Menyusuri Jejak Khilafah Menangani Wabah

Kebijakan-kebijakan yang dilahirkan juga senantiasa segaris dengan syariah. Sebab ia lakukan semua hanya demi meraih rida Penciptanya. Hal ini tentu akan melahirkan sikap tawakal yang seharusnya dalam menghadapi pandemi. Bersabar menerima ketetapan-Nya dan diiringi dengan ikhtiar secara maksimal. 


Oleh: Ummu Zhafira (Ibu pegiat literasi)

POJOKOPINI.COM — Pandemi atau wabah bukan hal baru dalam kancah kehidupan umat manusia. Berbagai penyakit mematikan yang melumpuhkan sendi-sendi peradaban dunia itu nyatanya pernah terjadi di masa silam, khususnya pada masa keemasan peradaban Islam. 

Hari ini, perjalanan pandemi Covid-19 menapaki tahun ke dua. Makhluk kecil tak kasat mata telah berhasil memorakporandakan kehidupan umat manusia. Dunia dibuat limbung menghadapi tsunami Corona yang tak kunjung mereda. Per Senin (19/7/2021), total infeksi Covid-19 di dunia telah mencapai 190,3 juta kasus. Pasien meninggal tercatat 4 juta, dan vaksin yang disuntik ke masyarakat baru mencapai 3,6 miliar dosis (Liputan6.com, 19/07/2021).

Lihatlah! Setiap negeri memiliki caranya sendiri dalam menangani wabah. Tak ada satu kata dalam penanganannya. Mereka tersekat-sekat oleh kepentingan dan kebijakan masing-masing. Hingga pandemi entah kapan diakhiri. Krisis yang mencekam mengakibatkan banyaknya pengangguran. Tentu hal ini membuat banyak masyarakat miskin didera kelaparan. Bahkan banyak di antaranya meregang nyawa dalam bilik-bilik ketidakberdayaan. Mengenaskan!

Menyusuri Jejak Khilafah Menangani Wabah

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab tepatnya pada bulan Rabiul awal tahun 18 H, terjadi wabah penyakit tha’un di wilayah Syam. Pada saat itu, khalifah Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam. Sampai di Saragh, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menemui beliau dan menyampaikan berita tentang wabah. Setelah berdiskusi dengan rombongan, akhirnya Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah. 

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah awalnya tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. “Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?” kata Abu Ubaidah. Khalifah Umar pun menjawab dengan tegas, “Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.” 

Ketika Umar masih berusaha meyakinkan pilihannya kepada Abu Ubaidah, datanglah Abdurrahman bin Auf. Beliau menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan Umar, persis dengan sabda Rasulullah Saw.,

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari)

Khalifah Umar kembali meyakinkan Abu Ubaidah. Namun sayangnya beliau memilih untuk tinggal dan syahid terkena wabah. Beberapa sahabat yang juga ikut syahid adalah Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Haris bin Hisyam dan sahabat yang lainnya.

Hingga akhirnya Gubernur Syam, Amr bin Ash mencoba menganalisa penyebab munculnya wabah. Kemudian melakukan isolasi dengan cara memisahkan orang yang sakit dan orang yang sehat. Dengan cara inilah wabah berangsur-angsur menghilang. Masyaallah. 

Wabah lepra atau kusta juga pernah menyerang kaum muslim di masa khalifah Al Walid bin Abdul Malik (705-715 M). Khalifah ke-6 dari Bani Umayyah yang menuruni sifat bijaksana sang ayah, yakni Abdul Malik bin Marwan berhasil dalam menghadapi serangan wabah.

Khalifah Al Walid I berusaha untuk membuat sebuah terobosan saat wabah menyerang penduduk Damaskus. Ia membangun sebuah rumah sakit (bimaristan) pada tahun 707 M di kota tersebut. Pembangunan rumah sakit didanai dari kas negera untuk membantu orang sakit dengan pengobatan gratis.

Al Nuri adalah nama yang disematkan pada rumah sakit pertama kali dalam sejarah Islam itu. Ia melarang keluar ke tempat umum orang-orang yang mengalami cacat dan kaum dhuafa. Mereka ditempatkan di panti jompo dan diurus oleh para pembantu yang telah digaji oleh sang khalifah. Masyaallah. 

Untuk mempercepat penyembuhan pasien, didatangkanlah para dokter.  Ia memerintahkan kepada para dokter tersebut agar mengisolasi pasien penderita penyakit lepra. Untuk itu dibangun ruangan khusus pasien isolasi agar penyakitnya tidak menyebar ke orang lain. Selain itu, ada uang santunan yang diberikan kepada para pasien penderita lepra untuk bisa digunakan semestinya. 

Selain itu, khalifah Al Walid I juga melarang penduduk Kota Damaskus keluar rumah. Hal ini dilakukan agar wabah penyakit itu tidak menyebar kepada penduduk lain dan menimbulkan kematian. 

Paradigma Islam Menghadapi Wabah

Islam adalah agama yang sempurna. Ia diturunkan Allah kepada umat manusia untuk menyelesaikan seluruh bentuk problematika yang dihadapi. Tak terkecuali persoalan wabah dan pandemi. Setiap penguasa di dalam sistem Islam memahami kewajibannya untuk mengurusi dan mengayomi rakyat. Sebagaimana sabda Rasullullah Saw,

 أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رعيته 

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dia pimpin.” (HR al-Bukhari).

Untuk itu ia akan melakukan segenap upaya untuk memelihara keselamatan jiwa umatnya. Karena ini adalah sebuah kewajiban yang ditetapkan di dalam syariah Islam. “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Mukmin tanpa haq.” (HR an-Nasa’i dan at-Tirmidzi).

Kebijakan-kebijakan yang dilahirkan juga senantiasa segaris dengan syariah. Sebab ia lakukan semua hanya demi meraih rida Penciptanya. Hal ini tentu akan melahirkan sikap tawakal yang seharusnya dalam menghadapi pandemi. Bersabar menerima ketetapan-Nya dan diiringi dengan ikhtiar secara maksimal. 

Mekanisme anggaran pun fleksibel dan cepat dalam penanganan wabah. Hal ini ditopang oleh kekuatan pendanaan yang dimiliki sistem Islam. Dengan dorongan akidah, semua elemen masyarakat akan saling membahu untuk memudahkan urusan umat yang ditimpa musibah. 

Patut direnungkan doa Nabiyullah Muhammad Saw kepada Allah terkait penguasa, “Barangsiapa yang diberi tanggung jawab untuk menangani urusan umatku, lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah hidupnya. Dan barangsiapa yang diberi tanggung jawab untuk mengurusi umatku, lalu ia memudahkan urusan mereka, maka mudahkanlah hidupnya.” (HR Muslim) Wallahu a’lam bishawab.[]

DISCLAIMER:Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *