isinya adalah milikNya. Manusia tanpa memilah jenis apakah laki-laki ataupun perempuan boleh memiliki benda-benda yang boleh dimiliki individu seperti rumah, tanah, mobil dan lain sebagainya. Terhadap benda yang kepemilikannya ada pada manusia/milik umum maka baik laki-laki maupun perempuan haram memilikinya. Seperti sumber mata air, tambang minyak, tambang garam dan yang lainnya yang termasuk kriterima milik umum.

Dalam kitab Nidzamul Iqtishadi karya al alamah Syekh Taqiyuddin An Nahbani dikupas sangat jelas tentang ketiga macam kepemilikan. Yaitu milik individu, boleh dimiliki baik individu laki-laki maupun perempuan dengan syarat kepemilikan ini diperoleh dengan cara yang dibenarkan syara. Kepemilikan umum yang tetap menjadi milik umum. Negaralah yang mengelola dan hasilnya untuk kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat. Kepemilikan negara akan dikelola negara.

Demikianlah 6 hal yang dianggap para pegiat gender harus didapatkan perempuan ini hanyalah asumsi. Karena sebenarnya Islam telah menempatkan perempuan pada posisi mulia dan bergengsi. Sehingga keenam hal tersebut adalah hal yang pasti didapatkan perempuan dalam penerapan Islam kaffah, yaitu Khilafah Islamiyyah. Wallahu a’lam bi ash Shawwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *