Menolak Lupa, Masalah Utama Palestina

Maka klaim Yahudi terkait tanah yang dijanjikan Tuhan itu adalah klaim yang tak berdasar. Negara Israel di palestina tetap ilegal hingga hari kiamat.


Oleh: Zinnirah Abdillah (Aktivis Peduli Umat)

POJOKOPINI.COM — Dahulu ketika Sultan Abdul Hamid II masih menduduki kursi kepemimpinan di sisa-sisa Negara Adidaya Islam, pada akhir abad ke 20, Sultan Abdul Hamid II pernah menolak secara tegas permintaan seorang Yahudi bernama Theodor Herzl, tentang sepetak tanah di palestina untuk orang Yahudi. Sultan mengatakan “saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal, karena tanah ini bukan milik ku tetapi milik ummat ku”.

Adidaya Islam itu telah dimusnahkan oleh tangan Yahudi dan sekutunya. Hari ini, dengan penuh kesombongan mereka mengatakan itu kepada umat Islam, “Tidak. Selama saya punya kekuasaan dan kontrol, takkan saya serahkan satu sentimeter pun lahan Tanah Israel. Titik.” Tegas Perdana Menteri baru Israel Neftali Bennatt saat diwawancarai soal prospek Negara Palestina (Tirto.id, 18/06/2021). Agaknya, ia merasa sudah memiliki negara adidaya.

Kaum Yahudi ini seperti kehilangan muka. Disaat sejarah panjang mencatat kelakukannya yang merampas tanah Palestina dari kaum muslimin, lalu ia berdiri ditengah-tengah muslim dunia dan meneriakkan bahwa ia anti negara Palestina. Padahal pernyataan itu pantasnya diucapkan oleh kaum muslimin. Karena Palestina adalah tanah sakral warisan Rasulullah, dan lambang persatuan kaum muslimin ada di Baitul Maqdis.

Palestina juga tanah kharajiyah yang haram diperjualbelikan apalagi diserahkan kepada penjajah. Palestina tanah yang dibebaskan dengan darah oleh pasukan Shalahuddin Al Ayyubi. Sedangkan kaum Yahudi, tidak memiliki sejarah apapun kecuali kisah dicabut oleh Allah janji dengan kaum Yahudi karena keingkaranya kepada Allah dan Nabi Musa as. Lihat (QS. Al Baqarah: 83). Maka klaim Yahudi terkait tanah yang dijanjikan Tuhan itu adalah klaim yang tak berdasar. Negara Israel di palestina tetap ilegal hingga hari kiamat.

Bagaimana Yahudi Mendirikan Negara Israel

Berawal dari mimpi besar seorang Yahudi bernama Theoder Herzl, ia berambisi membuat negara Yahudi yakni negara Israel mulai dari sungai Nil hingga sungai Eufrat, sebagaimana simbol bendera Israel. Dengan cara mengasup kaum Yahudi tentang tanah yang dijanjikan Tuhan di Palestina. Mereka mengaku keturunan nabi Ya’qub (bani israil) dari salah satu anaknya bernama Yehuda, juga mengaku kaumnya Nabi Musa as. Tapi sayangnya watak Yahudi tidak menunjukkan kaum yang taat kepada Tuhan dan Nabi Musa yang dikutinya.

Negara Israel lahir dari berbagai konspirasi Yahudi dan sekutunya Inggris, Amerika beserta kaki tangan dari para pengkhianat di negara Islam, mereka mendapatkan status negara itu dari Palestina dengan cara licik, keji, penuh dengan intrik yang menjijikkan. Mereka memecahbelah kesatuan negeri-negeri muslim, iming-iming bantuan, propaganda, adudomba, ancaman, pengusiran, pengkhianatan, bahkan membunuh para wanita dan anak-anak, hingga perang menghancurkan seluruh bangunan warga sipil.

Meski demikian, Yahudi hari ini telah menjadi negara yang kuat atas dukungan negara Adidaya yakni Amerika dan Inggris. Alih-alih mendatangkan solusi, negara Adidaya malah melakukan pengkhianantan terhadap Palestina dengan menghadirkan solusi “two state” atau membagi wilayah Palestina untuk Israel. Inggris memberikan tanah Palestina kepada Israel melalui deklarasi Balfour pada tahun 1917. Disahkan secara resmi oleh para penyokong penjajahan Israel melalui deklarasi PBB.

Maka sangat aneh jika akhirnya negara-negara muslim dunia mengakui solusi “two state” ini. Padahal mengakuinya sama saja memberikan angin segar kepada para penjajah. Belum lagi hitungan negara yang telah menyepakati normalisasi dengan Israel, seperti UEA, Maroko, Sudan, Bahrain dan Mesir. Hal ini menjadikan muslim lemah dihadapan para penjajah sekaligus pengkhianatan terhadap anak-anak dan para wanita yang ada di Palestina.

Impian Theodor Herzl pun tercapai karena kelemahan negeri kaum muslimin ini, Yahudi sudah memiliki negara di Palestina. Sebuah negara yang akan memperluas wilayahnya. Tidak hanya itu, Naftali Bennatt juga ingin menghapus Palestina secara keseluruhan. Ia sangat menentang pembentukan negara Palestina. Bahkan saking bencinya kepada Palestina ia pernah mengatakan pada tahun 2013 “teroris Palestina seharusnya dibunuh, bukan dibebaskan” (05/06/2021).

Memang berbeda dengan visi Perdana Menteri Israel sebelumnya, Netanyahu yang mengambil alternatif “two state” sebagai solusi Palestina-Israel, ia mengakui adanya negara Palestina. Namun Naftali Bennatt tidak ingin menempuh solusi “two state”, terlihat pada pengakuan bar-barnya yang tanpa belas kasihan. Bahkan ialah sosok yang paling getol menyerukan Israel agar mencaplok wilayah Tepi Barat yang masih tersisa untuk Palestina.

Negara Adidaya Sekuler Tetap Mendukung Penjajahan Israel

Strategi yahudi sangat berkesesuaian dengan ideologi kapitalisme sekuler yang diemban negara Adidaya, Amerika. Dengan uang/kapital yahudi bisa menguasai dunia. Sejak dulu Yahudi berhasil melakukan itu, berbagai perusaan vital dalam skala global dikuasai Yahudi. Seperti Bank, media, dan perusahaan besar seperti Google berada dalam cengkraman Yahudi. Dengan uang Yahudi juga mampu memasuki ranah politik di negara Adidaya. Yahudi mulai bekerjasama dengan politisi amerika yang menjadi kandidat pejabat dan penguasa.

Seperti yang terjadi dimana-mana, sistem politik demokrasi kapitalisme akan berujung pada politik transaksi yang masing-masing akan memenangkan kepentingannya. Begitulah Yahudi, jika terdapat dukungan kepada salah satu partai atau kandidat penguasa di pemilu Amerika, ia akan menuntut kepentingannya. Dan para penguasa yang dimenangkan akan memenuhi janji-janji tersebut. Inilah yang dilakukan Donal Trump melalui kekuasannya memberikan hak istimewa kepada Israel, yakni Yerusalem sebagai ibu kota. Pengamat menilai bahwa itu dilakukan tak lain karena balas budi politik.

Janji kepada Israel sedikit demi sedikit terealisasi. Dari tidak diakui dunia menjadi diakui, dari tidak diakui parlemen menjadi diakui, dari tidak punya negara menjadi punya negara. Siapa yang membantu semua itu? Amerika! Meski Israel terkadang menjadi beban bagi negara Amerika dengan citra pengangung demokrasi terbaik dihadapan negara Timur Tengah. Karena pembelaan Amerika yang sangat istimewa kepada negara Israel ini telah mencoret pencitraan Amerika.

Namun, Yahudi memiliki sejuta cara untuk menaklukkan negara-negara muslim yang ada di Timur Tengah. Ketika Yahudi Israel diakui sebagi sebuah negara oleh PBB, dan didukung oleh Amerika yang memiliki hak veto di PBB, Israel mampu membangun hubungan diplomasi dan normalisasi dengan beberapa negara muslim di Timur Tengah, diantaranya UEA, Maroko, Sudan dan Bahrain bahkan Mesir.

Maka wajar Amerika masih meneriakkan sumpah setia kepada Israel. Ditambah lagi dua negara ini pengagung kebebasan (liberalisme). Dengan dalih persaudaraan dan kebebasan Yair Lapid Menlu Israel berada pada garda terdepan mendukung kaum elgebete (21/06/2021). Senada dengan Amerika Serikat di bawah pimpinan Joe Biden berjanji akan memimpin HAM elgebete di seluruh dunia,” (03/06/2021). Mereka memiliki kesamaan visi, maka tak heran ke dua negara ini saling menjalin hubungan baik di kancah perpolitikan. Pun keberanian Amerika mengakui Israel teman sejati menunjukkan loyalitas yang tinggi terhadap aksi penjajahan.

Hal ini terpampang jelas kemunafikan negara adidaya yang katanya polisi HAM dunia, di depan ia tampak gagah perkasa memberikan bantuan materil kepada komflik Palestina di belakang ia adalah aktor yang gigih mendukung para penjajah Israel. Maka, sampai kapan Palestina bergantung pada solusi yang dirancang oleh Amerika, PBB dengan dalil HAM nya? Bukankah mereka ini sutradara terbaik di balik penjajahan ini?

Harus disadari! Bahwa Negara Adidaya saat ini menerapkan ideologi sekulerisme. Tidak butuh pandangan agama dalam mengatur negara. Sistem ekonomi berdasarkan kapitalisme (siapa yang menggenggam uang terbanyak di dunia ialah yang menjadi penguasa dunia). Sistem politik berdasarkan demokrasi yang meletakkan hak membuat, mengubah dan menerapkan hukum adalah hak progatif manusia. Sistem sosial budaya berdasarkan liberalisme yang mengagungkan kebebasan (bebas berprilaku, beragama, berpendapat dan berkepemilikan).

Maka mustahil negara adidaya Amerika yang berideologi sekulerisme berpihak pada Islam atau membantu kaum muslimin. Mustahil Amerika mengabaikan pernyataan teman sejatinya Israel yang mengatakan keberadaan negara Palestina adalah lonceng kematian bagi negara Israel. Mustahil negara Adidaya saat ini mendatangkan solusi untuk Palestina. Mustahil bantuan materil yang dikucurkan kepada kaum muslimin Palestina adalah bantuan yang ikhlas. Mustahil Amerika memiliki sikap Netral terhadap negeri-negeri muslim dunia. Sebab yang haq akan berpihak pada yang haq dan yang batil tentu akan berpihak pada yang batil pula. Lihat (QS. Al Isra’: 81).

Mengembalikan Masalah Utama Kaum Muslimin Di Palestina

Sejak diruntuhkan Khilafah Islam pada 3 maret 1924 oleh pengkhianat berdarah Yahudi Mustafa Kemal Attaturk, kaum muslimin kehilangan negara Adidaya yang haq. Sejak itu negeri-negeri muslim terpecahbelah dan berada dibawah pengaturan sistem kufur sekulerisme. Sehingga muslim hidup terbelakang dan tidak mampu tampil sebagai negara yang berpengaruh. Kehidupan muslim terjajah dimana-mana, kelaparan, penggusuran, pengusiran, penganiayaan, pembunuhan, pemaksaan hukum-hukum kufur dalam tatanan kehidupan tak terelakkan.

Karena umat kehilangan perisai. Hingga bergantung diketiak musuh-musuh Islam, atau mendekam hidup dibawah keterancaman. Tak heran kaum muslimin kehilangan nyali untuk menentang negara Adidaya, karena Islam hanya tersisa pada individu muslim sebatas shalat saja, itu pun hampir sukses dicerai berai oleh kaum kuffar. Islam tidak lagi hidup pada aktivitas jihad di negeri-negeri muslim. Sehingga kaum muslimin palestina yang dianiaya tidak lagi memiliki pelindung, terlebih negeri-negeri muslim yang terikat erat dengan rantai nasionalisme.

Khilafah adalah pelindung umat, Negara yang mengharamkan berjabat tangan dengan para penjajah atau para pengkhianat. Negara Adidaya yang tak tunduk pada opsi kafir penjajah apalagi mengulangi gencatan senjata yang sudah jelas berkali-kali dilanggar Israel. Negara yang akan menghapus sistem kufur dan menegakkan sistem Islam di dunia. Negara yang akan mengomandoi pasukan jihad seluruh negeri kaum muslimin untuk melawan kafir penjajah. Keberadaan negara yahudi dan ketiadaan Khilafahlah yang menjadi masalah utama umat Islam.

Kenapa menjadi masalah utama kaum muslimin palestina? Karena adidaya Islam tidak ada saat ini. Padahal itulah kemenangan hakiki. Rasulullah adalah contoh tauladan yang sempurna mengenai perjuangan meraih kemenangan. Hanya saja harus diyakini kemenangan itu. Maka secara keyakinan, Al Qur’an dan As-Sunnah paling patut untuk diyakini. Negara Adidaya Islam merupakan janji Allah dalam QS. An Nur: 55, juga kabar gembira dari Rasulullah saw tentang kembalinya khilafah yang ke II sesuai manhaj kenabian. Inilah masalah utama Palestina yakni sudahkah menjemput kemenangan yang pasti itu?

Membebaskan Palestina

Bagaimana metode mengembalikan Palestina kepada pemiliknya yaitu umat Islam? Seperti yang dikatakan oleh Abdul Qadim Zallum dalam bukunya berjudul Malapetaka Runtuhnya Khilafah, hal. 232 menerangkan secara jelas terkait metode untuk menyelesaikan masalah utama yakni harus memahami karakteristik pergerakan yang dijalani dan harus memahami hakikat hukum Allah di dalam perjuangan tersebut. Jika tidak maka mereka akan menggunakan metode sendiri sehingga tidak sesuai dengan metode penyelesaian masalah utama. Namun hanya dapat menyelesaikan masalah biasa.

Seperti solusi diplomasi, donasi, normalisasi, gencatan senjata dan sejenisnya bukanlah metode menyelesaikan masalah utama. Namun hanya menyelesaikan masalah biasa. Dan derita kaum muslimin palestina masih tetap terjadi hingga kiamat jika masalah utama tidak diselesaikan. Maka, metode untuk menyelesaikan masalah utama adalah dengan dakwah pemikiran ideologi Islam untuk terwujudnya sebuah negara Adidaya di dalam Islam. Dengan begitu keinginan Fatah dan Hamas untuk bersatu akan mudah terealisasi.

Rasulullah saw dalam memenangkan Islam tidak ada tawar menawar, atau kompromi baik dengan penjajah, pengkhianat atau yang berjiwa pengecut. Bagi Rasulullah masalah kemenangan Islam adalah masalah hidup dan mati.

Dalam sebuah hadist beliau bersabda:

Wahai paman, demi Allah, apabila mereka meletakkan matahari ditangan kanan ku dan bulan ditangan kiri ku agar aku menghentikan dakwah ku, aku tidak akan menghentikannya sampai Allah memberikan kemenangan atau aku mati karenanya. Oleh karena itu, aku tidak akan menghentikannya (dakwah)“. (HR. ath-Thabari).

Jadi, masalah utama Palestina dan kaum muslimin dunia adalah masalah aqidah, keyakinan, terhadap upaya mengembalikan adida Khilafah. Wallahu a’laam bi ash shawwab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *