Muhasabah, Jangan Marah!

Muhasabah, Jangan Marah!

Seharusnya kita campakkan kapitalisme yang tak mampu urusi dunia. Andalannya hanya pajak dan riba yang mencekik kita. Keharaman memang nyata memelaratkan manusia.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COMAstaghfirullah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Demikian bibir ini berujar pilu. CNBC Indonesia (10/04/2020) menyebut Corona biadab karena menyebabkan 16,7 juta orang di AS kena PHK dalam 3 minggu. Aroma kemarahan dan keputusasaan menyeruak pada makhluk kecil berukuran nano meter itu.

Memang kita dan seluruh dunia terdampak Corona. Tapi semuanya di luar kuasa. Segala sesuatu yang tidak dalam kendali manusia, maka itu adalah kehendak Penguasa Alam Semesta. Orang bilang takdir namanya.

Begitu misterius kehadirannya. Siapakah penciptanya? Tuding menuding tak jua mengungkapnya. Maka pastilah Corona ciptaan Yang Maha Sempurna. Kun fayakun jadilah dia. Makhluk Allah yang ditugaskan ke dunia. Membawa misi kebaikan untuk manusia. Meski terlihat sebagai musibah dalam realitanya.

Tak layak kita mengutuk ciptaanNya. Paling utama sekarang adalah kita sejenak merenungkannya. Apa kira-kira yang diinginkan oleh Sang Pencipta? Mengapa memberikan musibah yang sebegini rupa? Barangkali manusia sudah terlalu banyak yang durhaka. Sehingga Allah ingin kita kembali ke jalanNya.

Mari kita lihat dunia. Begitu jumawa dikelola dengan aturan akal semata. Bersama hawa nafsu yang kental terasa. Tanpa melibatkan tuntunan dari Pemilik Jagad Raya. Kita mengabaikan Al Quran dan As Sunnah yang mulia. Padahal ini petunjuk yang dibawa oleh utusanNya.

Seharusnya kita campakkan kapitalisme yang tak mampu urusi dunia. Andalannya hanya pajak dan riba yang mencekik kita. Keharaman memang nyata memelaratkan manusia. Maka kembali kepada tata kelola dunia yang pernah berjaya adalah solusinya. Tatanan yang bersumber dari Rasul yang mulia. Tentunya telah dibimbing oleh wahyu dari Pencipta.

Khilafah namanya, sistem pemerintahan yang mendunia. Sukses menjaga dua belas abad lamanya. Kini fajar kehadirannya sudah di depan mata. Dalam era yang insya Allah menyerupai masa Khulafaur Rasyidin yang ternama. Keberkahan pun ‘kan tercurah kembali untuk kita. Menjelang akhir dunia yang ‘kan tinggal cerita. Menuju akhirat yang pasti nyata.

Semoga keberkahan senantiasa tercurah bagi Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian pula kita yang senantiasa meneladani beliau hingga akhir masa. Harap kemuliaan ditunggu Rasulullah kelak di telaga. Bersama menuju keridhaanNya memasuki Jannatul Firdaus yang mulia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *