Merdeka Hakiki Guru

Merdeka Hakiki Guru

Memerdekakan guru tidak boleh dimaknai sekadar kebebasan berpikir dan berinovasi dalam proses belajar mengajar, sangat dangkal dan tak menyentuh langsung akar soalan nestapa guru Indonesia. Ada persoalan ekonomi yang membelit, problem gonta ganti kurikulum, juga dekadensi moral yang berimplikasi pada minimnya penghormatan terhadap kemuliaan guru.

Oleh: Nusaibah Ummu Imarah

WWW.POJOKOPINI.COM — Hari guru kali ini muncul wacana untuk memerdekakan guru. Dalam salinan pidatonya, sebagaimana dikutip dari Tempo.co, Mentri Nadiem mengatakan tidak akan membuat janji kosong kepada para guru, tetapi akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Dari pernyataan itu, setidaknya Nadiem menyadari bahwa ada persoalan serius dalam dunia kependidikan negeri ini, sehingga perlu untuk dimerdekakan.

Memerdekakan guru tidak boleh dimaknai sekadar kebebasan berpikir dan berinovasi dalam proses belajar mengajar, sangat dangkal dan tak menyentuh langsung akar soalan nestapa guru Indonesia. Ada persoalan ekonomi yang membelit, problem gonta ganti kurikulum, juga dekadensi moral yang berimplikasi pada minimnya penghormatan terhadap kemuliaan guru.

Guru juga masih dihantui dengan gaji yang tak layak. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim sebagai dikutip CNN Indonesia, mengingatkan Nadiem tentang permasalahan gaji yang masih terlalu kecil untuk para pengajar di berbagai penjuru Indonesia. Hal ini tentu menambah beban yang mencekik para guru, membuatnya tak mungkin fokus mendidik generasi, karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.

Cita-cita memerdekakan guru dari segala yang membelitnya hari ini memang tak mudah, Nadiem punya impian yang dibenturkan sistem sekularisme. Sistem ini menjadikan kapitalisme sebagai pengatur perekonomian, sehingga harta berputar pada orang-orang tertentu saja, rakyat tak mendapat kecuali remah-remah. Termasuk para guru. Belum lagi sistem ekonomi kapitalisme meniscayakan tertutupnya akses rakyat memenuhi kebutuhan hidup, meraih kesejahteraan, melalui target-target kapitalistik yang berpihak kepada para kapitalis. Alhasil kehidupan semakin sulit dan sempit, kesehatan dikapitalisasi, bayangkan bagaimana para guru dapat bertahan. Yang terjadi justru dilematis antara gamang memenuhi kebutuhan hidup dan panggilan jiwa dalam mendidik generasi.

Belum lagi setiap ganti kepemimpinan, guru dihadapkan pada problem gonta ganti kurikulum. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang tak semua guru memahaminya, bahkan disibukkan dengan pelaporan demi pelaporan yang mengejar kesempurnaan, meski pada tatanan realisasi kadang tak semanis yang nampak.

Agaknya negeri ini masih terus mencari identitas kurikulum khas dan sakti untuk memerdekakannya dari segala persoalan yang hari ini membebani guru dan dunia pendidikan, segala upaya yang dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa tak berimbas dari sistem itu kecuali kemerosotan generasi dan dunia pendidikan yang bisa dilihat semua mata. Selayaknya yang demikian menjadi cambuk bagi semua pihak untuk mulai melirik sistem alternatif. Hal itu karena sistem sekularisme menjadikan pendidikan menginduk padanya, alhasil cita-cita pendidikan dikerdilkan secuil tujuan agar bisa kerja, padahal ini salah satu tujuan dangkal dari penyelenggaraan pendidikan yang selayaknya bervisi besar menghebatkan bangsa sekaligus memproduksi generasi kokoh yang kuat ketakwaannya. Ini mustahil dalam sistem sekuler yang memisah agama dari kehidupan, karena sistem alternatif yang teruji dan terbukti itu adalah sistem pendidikan Islam.

Inilah sistem cerdas yang mencetak generasi hebat sekaliber Ibnu Sina, Ibnu Firnas, Al Ghazali, Fatimah Al Fihri, dan semua ulama ilmuwan yang sekaligus juga merupakan peta jalan bagi generasi hari ini. Sistem pendidikan Islam menjadikan pendidikan karakter bervisi Islam mengerahkan segala riset untuk kemuliaan peradaban manusia, sehingga terbentuk generasi dengan tujuan tak secuil agar bisa kerja, namun mereka punya mindset bagaimana agar dirinya memberi manfaat besar bagi peradaban manusia.

Terkait kemerdekaan belajar, harusnya punya ruang lingkup dan gambaran yang jelas. Merdeka seperti apa? Sudahkah seluruh generasi menikmati pendidikan yang gratis berkualitas? Kemerdekaan yang dimaksud harus juga memperhatikan perlindungan terhadap generasi dari apa-apa yang hari ini membentuknya menjadi generasi yang jauh dari identitas Islam yang mulia, yaitu sistem sekularisme.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *