Moderasi Agama di Balik Terowongan Silaturahmi

Moderasi Agama di Balik Terowongan Silaturahmi

Oleh : Khansa Mubshiratun NisaAktivis Dakwah

WWW.POJOKOPINI.COM — Saat ini publik sedang ramai memperbincangkan terkait proyek baru yang disetujui langsung oleh presiden, yaitu Terowongan Silaturahmi. Terowongan tersebut dibangun di bawah tanah untuk menghubungkan dua tempat ibadah agama yang berbeda, yaitu Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Nantinya, terowongan tersebut diproyeksi bakal menjadi ikon toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. (republika.co.id)Banyak pro dan kontra mengenai proyek terowongan ini di kalangan tokoh.

Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan, masyarakat membutuhkan silaturahmi dalam bentuk infrastruktur sosial, bukan dalam bentuk infrastruktur fisik berupa terowongan. Sementara Ketua Umum Pengurus Besar NU, Said Aqil Siraj, mempertanyakan urgensi pembangunan tersebut. Menurutnya harus ada nilai yang terkandung dalam proyek ini. Entah nilai agama, budaya, atau bahkan unsur politik. Beliau menambahkan toleransi itu bisa dibangun dari kerja sama di bidang ekonomi dan teknologi.

Senada tapi tak sama, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom juga mempertanyakan urgensi membuat terowongan. Simbol-simbol yang dibangun itu tidak mengatasi beragam kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia. Kebutuhan urgen bagi bangsa ini adalah mengatasi masalah intoleransi, bukan sekadar simbol semata.Namun, berbeda dengan pernyataan Abu Hurairah, Wakil Kepala Humas Masjid Istiqlal justru mendukung ide ini. Menurutnya terowongan ini sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia. Selain masalah toleransi, terowongan akan membuat kegiatan para jemaat (Gereja Katedral) berjalan efektif. Sebelumnya, jika ingin beribadat, para jemaat parkir di depan Masjid Istiqlal. Maka, ketika terowongan ini ada, mereka tak perlu menyeberang lagi, cukup lewat terowongan. (republika.co.id).

Umat dibuat bingung dengan berbagai macam pro dan kontra yang dilontarkan oleh beberapa tokoh Islam bahkan tokoh Kristen. Sebetulnya apa maksud terselubung dari proyek pembangunan ini? Terlebih pemerintah saat ini memang sedang gencar mempromosikan moderasi agama yang sejatinya adalah liberalisasi agama. Mereka mengatasnamakan Islam moderat, yang dianggap sebagai jalan tengah antara Islam radikal dan Islam liberal. Dengan menempelkan umat pada Islam moderat, maka akan mengaburkan pemahaman umat tentang keislaman yang utuh. Oleh karena itu kita perlu mewaspadai isu ini.Selain itu, paham pluralisme pun semakin digencarkan.

Paham ini mengatakan bahwa semua agama benar karena sama-sama mengajarkan kebaikan. Tidak boleh ada yang merasa agamanya paling benar, sebab bagi masing-masing pemeluknya pasti menganggap bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang benar. Pada intinya adalah menyembah Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda cara beribadahnya.Namun, selain gencarnya pemerintah mempropagandakan Islam moderat, Islam liberal dan pluralisme, ada motif apa di balik pembangunan terowongan toleransi tersebut? Jika memang untuk memberi kenyamanan jemaat salah satu agama, mengapa mesti dibuat terowongan yang sudah tentu akan menguras keuangan negara?

Sementara saat ini masyarakat secara umum sedang tercekik permasalahan ekonomi dengan harga-harga kebutuhan hidup yang semakin mahal dan tak terjangkau. Sepertinya masalah ini tidak dianggap lebih utama daripada permasalahan toleransi beragama yang sejatinya tidak tepat dan terlalu dilebih-lebihkan.Sebagai umat Islam, kita harus berhati-hati terhadap paham-paham tersebut (Islam moderat, Islam liberal dan pluralisme). Seharusnya umat Islam jangan terkecoh lagi, sebab Allah Swt. telah berfirman:”Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam.” (TQS. Ali Imran: 19)Maka umat Islam harus yakin dengan kebenaran Islam secara totalitas, sebagai bentuk keimanan kita kepada Allah Swt.

Dengan demikian umat Islam harus berhati-hati dengan segala upaya yang mengarah kepada liberalisasi umat salah satunya berselimut terowongan silaturahmi. Jangan pernah mencampur adukkan antara yang haq dan yang batil sebagaimana firman Allah Swt.: “Janganlah kalian campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kalian mengetahuinya.” (TQS. al-Baqarah: 42)Sebab, konsep toleransi untuk membangun kerukunan beragama adalah dengan cara membiarkan pemeluk agama lain menjalankan akidah dan ibadahnya tanpa diganggu. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an Surat al-Kafirun ayat 4 yang artinya “Bagimu agamamu bagiku agamaku.” Bukan dengan melebih-lebihkan konsep toleransi dengan membangun terowongan yang menghubungkan antara masjid dengan gereja.

Ini jelas keliru dan membuat umat semakin bingung terhadap kebijakan pemerintah yang sebenarnya kemana arah dan tujuan dari proyek ini.Dengan demikian umat Islam harus berhati-hati atas segala upaya yang mengarah kepada liberalisasi umat salah satunya berkedok terowongan silaturahmi. Kita sebagai umat muslim harus betul-betul membentengi diri kita agar tak terbawa isu-isu yang digencarkan oleh pemerintah saat ini. Sebab dikhawatirkan akan ada kebijakan selanjutnya yang lebih berbahaya. Terlebih, hal tersebut dikhawatirkan akan semakin menjauhkan umat dari Islam Kafah.Wallahu a’lam bish shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *