Negara Berdaulat akan Terwujud dengan Syari’at

Negara Berdaulat akan Terwujud dengan Syari’at

Hal ini menunjukan betapa lemahnya kedaulatan negara karena terkukung konvensi yang dibuat oleh kaum penjajah sendiri. Betapa tidak, konvensi UNCLOS tak ubahnya seperti madu berbalut racun. Namun penguasa tak berdaya apa-apa, mereka seperti boneka yang mudah dimainkan sesuai kebutuhan.


Oleh: Mariyani Dwi A. (Anggota Komunitas Setajam Pena)

POJOKOPINI.COM — Konflik membara antara Amerika Serikat (AS) dan China yang merajai dunia berita pekan ini, tak sedikit menyita perhatian publik. Konflik yang terjadi akibat perebutan atau sengketa batas Laut China Selatan (LCS) tersebut, bermula dari perdebatan sengit antara Duta Besar China dan Perwakilan Tinggi Australia yang mendukung Amerika. Ketika itu Australia membela Amerika Serikat yang baru baru ini menolak klaim sepihak China atas 90 persen wilayah Laut China Selatan.

Dikutip dari CNNIndonesia, Perwakilan Tinggi Australia di India Barry O’farrell mengatakan negerinya “sangat prihatin” terkait perilaku Beijing yang agresif di Laut China Selatan. O’farrell menganggap perilaku China di perairan tersebut bisa merusak stabilitas dan memicu eskalasi ketegangan di kawasan.
Dalam akun Twitter pribadinya O’farrell menuliskan, “Terima kasih @ china- Amb-India, saya berharap anda menghargai keputusan Arbitrese Laut China Selatan pada 2016 yang bersifat final dan mengikat secara hukum internasional.”

Pernyataan yang dilontarkan Perwakilan Tinggi Australia tersebut tentu mendapat respon negatif bahkan ancaman yang keras dari China. Namun demikian Amerika serikat yang didukung Jepang dan Australia akan tetap mati matian untuk mencegah penguasaan secara sepihak tersebut.

Begitu pula yang dikutip dari VIVA.co.id, Laut China Selatan bisa jadi medan pertempuran mahadahsyat antara China dan Amerika Serikat, jika kedua belah pihak yang terlibat perseteruan tak sama sama menahan diri.
Jika Washington meluncurkan provokasi militer untuk menantang garis bawah keamanan dan kedaulatan nasional China, China akan segera melakukan pembalasan yang efektif dan efektif,” bunyi pernyataan Global Times, salah satu media China.

Namun sayang seribu sayang salah satu negara ASEAN, yakni Filiphina terang terangan menyerah jika harus perang melawan China untuk memperebutkan batas lautnya yang masuk dalam klaim Beijing. Begitupun tak kalah mirisnya dengan Indonesia. Sebagai negeri muslim terbesar, Indonesia semestinya aktif memobilisir kekuatan negara kawasan ASEAN untuk menentang AS- China yang melakukan pelanggaran kedaulatan lautnya. Bukan malah bersikap “netral” seperti yang diungkapkan Menteri Luar Negeri Lestari Priansari Marsudi, yang tetap menghormati konvensi hukum laut internasonal (UNCLOS) sebagai panduan dalam sengketa tersebut.

Sejatinya, hal ini menunjukan betapa lemahnya kedaulatan negara karena terkukung konvensi yang dibuat oleh kaum penjajah sendiri. Betapa tidak, konvensi UNCLOS tak ubahnya seperti madu berbalut racun. Namun penguasa tak berdaya apa-apa, mereka seperti boneka yang mudah dimainkan sesuai kebutuhan.

Begitulah apabila suatu negara dalam pengelolaannya selalu tergantung dan melibatkan campur tangan dari pihak luar. Sampai kapanpun negara tidak akan pernah memiliki kedaulatan yang kuat lagi kokoh. Alhasil negara hanya mampu menjadi pengekor alias “manut” dengan kebijakan tuannya.

Lain halnya apabila suatu negara dalam pengelolaannya selalu mandiri dengan kepatuhan dan ketaatnya mengikuti petunjuk sang pemilik negara juga alam semesta, yaitu Allah SWT. Cukuplah tuntunan syari’at Allah Sang Pencipta alam menjadi rujukan dan sumber hukum dalam mengelola negara. Yaitu dengan menerapkan syari’at Allah secara kaffah dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam Islam, menjaga perbatasan adalah suata keharusan atau kewajiban agar tidak di tembus oleh musuh. Bilamana kaum muslimin tidak ada satupun yang menjaga daerah perbatasannya, baik ia tentara/sipil, maka seluruh kaum muslim akan berdosa.

Upaya dalam menjaga wilayah perbatasan yaitu dengan membentuk pasukan Murabithun (orang yang menjaga wilayah perbatasan). Dalam hal ini Khalifah akan menempatkan pasukan Murabithun di sejumlah perbatasan perbatasan negara, dengan dilengkapi oleh pembekalan persenjataan perang yang canggih lagi unggul. Sehingga kekuatan pasukan akan menggetarkan pertahanan musuh. Allah SWT berfirman; “Dan persiapkanlah olehmu segala macam kekuatan apa saja yang kamu miliki dari kuda kuda yang ditambatkan untuk menggetarkan musuh musuh Allah dan musuhmu.” (QS. Al Anfal: 60)

Khalifah akan senantiasa berinovasi dalam mengembangkan dan menciptakan industri persenjataan perang agar mampu menandingi bahkan melebihi kekuatan musuh seiring perkembangan zaman.

Di samping itu adapun bagi mereka yang menjaga wilayah perbatasan(Murabithun) akan mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. Dari abu umamah ra Rasul SAW bersabda; “Sesungguhnya sholatnya Murabithun itu sama dengan sholatnya orang lain 500 kali dan infak 1 dinar/dirham lebih utama 700 kali dinar yang diinfakan orang lain. Juga sabda Rasul SAW; ” Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka adalah mata orang yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di perbatasan di jalan Allah SWT.” ( HR. Tirmidzi)

Sehingga negara akan menjadi sebuah negara yang berdaulat, mandiri, dan mempunyai peradaban cemerlang. Oleh karenanya negara seperti ini tidak akan ada, kecuali Khilafah tegak kembali di buka bumi ini. Khilafah yang lebih dari 1300 tahun menguasai dunia, yang mempunyai peradaban yang disegani dan ditakuti oleh kaum kafir penjajah.
Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *