Muslim Dibantai, Perlu Sebuah Perisai

Muslim Dibantai, Perlu Sebuah Perisai

Kejadian yang menimpa saudara kita (muslim Uighur) adalah salah satu deretan dari berbagai kejadian yang telah menimpa kaum Muslim. Pada tahun 2018, mereka juga diperlakukan tidak manusiawi oleh pemerintah China.

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt ( Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga. Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel )

WWW.POJOKOPINI.COM — Ibarat satu tubuh, jika ada salah satu anggota badan yang terluka maka yang lain ikut merasakannya. Itulah perumpamaan yang sering kita dengar kala musibah telah menghampiri kaum muslim. Namun kini, akankah perumpamaan itu kembali bisa tercipta dengan baik? Akankah satu tubuh kembali akan menyeruak ke permukaan? Karena sejatinya perlakuan-perlakuan yang diterima oleh saudara kita dibelahan bumi yang lain selalu membuat kita sedih, miris dan geram.

Tertindas, terluka dan tersiksa, mungkin rentetan kata itulah yang menggambarkan rona wajah dari kaum muslim sekarang. Belum lama luka ini sembuh, kini ia menganga begitu nyata dan kian dalam. Belum sembuh duka dan pilu ini di tahun semalam, kini peristiwa itu kembali terjadi. Penyiksaan demi penyiksaan terus saja dilakukan oleh pemerintah tanpa belas kasih. Bahkan terhadap para wanitapun perlakuan mereka begitu keji. Mereka disiksa layaknya orang yang melakukan tindak kriminal yang begitu besar. Belum lagi perlakuan asusila yang ditujukan kepada mereka begitu membabi buta. Innalillahi, sungguh hati ini tersayat-sayat melihat kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah China.

Kejadian yang menimpa saudara kita (muslim Uighur) adalah salah satu deretan dari berbagai kejadian yang telah menimpa kaum Muslim. Pada tahun 2018, mereka juga diperlakukan tidak manusiawi oleh pemerintah China. Penyiksaan demi penyiksaan terus saja mereka terima dan hadapi. Tentunya semua itu tidak terlepas karena keistiqomahan mereka dalam menjaga agama Islam. Belum lagi kejadian yang menimpa kaum muslim lainnya. Ghouta pun menangis namun tak ada satu negara-pun yang turut andil perihal membantu mereka. Sebelum itu saudara kita Rohingya pun merintih dan meminta pertolongan. Namun yang terjadi dunia tetap diam membisu tak ada suara atau tindakan yang segera dilakukan oleh para penguasa kaum muslim. Duniapun seolah diam seribu bahasa, tak mampu berbuat apa-apa. Kalaupun bersuara paling hanya mengecam atau melakukan persetujuan kepada kedua belah pihak. Sungguh, bukan itu yang diminta oleh saudara-saudara kita di Xinjiang, China.

Lantas, kemana para penggiat HAM itu? Nyaris hilang ditelah bumi. Ketika kaum Muslim yang menjadi korban maka suara mereka tidak ada. Tak ada secuil perasaan kemanusiaan dalam diri mereka? Setidaknya karena sesama manusia.

Pandangan Islam

Islam adalah agama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. lewat perantara malaikat Jibril. Sempurna dan paripurna, itulah adanya. Tak hanya mengatur masalah ibadah manusia dengan Rabb-nya saja, namun lebih lengkap dari itu. Islam mengatur hal lainnya yaitu hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan dirinya sendiri. Semua itu ada aturan dan tata caranya secara jelas terpampang dalam Al qur’an dan Hadist Nabi Saw.

Terkait dengan kasus di atas maka Al qur’an dan hadist telah jelas menerangkan. Hal tersebut tercantum dalam beberapa surat. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 32 dan An-Nisa ayat 93.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah: 32).

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa: 93)

Kemudian Sabda Rasulullah Saw., “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.”

Subhanallah, begitu mulia dan berharganya nyawa seorang muslim. Sampai-sampai Allah Swt. sendiri berkata akan memberikan azab yang sangat pedih manakala ada orang dengan sengaja membunuh seorang muslim. Bahkan tertuang dalam hadist Nabi yang mengatakan bahwa hancurnya dunia ini lebih ringan dari pada terbunuhnya seorang muslim. Begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap nyawa seorang muslim.

Akar Masalah dan Penyelesaian

Rentetan kejadian tersebut terjadi karena Islam tudak diteralkan dalam kehidupan. Penjagaan terhadap harta, kehormatan dan jiwa nyaris hilang bagai tertiup angin. Liberalisme serta sekulerisme yang akhirnya menjadi dalih mereka untuk melakukan aktivitas tadi. Atas nama negara yang ingjn membasmi terorisme dan ekstrimisme menjadi sebuah cara jitu yang akhirnya dilakukan. Sungguh di luar nalar kita. Begitu kejinya perlakuan yang mereka lakukan terhadap saudara kita muslim Uighur.

Rentetan kejadian demi kejadian yang menimpa pada kaum muslim di berbagai belahan dunia ini akan makin menyadarkan kita bahawa umat butuh seorang pemimpin yang mampu melindunginya yaitu khalifah. Tak hanya itu, umat juga perlu sebuah institusi atau negara yang mampu membela, melindungi serta menjaga mereka dari berbagai tipu daya kaum kafir.

Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).

Adapun dengan pemimpin (Khalifah), sebagaimana dalam hadist Nabi di atas menyebutkan bahwa dia adalah sebagai perisai (junnah). Umat berperang di belakang serta berlindung dengannya. Khalifah adalah pelindung umat dari segala bahaya yang akan menimpa pada harta, jiwa, akal, kehormatan serta agamanya. Sehingga tidak akan mungkin pembunuhan merajalela dan dibiarkan begitu saja.

Sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang, membunuh, menyiksa menjadi hal yang biasa terjadi dan menimpa kepada kaum Muslim. Hal tersebut bahkan dibiarkan oleh para pemimpin Muslim. Menjadi fenomena yang biasa terjadi. Lantas masihkah kita berdiam diri serta membiarkan hal itu terjadi? Dan apakah kita tetap membisu dengan kejadian seperti ini?

Sosok pemimpin yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. adalah yang patut ditiru dan dilaksanakan. Melindungi, menjaga serta meriayah rakyat menjadi kewajibannya yang harus ia lakukan. Karena kelak di Yaumil Akhir akan dimintai pertanggungjawabannya. Semua itu dapat terwujud jika manusia mau menerapkan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh). Tentu dengan adanya bingkai atau institusi yang mau menerapkan syariah tersebut secara sempurna. Akhir kata, marilah melangkah bersama, satukan tujuan (berjuang bersama) untuk mewujudkannya agar kehormatan dan nyawa kaum muslim dapat terjaga. Agar kejadian genosida tidak akan pernah terulang kembali. Wallahu A’lam. [ ]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *