Musibah dan Muhasabah Bukan Sekedar Masalah Teknis

Musibah dan Muhasabah
Bukan Sekedar Masalah Teknis

Hujan dan longsor di Provinsi Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejauh ini menyebabkan 60 orang meninggal dunia. Menurut keterangan BNPB, korban jiwa di Jakarta dan Bogor masing-masing 16 orang, Kota Bekasi dan Lebak masing-masing sembilan orang, dan sisanya di Kota Bogor, Kota Depok, Tangerang, Tangerang Selatan dan Bekasi.

Oleh : GhinaBidan Swasta

WWW.POJOKOPINI.COM — Awal tahun 2020 kali ini disambut dengan musibah banjir yang merendam kawasan Jakarta dan sekitarnya. Memang, hingga hari ini banjir kian surut, tapi sayangnya masih ada sejumlah wilayah di Jabodetabek dan Banten yang terendam banjir. Sejumlah warga juga terpaksa harus mengungsi, meninggalkan rumah dan harta benda karena banjir tak jua surut.

Berdasarkan data BNPB, Sabtu (4/1/2020), hingga pukul 10.00 WIB, ada 11 wilayah di Jakarta hingga Lebak yang masih terendam air dengan ketinggian berbeda. Ketinggian air yang masih merendam wilayah-wilayah tersebut memang sudah menurun jika dibanding pada hari pertama banjir. (Detik.com)

Tidak hanya menelan rumah dan harta benda, banjir pun memakan korban jiwa. Jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor yang melanda Jakarta, Banten dan Jawa Barat bertambah menjadi 60 orang, dua orang masih dinyatakan hilang, kata Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pada Minggu (05/01) pagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini, yang ditindaklanjuti oleh BNPB dengan mengeluarkan imbauan, khususnya bagi warga di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya. (Bbc.com)

Hujan dan longsor di Provinsi Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejauh ini menyebabkan 60 orang meninggal dunia. Menurut keterangan BNPB, korban jiwa di Jakarta dan Bogor masing-masing 16 orang, Kota Bekasi dan Lebak masing-masing sembilan orang, dan sisanya di Kota Bogor, Kota Depok, Tangerang, Tangerang Selatan dan Bekasi. (Detik.com)

Ada hikmah di balik musibah. Pepatah ini sangat umum dan menjadi salah satu kalimat “penenang” saat seorang muslim ditimpa suatu musibah dan ujian hidup, bahwasanya semua tidak terlepas dari qada dan ketentuan-Nya. Dengan sikap sabar dan rida serta penuh keyakinan bahwa musibah yang datang akan menghadirkan banyak hikmah juga kebaikan. Di antaranya:

Pertama, musibah bisa menghapus dosa. Inilah yang disabdakan oleh Rasul saw.

“Tidaklah seorang mukmin tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengan itu Allah meninggikan dia satu derajat atau Allah menghapuskan dari dirinya satu dosa.
(HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Kedua, melalui bencana, Allah Swt. ingin menunjukkan kekuasaan-Nya kepada manusia. Allah Swt. juga mengingatkan bahwa manusia itu lemah, akalnya terbatas dan membutuhkan bantuan-Nya. Allah Swt. juga mendatangkan musibah untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran spiritualitas manusia akan azab, sebagaimana Allah Swt. berfirman:

“Apakah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian. Lalu dengan itu tiba-tiba bumi berguncang? Ataukah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil lalu kelak kalian akan tahu bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”(TQS al-Mulk [67]: 16-17)

Selain untuk menunjukkan kekuasaan-Nya bahwa Dia yang menurunkan hujan dan memberikan kekuatan pada air untuk mengalir dan menggenangi dataran rendah, banjir adalah cara Allah memberi peringatan bahwa ada kemunkaran yang dilakukan manusia hingga menyebabkan banjir akibat melawan sunnatullah yang ada di alam semesta, termasuk kebatilan dalam pengelolaan tata ruang daerah.

Karena Jakarta, juga kota-kota lain di Indonesia, ditata dengan spirit kapitalisme. Semangat mengeruk keuntungan dan kekayaan, lalu mengabaikan hajat hidup publik seperti ruang hijau, kawasan resapan air, dan sebagainya. Bahkan atas nama aneka pajak dan devisa, kepemilikan umum seperti hutan, situ/danau, pantai semua “dibabat”. Itulah konsekuensi kapitalisme sebagai sistem ekonomi.

Apa daya, seringnya perencanaan untuk membuat kawasan resapan air dan ruang hijau dikalahkan oleh kepentingan antara pengusaha dan penguasa. Pada tahun 1970-an menurut masterplan Kota Depok disiapkan ratusan hektar tanah untuk waduk agar curah hujan bisa ditampung di situ. Nyatanya kini lahan itu pun jadi perumahan mewah. Padahal, banyak kawasan hijau seperti hutan kota, pesawahan dan hutan mangrove di Jakarta diserobot para pengembang kelas kakap dan para konglomerat.

Sebut saja kawasan Jabodetabek, hanya dalam waktu lima tahun sebanyak 56 situ telah beralih fungsi menjadi perumahan atau kawasan bisnis. Yang tersisa pun mengalami pendangkalan dan kerusakan parah karena diabaikan oleh Pemda (Pemerintah daerah). Sedangkan luas total situ di Jabodatabek berkurang drastis yaitu 2.337,10 hektar untuk total 240 situ, sekarang menjadi hanya 1.462,78 hektar untuk 184 situ.

Padahal dengan potensi 42 danau, 13 sungai, kanal barat dan timur, serta curah hujan yang cukup besar hingga kapasitas 2 miliar kubik per tahun, seharusnya penduduk Jakarta bisa memiliki air tanah dan air bersih yang melimpah.

Banyak kawasan resapan air di Jakarta telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan elit dan pusat-pusat bisnis. Beberapa perumahan mewah dan sentra bisnis telah merebut daerah resapan air bahkan pesawahan. Sementara itu ada lebih dari 3.000 hektar (ha) kawasan yang awalnya berfungsi sebagai tangkapan air dan hutan kota, kini beralih fungsi menjadi bangunan. (RMOL.com)

Tata kota diserahkan pada mekanisme pasar ala kapitalisme yang praktis mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Pengelolaan kota hanya mengandalkan visi jangka pendek lima tahun sesuai dengan mekanisme demokrasi. Imbasnya, negara dibentuk seperti perusahaan yang harus profit-oriented. Untuk bisa menghasilkan profit sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, kapitalisme mengabaikan satu fundamental alam, yakni keberlanjutan lingkungan.

Upaya penanggulangan banjir Jakarta dan daerah lainnya tidaklah harus selalu mengandalkan teknis semata, tapi juga sistemis yakni terkait ideologi yang diterapkan. Sebab, sistemlah yang memiliki peran-peran besar terkait kerusakan di darat dan lautan. Sehingga, usaha mengatasi banjir secara teknis tidaklah mencukupi, karena masalahnya ada pada ideologi yang diterapkan negara, yakni kapitalisme.

Berbeda sangat jauh dengan kapitalisme, Islam justru menjamin pembangunan harus selalu menjaga keseimbangan lingkungan. Ekonomi Islam tidak terpusat dan berorientasi pada pertumbuhan, melainkan berorientasi pada distribusi. Sehingga, aktivitas ekonomi akan merata di seluruh penjuru negeri, yang berimbas pada menurunnya kepadatan kota.

Maka program penanggulangan banjir seperti apapun, termasuk rencana pembangunan deep tunnel tidak akan menyelesaikan masalah. Karena persoalan besarnya bukanlah pada tata ruang wilayah, akan tetapi terletak pada ideologi yang dianut oleh seluruh penguasa negeri ini di daerah maupun pusat.

Hujan semestinya menjadi berkah. Namun, bila pembangunan minus spirit riayah, diganti dengan jiwa serakah, maka berkah berubah menjadi musibah. Para pengusaha dan penguasa mungkin bergembira ketika keuntungan dan devisa berlimpah, tapi di ujung kegembiraan itu bencana siap menanti dan menyasar semua pihak. Makhluk hidup dan juga alam sekitarnya. Sebagaimana peringatan Allah Swt dalam firman-Nya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Al-Rûm [30]: 41).

Sebagai hamba Allah, sudah seharusnya kita tetap waspada dan menjadikan musibah ini sebagai bahan muhasabah: sudahkah perilaku dan pengaturan seluruh aspek kehidupan–baik pergaulan, ekonomi, bahkan pemerintah–selaras dengan tuntunan Sang Pencipta Alam Semesta?

Muhasabah tentu sangat penting. Dengan itu, setiap muslim bisa mengukur sejauh mana ketaatannya pada perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya, serta setiap saat terdorong untuk terus berupaya untuk selalu taat kepada Allah Swt. serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya.

Luar biasanya, Allah telah menyebutkan ibrah di balik peringatan berupa kerusakan di daratan dan lautan yang dirasakan manusia, yakni agar manusia kembali kepada jalan-Nya. Itu semua semakin mendorong kita untuk kembali kepada Islam sebagai ideologi kehidupan, dan hidup dalam naungan sistem Islam, khilafah yang menjadi institusi penegak syari’at Islam kaffah, Wallahu a’lam bi ash showwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *