Menunaikan Pertaubatan Ayah Bunda

Sebagai Muslim, tentu kita tidak bisa memisahkan pemikiran dan pemahaman kita dengan Islam. Termasuk dalam mendidik anak.


Oleh : Erna Hermawati S.S

POJOKOPINI.COM — Upaya menshalihkan anak berbanding lurus dengan upaya menshalihkan diri sendiri sebagai orangtua. Bahkan Ustadzah Yanti Tanjung mengawali pembahasan mengenai menunaikan pertaubatan orangtua dengan menunjukkan nasihat dari salah seorang tokoh generasi tabi’in yang bernama Hasan al-Bashri.

Dalam kitab “At-Taubah” karya Ibnu Abid Dunia, mengutip perkataan Hasan al-Bashri bahwa “kalau kamu melihat sesuatu yang kamu benci dari
anakmu, maka segeralah hubungi Tuhanmu, karena sebenarnya itu adalah teguran buatmu.”

Sebagai Muslim, tentu kita tidak bisa memisahkan pemikiran dan pemahaman kita dengan Islam. Termasuk dalam mendidik anak. Berdasarkan pendapat Hasan al-Bashri, hendaknya para orangtuanya segera bertaubat jika menemui hal yang tidak disukai dari anaknya. Secara logika, tentu ada relasi kuat karena anak pada dasarnya menjadikan orang tua sebagai role model pertama dalam hidupnya. Orangtua adalah lingkupan pertama yang mempengaruhi anak. Jika orangtuanya memberikan teladan yang buruk, maka sangat dimungkinkan anak akan meniru.

Dalam penjelasannya, ustadzah Yanti Tanjung kembali menjelaskan bahwa setiap manusia tidak luput berbuat dosa maka taubat harus selalu dilakukan setiap saat. Sebagai makhluk, kita lemah dan terbatas sehingga kita membutuhkan Allah untuk menolong kita dalam setiap hal, termasuk dalam hal mendidik anak.

Namun, menjadi hal yang berbahaya tatkala orangtuanya merasa tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal mendidik anaknya. Merasa suci, merasa hebat, sehingga akan sulit baginya untuk mengetuk pintu taubat dihadapan Allah. Dia akan mengandalkan diri sendiri dan usahanya dalam mendidik anak tanpa membutuhkan Allah. Padahal Allah SWT telah mengingatkan bahwa “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. Al Najm: 32).

Banyak hikmah taubat yang akan didapat oleh seseorang. Apalagi jika dikaitkan dengan upaya mendidik anak. Menurut ustadzah Yanti Tanjung, salah satu hikmah taubat adalah mampu menshalihkan keturunan. Oleh karena itu, hendaklah kita berdoa seperti termuat dalam alQuran surat Al-Ahqaf ayat 15: “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang Muslim.”[]

Catatan: tulisan ini adalah rangkaian catatan monitoring dari kelas bina shalihah 2 bersama ustadzah Yanti Tanjung

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *