Mentalitas Kokoh Hadapi Pandemi

Mentalitas Kokoh Hadapi Pandemi

Hanya Allah yang memberi rahmat setiap ibu yang tetap tenang dalam zikir pada masa itu, hanya mentalitas yang kokoh yang mampu menghadapi masa sulit itu dengan tenang dan tak kehilangan rasionalitas.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Rumah Tangga)

POJOKOPINI.COM — Sepertiga malam kemarin saya berdiskusi dengan suami. Tentang pandemi yang hari ini menjadi buah bibir. Ada ketakutan, jelas rasanya setiap orang akan sanksi dengan reaksi penguasa. Pandemi tak tertolak, ini judul diskusinya.

Tapi menarik bagi saya ketika dia merespons begitu bersemangat saat saya mengisah KDRT meningkat pada masa pshysical distance dan self isolate ini. Agaknya sebulan lebih sejak masa berdiam di rumah membuat emosi cukup naik turun menghadapi berbagai efek pandemi untuk rumah tangga. Tak hanya di Indonesia, bahkan hampir seluruh dunia.

Kita harus tenang, sabar, hati-hati, tetap ikhtiar,” saya dengan cepat mencatat kalimat-kalimatnya di note hp. Dia terus melanjutkan, “Kita itu punya proyek, Mi, kita harus jaga diri kita. Berikhtiar sekuat mungkin, lalu tawakal kepada Allah.”

Memang masa krisis ini akan dialami oleh siapapun. Semuanya kena dampaknya. Jika dia lolos dari krisis kesehatan, maka dia akan terdampak krisis ekonomi. “Akan ada banyak orang miskin baru,” kata lelaki botak di depanku ini.

Minta sama Allah tapi ga ada ikhtiar itu sombong. Berusaha tapi ga minta sama Allah juga sombong,” dia melanjutkan bahwa ikhtiar dalam masa pandemi tak bisa disamakan dengan masa sebelumnya. Hari ini bahkan untuk duduk melingkar mengkaji Islam yang nikmatnya tiada tara pun kita terhalang, apalagi untuk bekerja.

KDRT yang muncul itu karena suami atau istri tak sadar peran, masing-masing terbiasa hidup dengan dunianya. Belum lagi dampak ekonomi, ini rasanya yang memperparah. Jika persoalannya tak paham peran karena individu itu memang belum mengerti, maka dia bisa dinasehati. Tapi jika dampaknya sudah sistemik maka mental harus kuat.

Dampak sistemik tak terwujudnya ketahanan ekonomi, pangan, kesehatan oleh negara akan sangat mampu untuk merubuhkan ketahanan keluarga. “Ini jelang masa-masa sulit. Yang kemarin-kemarin itu belum ada apa-apanya. Ini mentalitas, Mi,” katanya sambil menegakkan badan. Serius.

Ya, dia benar. Apapun suasananya, mentalitaslah yang memengaruhinya. Mentalitas yang melempem akan menghasilkan keluh kesah yang kontra produktif. Sedangkan mentalitas yang lahir dari akidah akan kokoh.

Saya ingat kami pernah berdiskusi jauh sebelum Covid-19 ada, tentang reses ekonomi global di depan mata. Tak mengira momennya akan secepat ini, tak ada yang mengira.

Meski begitu, dunia bergerak begitu pesat kepada takdir tak tertolak. Kesombongan Amerika dibuat bertekuk lutut oleh “musuh” tak kasat mata bernama Corona. China pun tak beda, si Raja infrastruktur ini tak bisa lagi berbangga dalam jumawa. Meski mengaku paling sigap dan punya teknologi terdepan, dia tetap hancur lebur. Kegoncangan dua adidaya itu ibarat bola salju yang bergelinding menggilas negeri-negeri di dunia.

Dua kekuatan timur dan barat itu saling tuding menampakkan kepanikan. Mereka tak membayangkan akan dikalahkan oleh makhluk Allah tak kasat mata, padahal telah sejak lama bersiap segala bentuk teknologi dan strategi militer demi tetap menjadi polisi dunia. Namun apa kuasa mereka membendung takdir? Semua manusia dibuat harus mengakui kelemahan diri dan meruntuhkan pongah. Hanya yang cerdas yang mampu melihat hikmah. Kita terbatas, lemah, dan tak kuasa. Sedangkan Allah Rabb Semesta Alam, Mahakuat dan Mahakuasa.

Dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa sistem kapitalisme gagal menyelamatkan peradaban manusia. Dunia kini perlu tatanan sistem yang baru. Dengan sistem yang baru itu, dunia akan bangkit dan bercahaya. Dia haruslah sistem yang lebih kuat, paling kuat. Dialah sistem Islam dalam Khilafah, ini bukan hanya paling kuat sehingga sangat dibutuhkan tegaknya, dia pun adalah kabar gembira bagi manusia. Pasti tegak dan merupakan takdir dunia.

Ibarat ibu yang sedang melahirkan, jelang bayi yang dinanti-nantikan itu hadir ke dunia, sakit yang dirasakan ibu seolah seluruh tubuhnya remuk sejadi-jadinya. Hanya Allah yang memberi rahmat setiap ibu yang tetap tenang dalam zikir pada masa itu, hanya mentalitas yang kokoh yang mampu menghadapi masa sulit itu dengan tenang dan tak kehilangan rasionalitas. Sampai Allah menangkan agama ini, atau kita binasa dalam memperjuangkannya. Aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *