Merdeka dalam Cengkeraman

Merdeka dalam Cengkeraman

Realitas negeri kita disebut merdeka sama sekali tidak mencukupi menurut bahasa, apalagi kita masyarakat Muslim yang merasakannya secara langsung. Jauh panggang dari api.


Oleh: Kristiati Supardi (Aktivis Muslimah)

POJOKOPINI.COM — Tujuh puluh lima tahun republik ini, usia yang tidak muda lagi dengan berat di pundak negeri tercinta. Kekayaan yang dimiliki tak mampu membuat negeri ini berdiri tegak memberikan pengayoman kepada segenap umat akibat cengkeraman kapitalisme kasat mata yang tak juga bisa dilepas.

Salah urus akibat mempercayakan negeri ini diurus dengan cara yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Keserakahan, kepongahan, kezaliman dominan dalam mengelola dan mengurus warganya. Semua itu terjadi akibat menggunakan asas kebebasan dalam semua aspek kehidupan.

Aspek ekonomi, betapa negara dengan bebas berhutang tanpa memikirkan nasib generasi selanjutnya. Bahkan bayi baru lahir pun terhitung punya utang. Hingga akhir Juni 2020 hutang negeri ini sudah mencapai Rp 5.264,07 triliun, belum lagi besar bunga yang harus ditanggung.

Lapangan pekerjaan yg makin sulit didapat, ditambah adanya Covid 19 makin masif PHK hingga jutaan warga tak berpenghasilan.

Dari aspek politik, demokrasi telah melahirkan penguasa-penguasa baru dari masing-masing wilayah kota/kabupaten, jika sang penguasa seorang yang baik, kebutuhan kesehatan bisalah sedikit teratasi namun kebijakan-kebijakan yang lain masih terus pada pusaran pengokohan kekuasaan apalagi menjelang pilkada akhir tahun 2020 ini.
Makin kentara persengkokolan penguasa dan pengusaha dalam menyengsarakan umat.

Lihat bagaimana RUU Omnibus Law yang ditolak masyarakat apalagi pekerja, terus dikebut untuk segera disahkan. RUU ugal-ugalan dengan dalih menyelamatkan perekonomian negara padahal sejatinya hanya menguntungkan pengusaha besar.

RUU Minerba yang sangat obral memberikan insentif kepada para penguasa, padahal mereka merampok sumber daya alam kita dan enggan memelihara lingkungan pasca operasi juga terus dikebut untuk bisa segera disahkan.

Aspek pendidikan, makin miris memikirkan nasib generasi. Kebijakan kurikulum yang memampatkan pelajaran agama Islam semakin mengokohkan pilihan negara menuju negara sekuler karena sejatinya kurikulum tersebut akan melahirkan generasi yang tidak lagi mengenal ajaran agama Islam apalagi mengamalkannya.

Apalagi di masa pandemi ini, pendidikan makin tak jelas arah yang hendak diraih yang terlihat justru bagaimana penguasa dan orang-orang di sekelilingnya memanfaatkan anggaran demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Ironis.

Bidang kesehatan, tidak kalah menyedihkan. Di masa pandemi, justru kementrian kesehatan serapan anggarannya hanya 0, 13 persen pada kuartal 1. Sementara di masyarakat banyak korban yang menjerit karena mahalnya biaya-biaya kesehatan akibat Covid 19. Besar dana penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN ) senilai Rp 695,2T ternyata sebagain besar untuk recovery ekonomi.

Aspek sosial, makin permisif dan bebas sebebas-bebasnya pergaulan sosial di tengah masyarakat. Di kalangan anak-anak remaja pun tak kalah bebasnya. Kasus perayaan kelulusan sekolah di rayakan di hotel oleh 36 siswa-siswa dengan sex party sungguh pergaulan yang tidak dapat dinalar. Juga tingginya kriminalitas hampir rata di semua wilayah negeri tentu menjadi persoalan yang harus segera dicari akar masalah dan solusi tuntasnya.

Itukah Gambaran Kemerdekaan?

Kemerdekaan menurut KBBI adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; 2. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. 

Realitas negeri kita disebut merdeka sama sekali tidak mencukupi menurut bahasa apalagi kita masyarakat Muslim yang merasakannya secara langsung.
Jauh panggang dari api.

Menurut Islam, merdeka adalah lepasnya keterbelengguan kita sebagai makhluk dalam melakukan penghambaan kepada Sang Rabb, selalu terbuka ruang yang luas setiap hamba untuk melakukan ketakwaan kepada Sang Khalik sesuai dengan syariah Allah tanpa ada tekanan ataupun hambatan.

Sebagai sebuah negara tentu kemerdekaan menggambarkan negara yang mandiri dan tidak ada ketergantungan sedikitpun terhadap negara lain dan mampu secara sungguh-sungguh mengayomi, mengurus semua hajat masyarakat, menyediakan rasa aman baik aman dari kelaparan, penyakit pun kriminalitas.

Suasana yang penuh dengan kemuliaan dan ketaatan kepada ajaran Islam akan senantiasa hidup di kalangan masyarakat yang difasilitasi negara. Tentu itu semua akan bisa terealisasi jika aturan hidup yang diterapkan adalah hukum Allah. Totalitas penerapan syariah Islam adalah solusi tuntas semua problem kenegaraan dan keumatan.

Jadi sejatinya negeri +62 apakah benar telah merdeka???[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *