Musibah Belajar Daring

Musibah Belajar Daring

LH mengaku saat itu ia sedang mengajarkan anaknya belajar. Namun, sang anak membuatnya kesal karena susah diajari saat belajar online. Tidak sabar mengajari korban yang berusia 8 tahun atau duduk di bangku kelas 1 SD. LH melakukan serangkaian tindak kekerasan, seperti mencubit, serta memukul dengan tangan kosong dan menggunakan sapu.


Oleh: Riana Magasing M.Pd (Institut Kajian Politik dan Perempuan)

POJOKOPINI.COM — Di tengah situasi pandemi covid19 ini, semua proses belajar siswa dilakukan secara online. Berdasarkan surat edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid 19, tanggal 24 Maret 2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan surat edaran yang menjelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran jarak jauh melalui daring.

Dalam pembelajaran jarak jauh ini peran orangtua dalam pembelajaran tersebut sangat menentukan keberhasilan anak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua untuk membimbing anaknya dalam situasi seperti ini. Tentu tidak mudah bagi sebagian orang tua, terlebih bagi orang tua yang memiliki rutinitas pekerjaan lain, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita karir.

Berbagai keluhan datang dari orangtua siswa, mulai dari anak-anak yang tidak mau belajar, sulitnya orang tua dalam mengatur waktu, banyaknya tugas yang diberikan, atau bahkan target yang menumpuk dan membuat sebagian orang tua akhirnya stres dengan kondisi ini.

Seperti peristiwa yang terjadi pada 26 Agustus 2020 di kecamatan larangan, Kota Tangerang. Seorang ibu mengaku saat ia sedang mengajarkan anaknya belajar. Namun, sang anak membuatnya kesal karena susah diajari saat belajar online. sehingga membuat pasangan suami istri kesal dan gelap mata, sehingga tega membunuh anak kandung mereka.

Dimuat dalam laman Kompas.com Senin (14/9) Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma di Mapolres Lebak, Rangkasbitung, mengungkap alasan mereka membunuh anak kandungnya. LH mengaku saat itu ia sedang mengajarkan anaknya belajar. Namun, sang anak membuatnya kesal karena susah diajari saat belajar online. Tidak sabar mengajari korban yang berusia 8 tahun atau duduk di bangku kelas 1 SD. LH melakukan serangkaian tindak kekerasan, seperti mencubit, serta memukul dengan tangan kosong dan menggunakan sapu.

Dicubit di bagian paha, selanjutnya dipukul dengan tangan kosong di bagian paha. Lalu si anak juga dipukul dengan gagang sapu dari kayu sebanyak lima kali di bagian kaki, paha, betis, dan tangan,” ujar dia. Ketika korban sudah tersungkur lemas, LH tidak berhenti melakukan kekerasan, ia bahkan memukul kepala bagian belakang anaknya tiga kali dengan sapu. Karena kondisi sudah lemah, akhirnya korban meninggal di perjalanan. Dan korban dikubur dengan pakaian lengkap di TPU Gunung Kendeng Lebak. Keberadaan jenazah korban tersebut baru diketahui 12 September 2020 oleh warga setempat.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Berbagai macam alasan yang membuat orangtua tega melakukan hal tersebut diatas. Salah satunya adalah beban hidup yang menumpuk membuat para orang tua menjadi stress.

Seperti yang penulis kutip dalam Suara.com Kamis, (9/4) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat perempuan dan anak rentan mengalami kekerasan akibat dari dampak yang timbul selama pandemi Covid-19. Salah satu penyebabnya ialah pembatasan aktivitas sehingga membuat perempuan berada di rumah dengan segala macam risiko, terutama terpuruknya kondisi ekonomi rumah tangga. Hal itupun memicu tingkat stres yang tinggi terhadap perempuan.

Gagapnya penguasa dalam menghadapi pandemi Covid-19 secara nyata menunjukkan dampak kekerasan terhadap anak dengan segala bentuknya akan terus terjadi. Apalagi dilakukan oleh orang terdekatnya, yang seharusnya melindungi bukan sebaliknya. ini jelas menunjukkan tanda masyarakat yang sakit.

Kondisi ini terjadi dikarenakan diterapkan sistem sekularisme-kapitalisme yang menyebabkan orangtua tidak memiliki keyakinan akan kehidupan akhirat, sehingga mudah stres dan mengeyampingkan tugas utamanya mendidik dan melindungi anak-anaknya. Serta melestarikan keturunan sehingga terbentuk generasi yang beriman dan bertakwa dimasa depan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat kelak.

Dalam sistem Islam mengharuskan setiap manusia terikat kepada hukum syara’ sepanjang hidupnya di dunia. Islam juga menjamin keamanan bagi perempuan dan anak dari berbagai kekerasan karena kekerasan adalah kemaksiatan yang ada sanksinya dunia maupun akhirat. Maka, kembali pada aturan Allah sajalah yang bakal menyelesaikan semua problem keluarga dan manusia secara umum, dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam Bishawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *