Muhammad Al Fatih: Inspirasi Generasi menuju Bangkitnya Kegemilangan Islam

Muhammad Al Fatih: Inspirasi Generasi menuju Bangkitnya Kegemilangan Islam

Tentu dengan menanamkan karakter di diri setiap Muslim dan dengan meyakininya, maka tidak diragukan masa depan Islam berada di tangan generasi muda Muslim yang akan menjadi leader di tengah masyarakat yang dibangun berlandaskan aqidah Islam yang kokoh. Bukan generasi yang diharapkan dalam sistem kapitalis sekuler seperti sekarang ini. Generasi yang diibaratkan ‘stroberi’ buah yang imut, manis, lucu, menggemaskan, menarik, tapi rasanya kecut, kasar dan rapuh.

Oleh: Yulia Hastuti, SE, M.Si

POJOKOPINI.COMRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menggali parit pada Perang Khandak bersabda melalu lisannya, “Sesungguhnya Kota Konstantinopel pasti akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanbal).

Hadist ini merupakan bisyarah atau kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kaum muslimin. Saat itu terdapat dua pilar peradaban Barat yang sedang berkuasa yaitu: Kota Roma (Romawi Barat) dan Kota Konstantinopel (Romawi Timur). Sejak masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan pasukan kaum muslimin berupaya memperluas kekuasaannya ke Konstantinopel. Pasukannya berupaya menaklukkan kota itu pada 669 M walaupun upayanya gagal.

Hingga akhirnya 800 tahun setelah bisyarah Rasulullah pada 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan 29 Mei 1453 M Kota Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Utsmani. Di bawah pimpinan Sultan Mehmed II yang dikenal dengan sebutan Al Fatih (Sang Penakluk) telah berhasil menguasai kota yang paling tak tertembus kala itu.

Ia merupakan putra Sultan Murad II dari seorang selir, Hüma Hatun. Nama Mehmed diberikan sang ayah sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan di Edirne, ibukota Turki Ottoman pada 30 Maret 1432 M.

Al Fatih menjadi jawaban atas bisyarah Rasulullah. Kala itu Al Fatih yang berusia 21 tahun telah mendorong para tentaranya untuk berusaha keras menaklukkan Konstantinopel. Berbagai metode dan strategi dilakukan meskipun tak jarang menemui kegagalan.

Hingga akhirnya setelah melalui 50 hari ia sukses memasuki wilayah Konstantinopel bersama 4 juta tentara dengan membawa 70 kapal mereka melalui daratan perbukitan Galata, untuk memasuki titik terlemah Konstantinopel yaitu Selat Golden Hour. Alhasil Al Fatih membawa kemenangan dengan menaklukkan Konstantinopel. Ia memimpin dan melindungi seluruh rakyat baik muslim maupun non-muslim saat itu.

Kesuksesan Muhammad Al Fatih tidak mungkin terwujud dalam sekejap. Berkat hasil didikan orang tua dan guru yang hebat dan di tengah sistem kehidupan yang hebat pula maka menghasilkan sosok pemuda cerdas luar biasa, visioner, amanah dan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Sehingga kelak menghasilkan seorang pemimpin yang baik dan tangguh.

Dari ajaran dan pemikiran Syekh Ahmad ibn Ismail al Kurani, seorang ulama yang sangat faham Al Qur’an, tak heran Muhammad Al Fatih kecil sudah menghafalkan Al Qur’an 30 Juz, mempelajari hadits-hadits, ilmu fiqih, matematika, ilmu falaq dan strategi perang. Ia disiapkan sejak kecil menjadi pemimpin dalam bimbingan para ulama.

Sebelum wafat, Muhammad Al Fatih mewasiatkan kepada keluarganya, khususnya Sultan Bayazid II agar dekat dengan ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan menjaga agama untuk pribadi, masyarakat, serta kerajaan.

Meneladani kisah-kisah heroik dalam sejarah Islam, dapat menjadikan cermin untuk generasi Islam kini dalam perihal ibadah, pembentukan pribadi berkarakter dengan iman yang kuat, pemimpin yang berjiwa tangguh dan berintegritas. Tak luput dari sosok tauladan terbaik dalam hidup kita yaitu Rasulullah telah membuktikan dengan kecerdasan beliau mampu memimpin Mekkah dan Madinah, memimpin perang, membangun ekonomi dan membangun sosial kemasyarakatan yang madani.

Islam telah menorehkan tinta emas dalam sejarah dan keilmuan. Sejarah di era kegemilangan Islam telah menyadari kita bahwa Islam pernah berjaya dan menguasai dunia dibawah sebuah institusi khilafah. Kejayaan Islam di masa lalu bukanlah ilusi. Walaupun musuh Islam terus saja menutupi kenyataan bahwa pernah berjayanya peradaban manusia masa itu. Ketakutan terhadap sejarah Islam, menandakan kebencian musuh dalam upaya mengembalikan Islam yang diterapkan dalam sebuah institusi negara.

Tentu dengan menanamkan karakter di diri setiap Muslim dan dengan meyakininya, maka tidak diragukan masa depan Islam berada di tangan generasi muda Muslim yang akan menjadi leader di tengah masyarakat yang dibangun berlandaskan aqidah Islam yang kokoh. Bukan generasi yang diharapkan dalam sistem kapitalis sekuler seperti sekarang ini. Generasi yang diibaratkan ‘stroberi’ buah yang imut, manis, lucu, menggemaskan, menarik, tapi rasanya kecut, kasar dan rapuh.

Tidak heran sistem rusak akan menghasilkan generasi yang rusak pula. Generasi yang seolah terlihat cerdas namun memiliki kepribadian yang rapuh. Sedikit dihadapi dengan masalah menjadi generasi mudah stress, ngamuk, putus asa bahkan bisa bunuh diri. Dalam sistem rusak tidak akan pernah memberikan solusi yang tuntas. Maka hanya berada di bawah naungan Islam yang akan menghasilkan generasi tangguh dan berkualitas layaknya sosok heroik di era kegemilangan Islam.

Saatnya kini kita menyongsong generasi kebangkitan Islam. Generasi yang layak mendapatkan kemenangan dari Allah, yang pasti hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman dengan menegakkan tauhid, meng-esakan Allah dan siap menumpas segala macam bentuk penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *